Malam pertama!

2037 Kata
“Ravin, kamu gak mau bermalam di sini aja?” tanya Deswita dengan hati menyayangkan padahal mereka sudah menyewa suit hotel ini untuk ditinggali para pengantin baru. Sebelumnya ini dipersiapkan Elvan dan Inara tetapi, sepertinya hanya jadi seperti ini. “Ngga,” jawab Ravin menggeleng sambil masih sibuk dengan ponselnya. Ia tengah duduk santai setelah kelelahan sepanjang hari. Mereka berkumpul di ruang tamu suit hotel, menunggu Inara yang masih dikamar sedang menghapus make-up dan berganti pakaian terlebih dulu karena Ravin akan langsung memboyongnya ke apartemennya sendiri. Deswita bukan seorang ibu yang bisa sabar dan tenang menunggu, dia kini setengah kesal dan penasaran dengan sikap Ravin, anaknya itu menolak untuk tinggal di hotel yang sudah mereka persiapkan. Setelah selesa Bukan sayang uang, hanya sayang jika, mereka tidak menikmati malam pertama mereka bukankah seolah pernikahan ini hanya palsu. Deswita takut Ravin akan berbuat macam-macam padahal satu macam aja cukup, yaitu lakukan malam pertama dan pernikahan itu jadi sempurna. “Ravin,” panggil Deswita kembali. “Apa, Mom?” jawab Ravin, kali ini dia sudah selesai dengan ponselnya dan tengah memasukkannya ke dalam saku celananya sambil menatap focus ibunya. “Gimana kalau kalian tinggal bareng Mommy dan Daddy aja, biar rame gitu! Sekarang Mommy punya mantu—“ “Eh, Besan kok gitu,” sela Farah tidak ingin kalah. “Vin mending kamu tinggal sama Mama dan Papa aja. Mama ini sebenernya gak bisa tahan tinggal Inara sehari aja …dia’kan putri kami satu-satunya.” “Ngga, Farah. Istri itu harus ngikut suami dan keluarganya,” balas Deswita yang juga tak mau kalah. “Jangan khawatir Inara bakal baik-baik aja di rumahku. Aku ini bakal jadi mertua yang paling baik dari yang terbaik.” Ravin hanya memutar bola matanya mendengar pernyataan dua ibunya itu. Keputusannya sudah bulat dia hanya akan membawa Inara ke apartemennya jika, Inara tidak mau dia juga tidak akan keberatan untuk memaksanya. Seorang istri memang harus mengikuti suaminya. “Inara bakal ikut aku tapi, kalau Mommy dan Mama emang ingin tinggal bareng kita juga boleh. Aku sediaiin nanti.” “Mom, Ravin udah punya tempat tinggal sendiri. Wajar kalau dia ingin bawa Inara langsung ke sana. Udah kamu sama Farah, jangan bikin repot biarin mereka tinggal di mana jadi, urusan mereka berdua jangan terlalu ikut campur,” ujar Adibrata yang sangat tahu sikap keras kepala istrinya yang Dari balik pintu kamar, Inara mendengar semuanya. Sebenarnya dia juga tengah berada dalam dilemma hati antara siap dan tidak meyakini jika, kini ternyata yang menjadi suaminya bukanlah orang yang dia cintai selama tiga tahun ini. Rasanya terlalu sakit untuk diingat dan dibayangkan apa yang sudah dia lewati hari ini. “Gila! Rasanya pecah tengkorak, Elvan sialan!” geram Inara sambil berjongkok ketat dan menjambak rambutnya kesal. Inara mendongak setelah bisa mengendalikan dirinya. “Aku udah ngambil keputusan dan jalan ini. harusnya aku gak boleh nyesel! Tenang Inara, tenang. Yakinlah, Mas Ravin bisa seratus bahkan seribu kali lebih baik dari Elvan si berengsek itu.” Setelah mengucapkan kata-kata itu Inara menarik napasnya memperbaiki letak sweater-nya yang