04.

2377 Kata
"Sayang, sepertinya ada yang salah dengan George." Suatu hari, Joly menyuarakan isi hatinya kepada suaminya, Erick Owens, ketika sepasang suami istri itu sedang duduk di belakang rumah. Wanita yang selalu mengeritingkan ujung bawah rambutnya itu ingin membahas kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi di rumah keluarga mereka. Semenjak George bermain bersama mereka di taman belakang dan menunjukkan permainannya, sejak itu pulalah Joly menatap lain putra semata wayangnya itu. George memang terlihat baik-baik saja, selain tak adanya teman di sisinya, anak laki-laki itu tetap asyik bermain dengan mainan balok-balokannya yang selalu bertambah setiap harinya. "George baik-baik saja, jangan khawatir." Erick yang sedang membaca koran harian membalikkan halamannya perlahan. Joly merasa terabaikan jika suaminya sudah fokus dengan kertas berisi berita yang terjadi selama sepekan itu. "Kau tak peduli dengan anakmu, ya?" tuduh Joly dengan nada sinis. "George bermain dengan tarantula yang sudah mati! Lebih parahnya lagi, dia memutuskan semua kakinya!" Belum lega juga perasaan sang wanita yang dinikahi Erick beberapa tahun silam, meski sudah mengungkapkan semuanya, tetapi bampir setiap malam, sejak hari di mana George memperlihatkan kengerian itu kepada mereka, Joly selalu terngiang dengan bentuk dari tarantula malang yang menjadi mainan George. Erick melirik istrinya tajam, hatinya tergelitik saat mendengar ucapan sang istri. Genggaman pada kertas koran yang sedang ia baca mendadak mengerat. Dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ia lakukan jelas adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Erick. "Kata siapa aku tak peduli dengan anakku sendiri?" sahutnya tak kalah sinis. "Justru kau yang tak peduli dengan George, kau selalu mengabaikannya ketika dia menginginkan makanan tertentu darimu." Joly mencibir. "Itu karena aku memang tidak bisa memasak!" kilahnya sengit. Dengan kesal, suaminya yang duduk di sampingnya pun menutup kembali surat kabar di tangan dan menaruh koran yang sudah dilipat itu di bawah meja. "Diamlah, itu memang sudah salahmu karena tak belajar memasak dengan benar!" Erick menunjuk Joly di depan wajahnya langsung. "Aku semakin yakin dengan penyesalanku saat menikah dengan wanita sepertimu!" "Jadi kau menyalahkanku?!" teriak Joly kesal. Dan pasangan suami istri itu kembali bertengkar untuk yang kesekian ratus kalinya. Mengabaikan permasalahan yang seharusnya mereka bahas sebagai orang tua yang baik. Di samping itu, George yang sedang bermain sendirian di halaman depan tampaknya tak mengetahui sama sekali perihal adu mulut orang tuanya di halaman belakang. Anak itu tetap asyik mengotak-atik rubik di tangannya, dengan ekspresi wajahnya yang begitu serius. "Wah, main rubik, ya?" Tiba-tiba, sebuah suara membuyarkan konsentrasi putra pasangan Erick dan Joly Owens yang langsung menghentikan aktivitasnya saat itu juga. George lalu memilih menengadahkan wajahnya perlahan. Demi menemukan seraut wajah asing yang sedang memperhatikannya. "Ah, kenapa berhenti?" tanya orang bertopi biru itu dengan nada kecewa. "Umurmu berapa? Kau hebat sekali bisa bermain rubik jenis yang satu ini. Padahal sangat susah menjadikan warnanya pas." George memasang ekspresi datar saat ada seseorang yang tidak ia kenal, berbicara padanya. Anak berusia lima tahunan itu sudah didikte oleh kedua orang tuanya untuk tidak asal berbicara dengan orang asing sembarangan. George lantas menilik kembali penampilan pria muda di depannya. Dari wajahnya, laki-laki ini sebenarnya masih remaja. Namun, sudah memiliki tubuh tegap dengan tinggi berkisar 186 cm. Benar-benar tinggi. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat menyadari tatapan menyelidik yang dilayangkan oleh anak kecil di depannya. Merasa ada yang salah, ia pun sengaja menundukkan badan dan tersenyum kecil kepada sang anak kecil. "Aku bukan orang jahat," jelasnya dengan nada mantap. "Aku Sean, seorang pengantar s**u yang kebetulan lewat saat sedang mengantar pesanan di rumah sebelah." "Lalu kemudian aku melihatmu bermain rubik itu." George masih dengan ekspresi yang sama, membuat Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus berbuat apa untuk meyakinkan anak kecil di depannya. George pun mengalihkan pandangan dan merapikan mainannya. Begitu selesai, anak itu pun berdiri dan berniat masuk ke dalam rumah, jika saja Sean tak mencegat tangan kecilnya. "Tunggu, kau mau kemana?" tanya Sean cepat. George melirik sekilas dan menjawab dengan pelan. "Menonton televisi di dalam," ucapnya. Sean tampak tertarik. "Apa yang kau tonton?" George tak berusaha melepas pegangan Sean padanya, justru anak itu kembali menatap Sean. "Spongebob," jawabnya. "Spongebob Squerepants." Sean tersenyum lebar. Masih belum melepaskan genggamannya pada George, pemuda itu lantas berdiri. "Aku juga suka menontonnya," ucapnya riang. "Siapa tokoh kesukaanmu?" George memutar tubuhnya menghadap Sean, dan kembali menatapnya. Ia merasa lehernya sakit karena terus mendongak untuk menatap pemuda itu. "Squidward," jawab George datar. Sean tampaknya terpukau dengan kepribadian anak berusia lima tahun di hadapannya ini. Benar-benar mengingatkannya pada tokoh di Spongebob Squerepants yang tak pernah merasa hidupnya bahagia. Siapa lagi jika bukan Squidward? "Aku juga suka Squidward," ucap Sean sambil tersenyum penuh percaya diri. "Tapi apa kau tahu jika ada sebuah cerita di baliknya?" "Di mana rahasia ini ... benar-benar mengerikan." Genggaman mereka memang sudah terlepas, tapi tampaknya George tertarik dengan pembahasan yang tadi diucapkan oleh Sean. "Beritahukan padaku tentang cerita ini," ucapnya datar. "Dan ceritakan apa pun yang kau ketahui tentangnya." "Aku akan menceritakan tentang kisah seorang saksi mata yang melihat sesosok makhluk misterius yang dijuluki Houle. Seringkali, kehadirannya membawa kematian. Seorang anak berusaha mencari ibunya, yang juga salah satu saksi mata dari penampakan makhluk ini. Dan yang akan ia temukan adalah cerita mengerikan yang akan menghantui seumur hidupnya." George semakin penasaran dengan apa yang baru saja Sean katakan. "Bisakah kau menceritakannya?" desaknya tak sabaran. Dia sudah terlalu bosan dengan buku yang biasa dibacakan oleh kedua orang tuanya, kebanyakan yang mereka bacakan untuk George adalah buku tentang bisnis. Sedangkan George tak suka bisnis. Sean terkekeh dan menatap mata indah George yang terlihat seperti manik-manik biru yang indah. "Baik, baik, akan kuceritakan. Ini adalah kisah yang kudengar dari kedua orang tuaku, dan didapat dari Nenekku, kini mereka semua sudah tiada." "Selama musim panas 2003, kejadian aneh berlangsung di sepanjang timur laut wilayah Amerika Serikat, melibatkan penampakan makhluk aneh menyerupai manusia yang terlihat sebelum padamnya listrik. Berita itu menghebohkan media dan masyarakat saat itu. Namun tak banyak informasi yang tersisa. Sebab secara misterius, semua berita online dan catatan tertulis dari para saksi mata mengenai makhluk itu tiba-tiba lenyap." Sean mulai menceritakan kisah yang pernah didengarnya saat kecil. Dia baru tahu jika ada anak yang ternyata sangat terkesan dengan kalimat pembukanya, dia senang karena ada orang yang mau mendengarkan apa yang ia sampaikan. Anak yang menarik, pikir Sean sambil tersenyum. Sean akan bercerita dengan sungguh-sungguh kali ini, karena seperti yang disampaikannya tadi, dia mendengar cerita ini sejak kecil dari kedua orang tuanya. Sebagian kesaksian itu berasal dari saksi mata yang tinggal di wilayah pinggiran New York. Mereka menceritakan pertemuan mereka dengan makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya itu. Emosi saksi mata bercampur aduk, mulai dari trauma dan perasaan tak nyaman hingga rasa penasaran terhadap keberadaan makhluk itu. Walaupun catatan fisik dari kesaksian mereka sudah tak lagi dapat ditemukan, namun ingatan mereka akan peristiwa itu masih bertahan. Beberapa pihak, terutama korban, mulai mencoba mencari jawaban akan apa yang telah menimpa mereka tahun tersebut. Pada tahun 2006, penyelidikan tersebut telah berhasil mengumpulkan hampir dua lusin dokumen yang bertanggal mulai dari abad ke-12 hingga saat ini, meliputi catatan dari 4 benua. Dalam hampir semua kasus, semua cerita identik. Aku