"Mau?" tanya Arlino memastikan. Hera menggeleng pelan. Tetapi tanpa menunggu Arlino menarik tangan perempuan tang telah bersuami itu, membawanya ke sebuah moge hitam. Diberikannya sebuah helm pada Hera. "Untuk apa?" "Naik saja. Kamu mau naik sendiri atau kupaksa?" Hera berdecak sebal, justru ia tak merasa beruntung meski banyak pria tampan menyukai dirinya. Faktanya semua itu buat Hera merasa takut dan ragu, apa semua adalah pria baik yang tulus mencintainya atau justru memiliki tujuan lain. Motor melaju, Hera berpegangan pada jaket hitam yang dikenakan Arlino. Di hari yang cerah ini, Hera merasa justru merasa tak beruntung karena terus dirundung rasa kesal—mulai dari Felix yang mengabaikannya, lalu kini bertemu Arlino. Perlahan motor berhenti di sebuah toko roti. Arlino membantu Her