kusut lalu, hendak berbalik pergi tetapi tatapannya jatuh pada ranjang ditengah ruangan tersebut, yang sudah dihias bunga mawar. Berbalik, Inara berjalan kearah ranjang tersebut. Berdiri di sana mengamati ranjang putih yang bertabur bunga Mawar berbentuk hati dan diatasnya terdapat handuk yang dihias dua angsa putih dari handuk. Spesial, mereka memesannya untuk malam pertam. Miris, bibir Inara tersenyum sini masih berpikir jika, seharusnya, malam ini dia dan Elvan di atas ranjang ini akan melewati malam yang panas dan akan sangat berkesan sepanjang masa. “Menjijikan!” kesal Inara sambil menarik seprai di sana dan membuat kelopak-kelopak bunga Mawar itu berhamburan ke mana-mana bahka, tidak tertinggal dia juga menginjak-injak sepasang angsa putih dari handuk sampai tidak berbentuk lagi. “Aku gak bakalan maafin kamu meski, berlutut minta maaf. Lihat saja!” setelah meluapkan amarahnya, Inara segera menarik napasnya dalam-dalam menetralkan emosinya dan siap berjalan keluar kamar sambil menarik bagasi kopernya. “Aku udah siap!” Ravin mengangguk, “Ok! Ayo, pergi sekarang.” “Kalian beneran gak mau tinggal di sini dulu atau ke rumah salah satu dari kami?” tanya Deswita masih belum menyerah dengan usulannya. “Ngga, Mom,” jawab Ravin pasti sambil menarik bagasi koper Inara. “Kalau mau kalian aja di sini hitung-hitung honeymoon lagi. Terus, rame juga, kan kalo double date. Ya, sudah kami pergi! Caoww…” Ravin berlalu dengan gaya tengilnya, menggoda kedua pasang orang tua itu. Inara juga tidak bisa tidak dibuat tersenyum, melihat suaminya sudah berjalan ke pintu dia juga segera berpamitan pada kedua orang tuanya dan mertuanyan dengan mencium pipi mereka. “Kami pergi, yah?! terima kasih buat semuanya, dah!” ucap Inara sambil berlalu setengah berlari menuju Ravin yang sedang menunggunya di depan pintu. “Hati-hati, Sayang! Segera hubungi Mama jika, sudah sampai sana!” “Iya, Ma.” “Ravin, jaga Inara dengan baik! Kamu harus bersikap lembut, jangan terlalu nakal!” “Mom!” sahut Ravin lelah dengan tingkah ibunya. Yang malah dibalas cengiran oleh Deswita karena senang berhasil membuat anak sulungnya kesal. Ravin dan Inara berjalan beriringan, baru kali ini mereka benar-benar berdua dan itu sedikit canggung. Keduanya hanya diam saat menyusuri lorong hotel sampai ke lobi baru setelah, sampai sana Ravin membuka mulutnya. “Kamu tunggu disana aku ambil mobilnya.” Tunjuk Ravin di depan “Eh, kenapa gak suruh vallet aja.” “Ah, iya?! Ya, sudah ayo,” jawabnya benar-benar berasa bodoh. Salahkan rasa gugup dan canggungnya. Inara sedikit memberi jarak saat melangkah dengan berjalan dibelakang tidak bisa menahan senyum melihat kecanggungan Ravin tetapi, sesuatu menyadarkannya. Inara menampar dirinya sendiri. ‘Sadar, ngapain kamu senyum, heh? Kamu seneng, kamu bahagia gitu nikah sama orang yang harusnya jadi calon kakak iparmu? Sadar Inara!’ “Inara! Kamu sedang apa, Ayo!” “Ah, Iya, Mas!” sekejap mata Inara datang menghampiri. ** Kurang dari satu jam Ravin dan Inara baru sampai di apartemen. Sejak berada di dalam keduanya pun masih minim berbicara, tidak ada pembicaraan apa yang terjadi sebelumnya atau apa yang akan selanjutnya keduanya lakukan. Beberapa kali Inara melirik Ravin, bibirnya bergetar ingin berbicara tetapi, tetap saja tidak ada topic yang bisa mereka bagi. Begitu juga saat ini Inara sangat bingung harus mengatakan apa. Inara berdiri di tengah-tengah ruangan apartemen Ravin. Pria itu baru saja membawanya masuk dan meninggalkannya di ruang tamu dengan keadaan canggung. Bahkan, kopernya lebih berharga dari dia yang sejak tadi seperti diabaikan sedangkan, kopernya dia jinjing dengan santai dan dibawa bahkan, sampai ke kamar. “Ah, kamar?” Kening Inara mengerenyit, sedikit khawatir dan bingung harus seperti apa. Dadanya mulai berdebar sangat kencang, bergerak gelisah dan seperti sudah menjadi kebiasaanya. Dia berjongkok dan tangannya bergerak dengan mulai menjambak-jambuk rambutnya frustrasi. “Aaah, apa yang harus aku lakuin? Ini malam pertama kami…aku bisa gila hanya dengan memikirkannya. Aku harus bicara dulu sama … Mas Ravin!” “Kamu lagi ngapain, hah? Masuk kamar sana, istirahat atau mau makan cemilan malam?” tanya Ravin kini dengan santai melewatinya menuju pantry. “M-mas.” “Ya?” “B-begini! Bisa kasih aku waktu?” Inara menguatkan dirinya, mencengkeran kuat sweternya agar dia merasa lebih berani untuk bicara. “Kasih waktu?” Ravin sedikit heran, kening berkerut. “Kasih waktu buat apa?” “I-itu, Mas,” jawab Inara sangat gugup sambil memejamkan matanya, dia membuka mulutnya lagi dan berbicara dengan lantang. “Ini soal malam pertama kita, aku butuh waktu?!” “Oke, aku juga gak terburu-buru, kok,” balas Ravin dengan senyum simpulnya. Mendengar jawaba Ravin, Inara berani mengangkat wajahnya dan membuka matanya hanya untuk melihat ekspresi suaminya kini. “Mas, sungguh gak keberatan?” “Hm…,” Ravin ingin menggodanya tetapi, melihat wajahnya segera berubah panic. Diurungkannya hal itu. “Iya, gak masalah! Kita bakal punya waktu ntuk lebih dekat setelah hari-hari ini. Lebih baik sekarang kamu istirahat pasti sangat melelahkan dan berat buat kamu.” Inara mengangguk, menyetujui kata-kata Ravin. Memang benar ini pertama kalinya sepanjang hidupnya menemui hari berat dan melelahkan. “Makasih, Mas! Atas pengertiannya. Aku janji akan belajar jadi istri yang baik buat kamu setelah ini.” “Aku tunggu!” Sungguh jawaban yang mengejutkan,bagaimana apa yang dilontarkan Ravin kini terasa membebaninya sekaligus tidak menyangka jika, pria didepannya yang sudah menjadi suaminya itu bisa mengatakan hal semudah tetapi, bingungnya pikiran Inara dia masih harus memberinya senyuman kecil sebagai tanda persetujuan sementara. “Kalau begitu, di kamar mana aku tinggal?” “Itu!” tunjuk Ravin dengan dagunya sedangkan dia sedang asik menuangkan minumannya, tidak hanya untuknya dia juga mempersiapkan untuk Inara. “Yang di sana?! Yang baru aja Mas masukin tadi?” “Hm, nah, ini minum dulu?! “Terima kasih.” Inara tidak menolak dan bersyukur tenggorokannya memang sedang gatal dan kering tapi, … kenapa harus minuman soda? Tetapi, karena ini pertaman kalinya Ravin memberinya minum secara langsung membuatnya tidak kuasa menolak. Setelah menyelesaikan minum cola-nya, Inara segera undur diri pergi ke kamarnya dan tidak sampai menit ke lima. Inara berlari keluar dengan tatapan mata bingung. “Mas, Mas! Itu kamar kamu, kan, Mas? Aku gak bisa pake kamar Mas, lebih baik aku