telah berhasil membuat kontak dengan anggota dari kelompok pencari fakta ini dan diperkenankan melihat dokumen-dokumen yang nantinya akan mereka susun menjadi buku berjudul, “Houle”. Aku memiliki motif pribadi tersendiri untuk mencari makhluk ini. Dan menemukan dokumen-dokumen ini benar-benar berarti bagiku. ** "Tunggu, ini cerita siapa?" George bertanya menyelidik. Sean tertawa melihatnya, baru kali itu dia bertemu anak yang begitu penasaran dengan kisahnya. "Ini cerita ibunya Nenek dari pihak ayahku, lalu orang tuaku menceritakannya sekali lagi padaku. Sudah lama sekali," jelasnya dengan sabar. "Bisa kita lanjutkan?" George mengangkat bahu. "Ya, kenapa tidak? Lagipula ceritanya menarik, apa Nenekmu masih hidup?" "Beliau sudah tiada, jauh ketika aku berusia 3 tahun. Hanya cerita ini saja yang tersisa darinya oleh Nenek buyutku." ** Berikut ini beberapa bukti di antaranya. Catatan bunuh diri: 1964 Saat ini aku sudah bersiap-siap untuk mencabut nyawaku. Aku merasa perlu untuk melakukannya. Aku mengerti rasa sakit dan duka yang akan dilalui keluargaku jika aku melakukannya. Namun aku ingin semua orang tahu, ini semua akibat kesalahan-nya! Suatu malam ketika aku bangun, aku merasakan keberadaannya. Malam berikutnya aku bangun dan melihat bentuknya. Malam selanjutnya aku terbangun dan mendengar suaranya. Malam esoknya aku terbangun dan menatap ke dalam matanya. Aku tak bisa tidur dengan rasa takut seperti ini. Aku tak tahu apa yang terjadi jika aku terbangun malam ini. Aku tahu aku takkan terbangun lagi. Selamat tinggal. Sebuah jurnal 1880 Aku telah mengalami teror paling mengerikan. Aku telah mengalami teror paling mengerikan. Aku telah mengalami teror paling mengerikan. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. Mata itu hampa. Gelap. Hitam. Matanya melihatku dan telah menusukku. Tangan basahnya. Aku takkan tidur. Suaranya ... (jurnal itu robek di sini). Buku Harian 1691 Dia datang saat aku tidur. Dari kaki tempat tidurku aku merasakan keberadaannya. Ia mengambil segalanya. Kami harus kembali ke Inggris. Kami tidak boleh kembali ke sini. Ini permintaan Houle. Aku tergetar membaca surat berikutnya. Ini adalah tulisan tangan ibuku. Untuk alasan inilah aku sudah mencari hingga sejauh ini. Catatan seorang saksi: 2006 Tiga tahun lalu, aku baru saja pulang dari perjalanan liburan kami ke Niagara bersama keluargaku pada peringatan 4 Juli. Kami sangat lelah karena perjalanan panjang, sehingga suami dan aku langsung tertidur begitu kami menidurkan anak-anak. Sekitar jam 4 pagi, aku terbangun karena merasa suamiku bangkit dari tempat tidur untuk menggunakan kamar mandi. Aku memanfaatkan waktu itu untuk menarik selimutnya ke atas tubuhku, namun ia justru terbangun karenanya. Aku meminta maaf dan mengatakan bahwa aku tadi mengira ia sudah bangun. Ketika ia menoleh ke arahku, ia tampak megap-megap dan menarik kakinya dari ujung tempat tidur begitu cepat hingga lututnya hampir menjatuhkanku dari ranjang. Ia kemudian merengkuhku dan tak mengatakan sesuatu apapun. Setelah mataku menyesuaikan dengan kegelapan selama setengah detik, akhirnya aku bisa melihat apa yang menyebabkan suamiku begitu ketakutan. Di ujung tempat tidur kami, duduk sesosok makhluk, membelakangi kami. Ia tampak seperti manusia yang telanjang, ah bukan, seperti anjing besar yang tak berbulu. Posisi tubuhnya sangat tidak normal dan disturbing, seperti ia habis ditabrak oleh mobil atau sesuatu. Untuk suatu alasan, aku tak langsung menjadi ketakutan ketika melihatnya, namun justru merasa kasihan. Aku bahkan merasa bahwa kami perlu menolongnya. Suamiku mengintip dari antara lengan dan lututnya. Ia sedang meringkuk seperti janin, sesekali melirik ke arahku sebelum kemudian menatap makhluk itu kembali. Dengan gerakan yang nyaris tidak nyata, makhluk itu merayap ke sisi tempat tidur dan merangkak ke atas tubuh suamiku. Ia bahkan hanya berada beberapa centi dari wajah suamiku. Makhluk itu terdiam selama kurang lebih 30 detik (atau mungkin 5 detik karena waktu tampak berjalan sangat lama saat itu) sambil terus menatap wajah suamiku. Makhluk itu kemudian menempatkan tangannya di lutut suamiku lalu serta merta berlari ke arah lorong, menuju kamar tidur anak-anak. Aku menjerit dan lari secepat mungkin untuk menekan tombol lampu. Aku berusaha menghentikannya sebelum ia melukai anak-anakku. Ketika aku sampai di lorong, aku melihatnya meringkuk dan membungkuk sekitar 6 meter dari tempatku berdiri. Saat itu gelap dan hanya ada cahaya dari kamar tidurku, namun aku bisa melihat wajahnya berlumuran darah ketika ia menoleh ke arahku. Aku segera menekan tombol lampu di lorong dan melihat putriku, Clara. Makhluk itu berlari dengan keempat kakinya menuruni tangga sementara suamiku dan aku segera bergegas menolong putri kami. Ia terluka sangat parah dan sempat membisikkan satu kata sebelum akhirnya pingsan. “Ia adalah ... Houle ...” Suamiku segera melarikannya ke rumah sakit. Itulah saat terakhirku melihat mereka berdua. Mobil suamiku terjun ke dalam danau, entah karena kecelakaan ataukah suamiku memang sengaja melakukannya. Mereka tidak selamat. Tinggal di kota kecil membuat berita tentang tragedi yang menimpa kami menyebar dengan sangat cepat. Polisi sangatlah membantu pada awalnya dan wartawan juga sangat tertarik akan berita ini. Namun, cerita-cerita tentang kami tak pernah dimuat di surat kabar dan wawancara kami dengan reporter lokal juga tak pernah ditayangkan. Selama beberapa bulan, aku dan anakku Justin tinggal di rumah orang tuaku. Setelah kami memutuskan untuk pulang, aku mulai mencari jawaban atas semua ini sendirian. Aku akhirnya menemukan seorang pria di kota tetangga yang juga pernah mengalami hal yang sama. Kami bertemu dan ia mulai menceritakan pengalaman mengerikan yang ia alami. Ia tahu beberapa orang di New York juga melihat makhluk itu dan menyebutnya sebagai “Houle”. Aku memerlukan dua tahun untuk mengumpulkan bukti keberadaan makhluk itu. Berita dari internet sama sekali tidak membantu, namun aku berhasil mengumpulkan catatan-catatan lama mengenai makhluk itu. Tak ada satupun yang menjelaskan detail mengenai asal-usul makhluk ini. Mungkin saja makhluk ini berumur lebih tua ketimbang catatan-catatan ini. Akan tetapi, aku belajar satu hal mengenai catatan-catatan ini. Seringkali, kunjungan makhluk itu bukanlah yang satu-satunya. Ia akan melakukan serangkaian kunjungan, tidak hanya sekali, kepada orang-orang yang ditargetkannya. Dan anehnya, mereka menyebutkan nama-nama ... nama-nama yang kemudian kelak akan dikunjungi oleh makhluk itu. Nama putriku salah satu di antaranya. Ini membuatku bertanya-tanya, apakah kunjungan Houle malam itu bukanlah yang pertama? Dan bukan yang terakhir? Aku menyalakan perekam digital di samping ranjangku dan membiarkannya merekam sepanjang malam, setiap malam, selama dua minggu. Pada akhir minggu kedua, aku sudah bisa membedakan suara yang kutimbulkan ketika aku berguling di atas tempat tidur, derit ranjang ketika aku bergerak di atas, detik jam, dan suara-suara lain dari luar rumah, seperti anjing menggonggong, derikan belalang, burung, ataupun kucing. Akan tetapi pada hari pertama pada minggu ketiga, suara lain mulai terekam. Terdengar suara lengkingan. Aku tahu pasti, itu adalah Houle. Aku tak pernah bisa mendengarnya terlalu lama untuk mengerti apa yang coba dikatakannya. Aku juga tak pernah membiarkan siapapun mendengarkannya selain aku. Yang aku tahu, aku pernah mendengar suara itu, ketika makhluk itu berbicara pada suamiku pada malam kejadian itu. Anehnya, sebelumnya aku tak pernah merasa pernah mendengar suara apapun malam itu. Namun untuk alasan yang tak aku ketahui, suara dalam rekaman itu mengingatkan aku pada kejadian malam itu. Aku tak pernah melihat makhluk itu semenjak ia menghancurkan hidupku. Aku menitipkan Justin kepada orang tuaku, khawatir jika ia akan terluka apabila terlibat dalam penyelidikanku. Aku memang tak pernah melihat makhluk itu, namun aku tahu, ia selalu ada di dalam kamarku selama aku tidur. Aku tahu ia mengawasiku dan mencoba berbicara padaku. Yang benar-benar aku cemaskan bukanlah suatu saat membuka mataku dan melihat makhluk tu menatapku. Namun karena ia mulai menyebut nama putraku, Justin. Oh, Tuhan. Anakku yang malang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN