Pov Nagita Selang sekitar tiga puluh menit dari semenjak Bu Ajeng menelponku, suara sepeda motor yang disewa Pak Adrian terdengar berhenti di depan. Aku tersenyum puas karena akhirnya dia balik. Yes! Perempuan itu kalah dan aku menang! Aku bersorak dalam hati. Namun, tetap jaim, dong pas keluar. Aku jalan ke depan dan membuka pintu villa. Benar saja, Pak Adrian sudah datang. Dia baru saja turun dari sepeda motornya. Ada senyum cerah terbit dari bibirnya. Aku heran, kukira dia bakal datang dengan wajah penuh kekesalan atau setidaknya ditekuk gitu. Namun, berbeda dengan yang kuperkirakan. Dia malah tampak bahagia dengan senyum cerah berbinar. “Kok balik lagi, Bang?” tanyaku datar. Aku berdiri dan bersandar pada ambang pintu. “Hmmm … cepetan ganti baju!” titahnya. Bukannya menjawab

