9. Momon

1335 Kata
“Apa jangan-jangan lo suka ama gue?” Senyum Clef terurai tipis, namun manis. “Kelihatan banget, ya, emang?” Mereka lantas kembali saling menatap satu sama lain dalam beberapa waktu seperti adegan dalam sebuah drama romansa. “Berarti lo emang waras.” Moni mengibaskan rambut indahnya yang panjang berkilau itu dengan penuh percaya diri alih-alih berdebar. “Pesona gue emang membahayakan. Nggak salah kalau semua orang jatuh cinta ama gue.” Pun Clef memasang wajah bimbang. Antara dia ingin tertawa atau kecewa. “Mau kopi?” Clef menyodorkan satu cup kopi di tangannya. Moni menatap benda tersebut bersamaan dengan kenangan lama yang merasuk jelas dalam ingatan—Clef seringkali dihadiahi banyak minuman atau makanan saat bertanding ataupun latihan basket. Moni yang harus membersihkan lapangan basket indoor itu pun menemukan sisa minuman milik Clef. Dengan gilanya, Moni menghabiskan minuman tersebut dengan sedotan yang sama—sedotan yang sudah terkontaminasi bibir manis Clef. Secara tidak langsung, mereka pernah berciuman? Moni seketika muak dengan kenangan itu. Ia merutuki diri dalam diamnya. Kemudian berusaha untuk tenang. “Lo kalau mau nawarin kopi harusnya bawa dua cup, dong. Itu, kan, punya lo!” “Kenapa?” Clef justru menyeruputnya. “Lo pikir gue apa? Jangan mentang-mentang gue pernah suka sama lo dan lo kepedean sampai detik ini!” sungut Moni. “Bercanda,” ujar Clef menampilkan wajah imutnya. “Ya, kali. Gue juga lebih suka Milo dari pada kopi.” “Ah, udah, ah. Makin gila gue di sini.” Moni berbalik. Namun baru beberapa langkah, ia lantas berbalik. “Jangan ikutin gue!” Pun Clef hanya menempatkan satu tangan di saku celana, sementara satu tangan lainnya melambaikan tangan pada Moni. Lantas giliran Clef yang melambungkan kenangan lawas saat memandangi punggung perempuan tersebut yang masih nyata di pandangannya. Ia ingat betul, Moni seringkali menaruh minuman Milo di tas. Berbeda dari yang lain yang hanya meletakkan di pinggir tas. Tapi Moni melewati batas. Alih-alih marah, Clef justru tertawa. Apalagi Moni menempelkan kertas di depan kotak minuman tersebut, From: Momon—lalu diimbuhi gambar hati yang lucu. Seketika tawa Clef tergugah. Kemudian menatap perempuan itu yang semakin jauh dari pandangannya dengan manis. “Moooo… mon~” seru Clef dengan nada-nada asal. Pun perempuan itu mendengar. Ia tertegun dalam diam dengan mata yang membelalak. Hatinya berdebar—bukan, bukan karena jatuh cinta, melainkan ia mendadak malu sekali. Ternyata Clef banyak mengingat tentangnya. Mengingat kegilaannya di masa lalu. “Issh!” Moni berdecak kesal. Ia lantas membuka satu heels. Bersiap untuk melayangkannya bersamaan dengan tubuhnya yang ikut berbalik. Hendak menyerang pria itu. “Miss Moni!” Moni seketika membeku. Perlahan menoleh dan tertawa canggung saat menghadapi muridnya. “Koa?” Lantas merasa heels di tangannya menjadi perhatian, perempuan itu pun mencari jalan. “Ah… tadi ada kerikil nyelip di sini.” Moni memeriksa alas kakinya sambil sesekali melirik Clef yang sedang tertawa usil sekilas di seberang, lalu pergi begitu saja. “Kenapa, Koa?” tanya Moni dengan sangat ramah seolah tak da yang terjadi. “Ini udah jam kelas. Saya mau jemput, Miss.” “Ah!” Moni menengok arlojinya. “Iya. Ayo!” Dalam langkahnya menuju kelas, Moni terus menggerutu, memaki Clef yang telah menyita waktu berharganya. ^^^ Moni memainkan jemarinya di atas kibor, sementara murid-murid menyanyikan lagu yang ditentukannya bersama-sama secara kompak. Bahkan lagu yang dipilih juga lagu yang mudah sehingga dapat dijangkau seluruh murid. “Bagus!” Moni bertepuk tangan. “Coba barisan A! Sama-sama ya, jangan lupa pakai breathing technic yang Miss ajarkan. Miss juga nggak kasih instrument. One, two, three~.” Lantas Moni mendengarkan suara merdu murid-muridnya dengan antusias. Ia sangat dicintai anak-anak karena sangat berdedikasi, semangat, selalu memberikan pujian di samping tetap memberikan kritik dan saran yang membangun. “Mantap!” Moni mengacungkan ibu jari. “Menyala Tim A!” “Menyala, Miss Moni!” seru murid-murid membuat Moni semakin tertawa. “Kok keren banget, sih?” “Kita semua ikutan kelas vokal di tempat uncle-nya Koa, Miss.” Moni membelalak. “Beneran?” “Iya, Miss. Kan, Saya pernah cerita kalau uncle punya tempat les musik.” “Ah…” Moni menjentikkan jemarinya. “Miss, lupa. Berarti keren banget itu tempat les uncle kamu. Yang lain mungkin juga bisa sambil join di sana. Apalagi buat kalian yang mau serius di bidang ini. Coba apa nama akademinya?” “Riff’s Music Academy.” Moni tertegun sambil melangkah menuju mejanya. Ia memiringkan kepala sambil menerka sesuatu. Rasanya nama itu tampak tidak asing. “Oke…” Moni menepuk tangannya. “Berhubung Laura udah meningkat banget ini vokalnya. Coba, Miss mau dengerin lagi, Laura nyanyi sendiri.” ^^^ Cakka sedang mendampingi dua murid yang sedang berada di kelas keyboard—setelah pindah lokasi akademinya, agaknya sudah mulai kembali ada murid yang berdatangan. Terlebih Cakka mendapatkan dampak dari keberadaan Koa dan lokasi gedung dekat tempat tinggal sang kakak yang lumayan elit. Meski begitu, Cakka masih berusaha sendirian. Dan sepertinya semakin lama, ia juga akan kewalahan jika muridnya terus bertambah walaupun dia menguasai segala jenis alat musik dan bernyanyi. Berhubung keduanya memulai dari awal, Cakka mengajari dengan telaten mulai dari cara memosisikan tangan. “Coba kalian ceritanya lagi pegang telur.” Cakka mengambil bola tennis yang kebetulan ada di ruangan itu—entah asalnya dari mana. “Kaya gini… Coba kalian gentian satu-satu.” Cakka berusaha membiasakan murid-muridnya itu dan mencoba mempraktikannya di atas keyboard. Dia sangat lembut dan sabar dalam mengajar. Sesekali Cakka mengintip ponselnya yang sampai detik ini belum juga ada kabar dari sosok yang ia tunggu. “Apa mungkin aku nggak perlu ngarep, ya? Orang biasanya cuma basa-basi doang.” Ia menutup ponsel dan memutuskan untuk fokus mengurus anak didiknya. ^^^ “Apa ini?!” seru Nada terkejut melihat Moni bersama mobilnya telah berada di depan kantornya. Moni membuka kaca jendela. “Ayo, naik! Dipikir-pikir gue belum traktir lo setelah dapat bayaran gede.” Nada tersenyum usil. “Dari Clef?” “Oh.Interior!” tegasnya. Nada tertawa. “Tapi gue juga bawa mobil.” Pada akhirnya mereka pergi ke satu tempat makan dengan dua mobil terpisah pada sore menjelang malam—di akhir hari yang melelahkan setelah perjuangan kedua perempuan itu di Ibu Kota. Untuk melepaskan hormone kortisol setelah bekerja keras, Moni mengajak Nada untuk menikmati akhir hari tersebut di sebuah restoran yang agaknya cukup meneduhkan. Suasana lain di tengah kota. Yakni restoran yang bertemakan suasana Bali. Mengusung konsep ala taman tropis Bali, Jimbaran Outdoor Lounge nampak begitu menyejukkan pengunjungnya melalui hamparan pepohonan serta beragam tanaman tropis. Belum lagi ditambah dengan suara gemericik air kolam buatan yang berada di bagian tengahnya. Untuk mengangkat tema moderen kontemporer, diperlihatkan dengan penataan tempat duduk serta jembatan yang terbuat dari rotan dan juga kayu, sehingga kesan lounge jauh lebih santai. Sedangkan untuk mendapatkan kesan ceria, ditambahkan detail-detail kecil seperti pemilihan bantal, sofa, lampion serta lampu-lampu kecil yang berwarna-warni menjelang malam. “Apa?!” Nada hampir menyebur minumnya saat mendengar kisah Moni. “Clef ada projek di sekolah lo?” Moni memijat keningnya yang berdenyut bersamaan dengan pelayan yang membawakan pesanan makanan mereka. “Jangan-jangan sekarang dia suka sama lo beneran lagi?” terka Nada. “Gue emang memesona.” Di tengah kesal pun, Moni masih penuh percaya diri. “Gue serius, Nyet!” Nada kesal. “Trus gimana?” “Apanya yang gimana? Dia juga udah dapat projek ini dari sebelum balik dari Aussie.” “Bisa jadi dia udah stalking elo!” “Nggak tau, lah. Lagian dulu pas SMA yang suka sama dia banyak banget. Kenapa harus gue?” Moni mengaduk-aduk minumannya asal. “Karena lo paling gila!” Seketika Moni melemparkan tatapan belati yang segera diantisipasi dengan tawa Nada. “Siapa tau ke-gilaan lo di masa lalu bikin dia penasaran,” kekeh Nada. “Misal… dia suka sama lo, lo gimana?” Lantas mengalihkan dengan kemungkinan lain. Moni tak langsung menjawab. Ia menekuri lantainya sambil membayangkan kepingan ingatan di masa lalu yang masih seutuhnya jelas. “Enggak.” Nada melebarkan matanya. “Momon?!” “Apa?!” tantangnya. “Lagian ini perumpamaan doang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN