bc

Best of Me

book_age18+
398
IKUTI
4.6K
BACA
love after marriage
goodgirl
self-improved
confident
drama
sweet
realistic earth
wife
husband
substitute
like
intro-logo
Uraian

Inara Kalea Nuri, seharusnya dia menikah dengan kekasihnya yang sudah dipacarinya tiga tahun ini tetapi, tiba-tiba saja di H kabar buruk datang. Orang tuanya mengatakan pria itu kabur bahkan, tanpa sebab. Inara ingin menangis, meraung sedih tetapi, harga dirinya tidak membiarkannya dia bertahan. Karena sikapnya inilah calon mertuanya melihatnya malah sangat rapuh dan tidak tahan membiarkannya pergi menjanda sebelum menikah.

Ravindra Malik. Pria yang harus kalah dengan keinginan sang Mommy juga wanita lainnya. Karena tekad kuat serta tiupan lembut ditelinga semua orang Ravindra terjerat menikah dengan calon adik iparnya. Wanita yang bahkan, hanya satu dua kali dia temui saat pertemuan keluarga. Hidup terlalu mempermainkannya yang kira dia tidak mau tetapi akhirnya menjadi dan bersedia. Sedangkan, yang sudah dikira menjadi tidak pernah ada.

Inilah, kisah cinta dua orang manusia yang bersedia membuka hati dalam pernikahan meski, bukan dengan orang yang dicintai. Lalu, bagaimana akhirnya jika, cinta masa lalu mereka masing-masing kembali datang tanpa terduga mulai mengusik cinta mereka yang bersemi. Haruskah bertahan atau digugurkan saja sebelum berkembang???

chap-preview
Pratinjau gratis
Kabar Buruk : Ditinggal Pergi!
Waktu seakan membeku dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Suasana yang sebelumnya penuh binar cerah berubah menjadi kelam setelah kabar buruk datang, yang sudah seperti badai di musim penghujan. Angin kencang di tambah guyuran hujan air mata berkeliaran disekitar itu suara tangis ibunya. Perasaannya bertambah dingin seolah ada benda tak kasat mata menusuk hingga menyelusup arteri kulit dan masuk ke nadinya hingga sampai di jantung. Sungguh sakit dan rasanya akan sulit terobati. Bagaimana rasa sakit ini mencekiknya tanpa tahu cara melepaskannya. Aliran darah yang mencengkeram kuat membuat nyeri menyesakkan. Inara menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya gemetar lemas dan tak sanggup mengepal. Sedangkan rasa sakit didadanya terus meremas tak karuan. Dia juga ingin mengeluarjan air matanya tetapi, demi melihat ibunya yang lebih dulu menangis. Dirinya tidak sanggup, digelengkan kepalanya menolak terpuruk dengan kabar yang didengarnya, masih ada keyakinan kekasihnya tidak mungkin melakukan hal jahat seperti ini. Kembali dia memasang wajah yang tersenyum. Senyuman dingin tak tersentuh ketulusan "Ma, itu ngga mungkin, kan? Elvan cuma terlambat. Dia gak bakal kabur seperti ini, kita tunggu saja. Semuanya jangan nangis!" pungkasnya meyakinkan dirinya sendiri dengan kata-kata nya penuh kesabaran meski, senyuman dibibirnya sudah retak karena jelas terlihat gemetar di ujung bibirnya. Yah, tidak mungkin calon suaminya, kekasihnya siang malam selama tiga tahun. Bagaimana mungkin dia tega menggagalkan rencana pernikahan yang mereka buat bersama-sama. Ini pernikahan impian mereka, bukan hanya dirinya tapi juga Elvan. Bahkan, gaun pengantin yang sedang dikenakannya juga jas pernikahan Elvan dia yang rancang dan buat sendiri. Semua kerja kerasnya?! Inara, Mommy minta maaf. Deswita, Ibu kandung Elvan menggapai kedua tangan Inara meremasnya lembut dengan mata yang sama berkaca-kaca. Kalau ajamemang begitu. Mommy tidak akan malu buat memukulnya di depan kamu. Gimana dia bisa buat kamu dan kita semua nunggu. Jadi, Inara. “Mom, Elvan pasti cuman terlambat, jangan khawatir.Sahut Inara palsu, ia hanya ingin memberi harapan pada dirinya sendiri. Deswita menggeleng, meremas tangan Inara lebih hangat. Mommy, gak percaya sama aku? tanyanya kali ini dengan tatapan bingung. Deswita menatap Inara yang sangat cantik dengan rias pengantin belum lagi, balutan gaun kebaya putih semakin membuatnya memesona. Calon menantunya yang malang. Deswita merasakan kepalanya berdenyut pusing memikirkan anak bungsunya yang harusnya berada di sini dan menikah tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Lalu, terpaksa demi Inara yang terus menyangkal, dia harus lebih jujur, Kami sudah mencarinya semenjak ia menghilang sampai- sampai tidak tau lagi mau cari anak itu di mana? Harapan Inara mengempis tetapi, senyum masih melekat di bibitnya hanya isi pikirannya yang berubah jadi desakan pertanyaan. Sebenarnya apa, kenapa dan bagaimana mungkin kekasihnya menghilang di saat seharusnya mereka menikah? Tidakkah mereka masih baik-baik saja sebelum hari ini. Sekali lagi dia menyangkal dengan bodohnya, Tidak mungkin Mom, tidak mungkin Elvan pergi jauh dia pasti di suatu tempat. Mungkin sesuatu terjadi padanya? Tidak ada yang benar-benar terjadi padanya, Inara. Dia hanya pergi, ujar Ravindra Malik, kakak dari Elvan. Pria tampan itu berjalan ke arahnya dan berdiri di depannya dengan tampang datarnya. Seakan mengatakan dia juga sama tak percayanya dengan apa yang dilakukan adiknya sendiri saat ini. Emosi kemarahannya pun meluap hingga, tanpa sadar diremasnya selembar kertas dari tangannya sebelum akhirnya ia memberikannya Inara. Bacalah! Hanya ini yang ditinggalkan si berengsek itu. Tangan Inara sedikit gemetar menerima remasan kertas tersebut. tidak cepat atau lambat dia segera membukanya. Tidak mungkin salah ia mengenal jika, tulisan itu memang milik Elvan. Dalam sekejap mata saja dirinya sudah selesai membaca. Tak banyak kata yang tertulis, bahkan tidak ada alasan jelas dan hanya sebuah pernyataan maaf yang tidak dibutuhkannya saat ini. Inara tidak lagi bisa berkata-kata hanya bisa menahan dirinya untuk tidak luruh jatuh di lantai. Mempermalukan dirinya lagi lebih jauh. Inara! seru Ravin memegang lengannya karena melihatnya hampir terhuyung. Tenanglah! Jangan jatuh. Inara menggeleng menghempaskan tangan Ravin, mundur beberapa langkah menjauh ke sudut untuk merenung sendiri sambil bertanya-tanya pada diri sendiri seolah terguncang dan Apa yang salah? Kenapa Elvan pergi di saat seperti ini. Dia ninggalin aku, gak peduli bakal gimana aku jadinya?! Bagas fatih tidak tahan melihat putrinya, Inara. Terpuruk di hari yang seharusnya paling membahagiakan baginya.Tatapannya tajam jatuh pada calon besannya terutama pada Adibrata