bc

Terpaksa Menikahi Kembaran Kekasihku

book_age18+
581
IKUTI
4.1K
BACA
opposites attract
heir/heiress
like
intro-logo
Uraian

Dihari pernikahan, Hera menyadari bahwa mempelainya bulankah sang kekasih—Erick. Kabar hilangnya Erick tak boleh tersebar, dan pernikahan tak bisa dibatalkan. Terpaksa, Hera harus menikah dengan Felix si pria asing yang adalah kembaran dari Erick.

Dengan semua sifat romantis Felix, akankah Hera bisa mempertahankan perasaannya untuk Erick sampai kekasihnya itu ditemukan? Lantas bagaimana kelanjutan cerita rumah tangga Hera dan Felix?

#Sumer Update Program#

chap-preview
Pratinjau gratis
Pernikahan Dengan Mempelai Asing
Pernikahan adalah sebuah momen bahagia yang pasti dinantikan setiap insan. Bergandengan dengan sosok yang dicintai, mengikrarkan janji suci di depan para saksi. Namun, bagaimana dengan pernikahan yang dilakukan bersama mempelai Asing? Hera yakin, pria dengan jas hitam di ujung ruang rias itu bukanlah kekasihnya. Rupa mereka memang sama persis—mulai dari hidung mancung, pipi tirus, bibir tipis, juga rahang tegasnya pun sama. Namun, Hera sama sekali tak berdebar saat berada di sampingnya, berbeda dari biasanya. "Ada apa, Sayang? Kenapa memandangiku begitu?" Si mempelai pria berjalan mendekat, lalu belai lembut wajah Hera. Perempuan dengan gaun putih itu melangkah mundur perlahan. Tidak. Sosok itu jelas bukan kekasihnya—Erick. "Ada apa dengan suaramu?" tanya Hera. Semirip apapun rupa mereka, tetapi suara tak bisa membohongi. Erick memiliki suara ringan, sementara pria di hadapannya saat ini justru memiliki suara berat. Lantas, jika memang bukan calon suaminya, siapa pria itu? Mengapa mereka begitu mirip? "Oh, aku sangat gugup. Semalam aku menghafalkan janji suci. Jadi, sekarang suaraku serak." "Tidak mungkin. Suaramu berat, tatapanmu tajam, bahkan cara berjalan pun berbeda. Kau bukan Erick!" "Lalu jika bukan Erick, siapa? Kita sudah berpacaran selama 5 tahun, dan kamu masih tidak mengenalku?" Hera tercekat, menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Kalimat itu seringkali diucapkan Erick saat mereka menghadapi pertengkaran. "Bahkan jas dan gaun, kita memilih bersama. Semua persiapan pernikahan kita siapkan bersama, lalu kau meragukanku hanya karena suara? Aku gugup. Jelas aku gugup. Akhirnya kita akan menjadi pasangan suami istri." "Benar juga," lirih Hera. "Tapi anehnya hatiku tidak berdebar-debar. Biasanya, hanya dengan menatap matamu saja aku sudah berdebar." "Kau mempermasalahkan jantung berdebar atau tidak?" Nyonya Thornes—ibu dari Hera memasuki ruangan, di ikuti suaminya dari belakang. Sosok itu berdiri di depan putrinya yang tampak murung. "Kau akan berdebar saat berdiri di atas altar nanti. Sekarang kalian pasti sangat gugup. Jadi sulit mengontrol diri. Entah suara berubah atau detak jantung, yang pasti kalian akan segera menikah." "Tapi, Ma." Hera menatap Sang Mama, lalu bergantian pada Sang Papa. "Dia bukan Erick, aku yakin. Aku yang paling mengenal Erick!" "Jaga bicaramu, Hera. Jangan merusak momen bahagia kalian hanya karena prasangka buruk. Lagipula, mau dia Erick atau bukan, kau harus tetap menikahinya," tegas Tuan Thornes. Hera sama sekali tak bisa berkata saat ibunya mengelus lembut surainya yang telah tertata rapi dengan hiasan bunga. "Mama menunggu kalian di altar pernikahan. Semua tamu juga menantikan kalian, jadi tidak ada pertengkaran lagi. Ayo berjanji." "Aku janji," lirih Hera. Setelahnya, Tuan dan Nyonya Thornes meninggalkan ruangan itu. Sepi, tak ada yang berucap. Pria dengan rupa Erick itu sibuk dengan ponsel untuk beberapa saat, lalu beralih menatap Hera yang menyilangkan tangan di depan d**a, masih menatapnya sinis. "Ada apa?" tanya pria itu dengan santai. "Katakan, kau siapa! Mengapa kau sangat mirip dengan Erick? Sebagai kekasihnya aku tidak akan tertipu denganmu!" "Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa aku bukan Erick kekasihmu, hmm?" Pria itu berjalan mendekat, lalu mencuri ciuman di bibir Hera. Perempuan itu melotot tak terima, lalu mendorong sosok dihadapannya. Namun, percuma. Tenaga nya tak sebanding dengan cengkeraman jemari pria itu pada pinggang rampingnya. Hera terdiam. Pria itu sungguh agresif, tak seperti kekasihnya yang santai. Lebih parahnya ia tak bisa memberontak saat pinggangnya di rengkuh, memaksa untuk jatuh dalam pelukan pria asing. "Bukankah? rasa hangat pelukanku masih sama? Kau meragukanku hanya karena suara dan cara berjalan? Itu konyol." "Tidak hanya itu!" protes Hera. "Kau lupa? Kulitmu sangat putih, bahkan beberapa saat lalu aku berfikir kamu adalah vampir yang menyamar menjadi kekasihku. Sementara Erick? Dia memiliki kulit kecoklatan. Kalian jelas berbeda." Pria itu menatap cermin di ruangan itu, lalu terkekeh. Ia kembali mendekati Hera, dengan santai. "Ya, aku memang lupa memakai semprotan warna kulit, dan sialnya kau justru menyadari penyamaranku." Telapak tangan Hera spontan mengepal, dengan jantung berdetak cepat. Perlahan ia melangkah mundur, sementara pria itu mendesaknya hingga terpojok pada tembok ruangan. "Katakan kau siapa?!" kesal Hera. "Dan di mana Erick kekasihku?" "Baiklah." Sosok itu memberi Hera ruang, melepaskan cengkraman pada pinggang si perempuan yang kini tampak begitu naif. "Biarkan aku memperkenalkan diri." "Namaku Felix. Felix Wagner. Kau pasti sudah tak asing dengan nama keluargaku yang banyak disebut di kota ini, kan? Tapi orang-orang lebih suka memanggilku dengan sebutan 'Tuan Muda.' Khusus dirimu, panggil saja aku 'Sayang.' Kita akan menjadi pasangan suami istri, bukan?" "Gila! Bagaimana mungkin aku menikahi pria asing! Aku tidak mencintaimu, aku hanya mencintai Erick. Tolong, katakan di mana dia?" "Oh tidak, jangan menangis. Itu bisa menghapus riasanmu." Felix mengusap lembut pipi Hera. "Sebenarnya aku juga tidak tau di mana Erick sekarang. Aku harus menggantikannya sebagai pengantin agar keluarga kami tak harus menanggung malu." "Di- dia menghilang?" Hera berucap dengan terbata. "Tapi kemarin malam aku masih saling berbalas pesan dengannya." "Entahlah. Tapi dia sudah menghilang dari keluarga kami sejak seminggu yang lalu, ponselnya tidak aktif." "Bagaimana ini? Aku harus menikah dengan pria asing dan kekasihku menghilang," parau Hera. Gadis itu berjalan ke sana-kemari seolah tengah berfikir keras. Felix meraih tangan Hera, bawa perempuan itu keluar dari ruang rias dengan sedikit menyeret. "Bagaimanapun juga, kita harus menyelamatkan pernikahan ini. Suka atau tidak, kau tetap akan menjadi istriku." "Tapi, Felix. Kita masih sangat asing, bagaimana mungkin menikah?" Felix tak hentikan langkah atau bahkan menoleh pada Hera. Ketika langkah menapak di atas altar, para tamu bersorak bahagia. Namun, Hera tetap tak bisa sembunyikan rasa cemas, sedih, dan kecewa. Akhirnya Felix menghentikan langkah, berdiri di depan Hera dengan gagah dan percaya diri. Tepat di atas altar pernikahan yang seharusya menjadi panggung kebanggaan Erick. "Anggap saja aku adalah Erick. Jika bisa mencintai saudara kembarku, kau pasti juga bisa mencintaiku." Pesta berjalan dengan lancar. Benar, keluarga Wagner adalah keluarga terpandang, bahkan semua tamu undangan mereka adalah orang-orang berkelas. Tak kalah, keluarga Thornes juga berasal dari kalangan terpandang meski tak sekaya mereka. Sanjungan dan pujian didapat dari para tamu karena Felix yang terus memanggil Hera dengan sebutan 'Sayang' juga tangan yang hampir tak pernah lepas dari pinggang si perempuan yang kini resmi menjadi istrinya. "Wah! Ini kejam! Bagaimana mungkin aku menikah dan akan hidup dengan orang yang sama sekali tak kukenal?" protes Hera di ruang tamu sebuah apartemen mewah, di mana hanya ada dirinya dan kedua orang tua. "Kejam? Kau bahkan tak disakiti. Lagipula apa masalahnya, Felix juga tampan, pintar dan baik. Dia sama saja dengan Erick," kata Tuan Thornes. "Tidak sama! Aku mencintai Erick. Aku sudah membayangkan akan sebahagia apa pernikahan kami nantinya, tapi semua berakhir kacau." Hera mendudukkan diri di sofa, kepalanya tertunduk pasrah. Felix keluar dari ruang tengah, lalu duduk di samping Hera, merangkul dari samping. "Tenang saja, saya akan menjaga Hera dengan sepenuh hati, sebagaimana Erick memperlakukan dia." "Kau tidak bisa!" sentak Hera. "Hera! Kamu mau keluarga kita menanggung malu? Itu akan berimbas pada perusahaan. Kau mau kita hidup miskin jika perusahaan keluarga kita bangkrut? Jadi berhenti merengek dan patuhi saja apa yang Felix ucapkan." "Papa! Kenapa Papa justru membela penipu ini?" "Sekarang kalian akan tinggal di apartemen yang sama," nasihat Nyonya Thornes. "Mama harap kalian bisa hidup akur dan saling menerima. Mama akan pergi sekarang." Hera masih mematung, menatap kepergian kedua orang tuanya. Perlahan air mata jatuh, basahi pipi. Ia dan Erick telah menabung untuk membeli unit apartemen sederhana, dan kini ia justru tinggal di sebuah apartemen mewah yang begitu asing. "Tolong bantu keluarga kami, beberapa saat saja." Felix menatap Hera dari samping. "Sampai aku menemukan Erick. Setelah itu, kau boleh kembali bersamanya?" "Maksudmu kita akan bercerai dan aku boleh menikah dengan Erick?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook