"Heh, apa dia mati?" George menendang kepala laki-laki yang terkapar di bawah kakinya beberapa kali dengan sepakan kencang. "Hei, bangun." George lalu berjongkok, memeriksa urat nadinya dengan wajah serius. Kemudian mengalihkan mata tajamnya kepada dua orang yang tergeletak tidak jauh dari orang pertama. George lalu menghampiri mereka satu-satu. "Oh, ternyata semua masih hidup ya." Tatapan George seketika berubah dingin. Tangannya disedekapkan di d**a. "Gara-gara sampah seperti kalian, aku harus mengulang pelajaran Kimia dan dipermalukan oleh para peneliti itu. Sialan." George lalu mengikat tangan laki-laki dewasa yang datang bersama keluarganya ke rumah orang yang akan mengantarkan mereka menemui Tasia, yaitu George Owens, tetangga tersayang mereka sendiri. Penyuka warna merah itu lalu