pake kamar tamu yang ada. Tidak masalah meski, lebih kecil.” “Gak ada kamar lain. Jadi, biasain aja kita tidur satu kamar dalam satu rumah juga. Ingat kita udah nikah!” “A-aku gak lupa tapi, Mas bilang …aku bisa. K—kita tidak akan satu kamar.” “Apa aku ada bilang. Kalau kamar kami terpisah?” Inara mengingat-ingat dan memastikannya sendiri yang akhirnya membuatnya menggeleng . “Kalau begitu, Ngertikan?!” Tiba-tiba, Ravin berdiri di hadapan Inara. Tersenyum lembut sambil menyentuh rambut hitam Inara yang sehitam arang sampai ujung dagunya untuk sedikit diangkatnya. “Aku bakal sabar,kok! Kalo soal malam pertama kita. Yang itu bisa kutunggu tapi, untuk hal lain apalagi hal sepele kita sekamar atau gak? Kamu yang harus cepet biasain karena gak ada alasan lain kalau kita harus pisah kamar.” “Tapi, aku masih belum siap dan pastinya gak nyaman. Aku masih harus nyiapin hati aku dulu,” jawab Inara kali ini cukup tegas. Dia rasanya tidak akan sanggup tinggal dengan seorang pria yang masih sangat asing, semua ini masih sangat canggung meski, sekarang pria di depannya ini sudah menjadi suaminya. “Jadi, Mas malam ini aja …” Namun, siapa peduli. Ravin mengangkat bahunya tidak peduli sambil berlalu pergi. “Ngga, ada kamar lain! Tapi, kalau kamu segitunya gak mau tidur satu kamar … terserah saja tidur di mana kamu merasa nyaman.” Kyutt! Rasanya hati Inara menjadi menciut, mendengar jawaban tak acuh seperti itu meski, tidak takut tetapi rasanya tak nyaman. Dengan keberanian yang tidak seberapa Inara berjalan mengikuti Ravin masuk kamar, dia akan mencoba. Pernikahan ini sudah jadi pilihannya, tidak baik baginya karena masalah sepele semua ini berakhir. Lelucon apa lagi yang akan orang lain terima dari kisahnya seperti ini. Klik! “Mas, aaaah!—“ “Aaakh!” Mendengar jeritan Inara, Ravin ikut-ikutan menjerit karena latah dan terkejut. “Ya, ampun kenapa teriak, sih?! Aku juga jadi kaget sendiri,” dumel Ravin setelah berhasil mengendalikan diri. “M-mas, pake baju dulu!” ucap Inara sedikit mengintip dari sela-sela jarinya. Baru saja dia terkejut karena saar masuk kamar dia malah melihat Ravin yang sedang membuka pakaian. “Ishh, aku mau mandi, masa harus pake baju?” “Lalu, kenapa gak buka bajunya di kamar mandi?!” Inara sedikit berteriak dengan wajah sebal dan mendelik lalu menjerit lagi. “Aaaakh! Mas Ravin pake bajunya dulu.” “Aaah, Au ahhh! Aku mau mandi!” sebal Ravin yang terus mendengar teriakan Inara dan pergi melengos begitu saja masuk kamar mandi. Inara membuka matanya, menurunkan telapak tangannya dan menarik napas lega. “Ya, ampun dia gak tahu malu banget! Aku, kan baru aja jadi istrinya …kenapa gak pengertian sama sekali?! Apa begini sifat aslinya? Ih, i-itu, kan nyebelin banget.” “Inara!” Tiba-tiba saja kepala Ravin muncul dari celah pintu kamar mandi dan terlihat bagian atasnya toples entah, bagian bawahnya. “Bukannya kamu gak mau sekamar, hm? Ngapain masuk sini lagi?” Inara melotot, tidak suka ditantang. “Kata siapa? Aku bakal tidur di sini!” Ravin tersenyum puas lalu kembali masuk kamar mandi tanpa mengatakan apapun sedangkan, Inara berbalik menyembunyikan wajahnya berlari ke ranjang dan berguling-guling.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN