Pov Nagita “Aa, ajak Tetehnya makan. Aku sudah masak banyak tadi.” Dia tersenyum. Cantik dan dewasa. “Iya, makasih, Tania!” Bang Adrian menjawab. Aku hanya tersenyum samar. Mulai tak enak perasaan. Jangan-jangan yang dari tadi bikin aku bemood itu hanya salah paham. Dari bahasanya sepertinya mereka sangat dekat. Apa jangan-jangan mereka masih kerabatnya Bang Adrian? Kami duduk melingkari meja makan. Sudah banyak makanan tersaji. Ada cobek ikan, ada sayur talas, juga udang goreng, sambal, tumis, lalap dan kerupuk tak ketinggalan. “Mang, Bi … ini istriku. Namanya Nagita.” Pak Adrian memperkenalkanku seraya menerima piring yang diambilkan Tania. “Kenalin, Neng, Bibi Esih sama ini Mamang Anwar. Adik dari Ibu mertua kamu. Pantesan ngebet pengen mantu, cantik sama imut kayak gini rupa