yang, merupakan kepala keluarga Malik, ayah dari calon menantunya yang kabur. Pria sombong itu ternyata tidak mengatakan apapun bahkan, tidak minta maaf. Ia geram tak bisa menahan ucapannya, “Adibrata bagaimana kamu mempertanggungjawabkan hal ini?! Bagaimana bisa kamu bisa biarin anak kamu pergi disaat seharusnya dia nikah. Apa dia memang hanya ingin memepermainkan kami ? Bukan hanya itu putriku ... bagaimana bisa aku tahan melihatnya sesakit ini?! ucapnya dramatis di akhir. Kedua kepala keluarga itu saling menatap. Bagas dengan tatapan sengitnya dan Adibrata yang berwajah datar menyembunyikan emosinya di bawah kulit wajahnya. Perasaannya sama kesal dan geram, hingga ia tidak berani mengeluarkan suaranya. Maaf, aku tahu. Seperti kamu Gas dan Inara. Aku juga kecewa dan gak akan mudah maafin dia meski, dia juga anakku. Putra bungsunya sungguh sangat mengecewakannya menambah rasa malu dari apa yang pernah didapatkannya dulu. Tidak pernah mereka sangka bagaimana anak yang dimanjakan dan menjadi harapannya --setelah putra sulungnya, Ravindra yang keras kepala dan selalu berbuat sekehendaknya-- bisa berbuat seperti ini. Padahal dia awalnya Elvan selalu jadi, anak yang patuh dan baik hati dan gak pernah buat masalah tetapi, sekarang begitu berani mempermalukan mereka dengan pergi di saat acara pernikahan tanpa alasan jelas seolah, melemparkan kotoran tepat di depan wajahnya. Inara. Deswita tidak bisa diam saja, otaknya berputar mencari solusi. Dia juga tidak bisa menanggung malu kedua kalinya, di mana semua orang akan menggungjingkannya dan keluarganya karena kedua anaknya gagal menikah. Yang satu ditinggal pergi sedangkan, yang lain meninggalkan. Kehidupan gila apa macam ini! makinya dalam diam. "Deswita, aku kecewa, ujar, Farah ibu dari Inara. Inara, ayo, kita pergi! Kita gak bisa dipermalukan lebih dari ini. Kalianlah yang harus bicara dengan para tamu undangan. Ini bukan kesalahan Inara tapi, hiks!.. Jangan pergi, Farah! Deswita cemas mendekati mereka dengan cepat. Ia tidak bisa membuat pernikahan dikeluarga mereka batal kedua kalianya, terlepas dari apapun ia sangat menyayangi Inara dan sangat berharap ia menjadi menantunya, bagian dari keluarganya. “Deswita, kita udah gak bisa bicara apa-apa lagi. Farah menepis tangan Deswita berjalan ke arah putrinya, yang masih menunduk sedih dengan tatapan jatuh kertas yang tidak berguna itu. Ayo, pulang! Farah melemparkan kertas dari tangan Inara, menggengam tangan putrinya untuk bangun dan berdiri. Melihat wajah putrinya yang kosong, membuatnya tidak bisa tahan dan menangis lagi. Dia peluk tubuh Inara yang kaku, jelas semua ini pasti membuat shock putrinya. “Elvan sialan! Berani-beraninya! Inara tidak berani mengungkapkan kekecewaan dia hanya bisa melampiasaknnya hanya dengan terus memaki mantan kekasihnya itu dalam hati. Matanya bergerak melihat kedua keluarga itu, mereka sedih dan merasa tidak berguna berapa banyak usaha yang mereka lakukan untuk pernikannya ini. Elvan, semoga hati kamu mati! “Kumohon, Farah, Inara Sayang. Mommy masih punya cara yang lebih baik?! Pinta Deswita di samping Ibu dan anak yang sedang berpelukan itu. Tidak lupa dia juga menatap ketiga anggota keluarga tersebut. Aku tidak mau Inara pergi. Dia udah jadi menantuku, Farah. Aku juga sayang Inara kayak putriku sendiri. Jadi, jangan pergi seperti ini. Dengarkan aku dulu! Aku punya solusi. Farah menghapus air matanya. Inara hanya masih terguncang dan hanya bisa diam ketika calon ibu mertuanya. Menghapuskan air matanya dengan sangat lembut dari pipinya. Kamu gak boleh nangis, riasan kamu udah sangat cantik. Ini hari bahagia kamu, kelak jangan beri maaf Elvan tapi sekarang, Mommy janji bakal buat kamu bahagia. Mom, lirih Inara menyarangkan pelukan ditubuh Deswita. Calon mertuanya juga sangat baik, di mana dia bisa menemukan ibu mertua seperti ini. Hati Inara sakit lagi berkali-kali lipat. ‘Kenapa kamu pergi, Van? Kenapa buat aku jadi begini? “Tenang, Sayang. Kamu gak bisa nangis karena sedih. Ini harus jadi hari bahagia kamu. Farah sekali lagi menghapus air mata Inara bahkan, mengecup keningnya sayang. Menunjukan kalau dia bener-bener sayang dengan calon menantunya itu. Melihat hal itu juga, Farah yang masih berdiri di samping mereka terenyuh. Deswita masihlah terbilang sahabat lamanya, dia tidak bisa membencinya sepenuhnya karena apa yang diperbuat putranya. Dia sudah sangat baik pada Inara tetapi, hanya calon menatunya yang mengecewakan di akhir. Deswita, apa rencana kamu? tanyanya kini lembut dan tenang. Deswita berbalik tersenyum lalu, memegang tangan Farah setelah itu dia juga menatap semua orang yang berada di kamar rias pengantin ini. Ini semua yang aku lakukan adalah demi kehormatan keluargaku juga jadi, kuharap semua orang di sini bisa setuju. Pernikahan hari ini bakal terus berjalan."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook