03.

2169 Kata
Di saat kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah, atau para babysitter yang disuruh menjaganya tidak ada yang bisa menjaga anak laki-laki itu. Maka George Owens akan bermain semua permainan itu sendirian, di belakang rumahnya. Kebetulan, halaman belakang rumahnya memiliki ukuran yang cukup luas dan berdekatan dengan kolam renang. Rumah George dipagari pagar putih yang sangat tinggi, sekitar 2 meter. Hal itu untuk mencegah hal buruk yang mungkin saja terjadi kepada anggota keluarga mereka di rumah, tentu saja ini juga berlaku untuk menjaga George selama anak laki-laki itu berada di rumah bersama babysitter-nya. Namun, terkadang, di hari-hari tertentu, George hanya sendirian saja di rumahnya yang besar. Lalu, kemana perginya pengasuh anak laki-laki berusia lima tahun tersebut? Walau dirasa tak mungkin, sebenarnya ada hal yang membuat pengasuh-pengasuh itu tak mau berlama-lama bermain bersama George. George termasuk anak yang pendiam, tipe anak yang mudah diatur dan tak banyak bicara. Tipe anak-anak seperti ini tidak akan kekurangan energi seperti anak-anak lain seusianya. Dengan alasan ini, setidaknya cukup mampu membuat para pengasuhnya menjaga anak itu dengan baik tanpa membiarkannya bermain sendirian di kediamannya yang megah. Namun, lagi dan lagi, ada alasan di balik tak adanya pengasuh yang mau berlama-lama menjaga putra pasangan Erick dan Joly Owens itu. Semua ini di karenakan suatu alasan yang sebenarnya cukup mengganggu. Hari itu, pada hari di mana Joly dan Erick lagi-lagi harus pergi untuk menjalankan proyek bisnisnya ke luar kota. George ditinggal bersama seorang pengasuh yang baru saja bekerja selama beberapa hari di rumah itu. Mereka mempercayakan anak kesayangan mereka dengan gadis muda yang umurnya tak lebih dari 18. Dia adalah Marrie Warth, pengasuh sekaligus pembantu rumah tangga yang baru berusia 17 tahun. Gadis lajang itu sudah memiliki pengalaman kerja sejak berusia 15 tahun dan sekarang bekerja pada keluarga Owens. Memang masih di bawah umur, tapi Marrie bersikeras jika dia sanggup bekerja seharian penuh. Dia berasal dari kalangan tak mampu, tinggal di Equador bersama sanak familinya yang jumlahnya lebih dari 8 orang dan ikut membantu orang tuanya merantau ke negeri orang. Pada hari kedatangannya untuk yang pertama kalinya, gadis itu merasa senang sekali karena dapat bekerja dan mengasuh anak laki-laki dari keluarga kaya itu. Baginya, mengurus George adalah pekerjaan mudah. Sebab, selain George adalah anak penurut yang pendiam dan tak banyak bicara, anak itu juga masih kecil dan polos. Dia masih berumur sekitar lima tahunan. Mulanya, di hari-hari pertama Marrie bekerja di sana, sama sekali tak ada pikiran untuk berhenti bekerja dan pergi dari rumah itu ketika menemukan kejanggalan. Baginya yang telah diberhentikan dari pekerjaannya sebelumnya karena dituduh meracuni anak anjing keluarga majikannya dulu, bekerja di rumah dengan pemilik rumah baik hati dan merawat anak pintar adalah pekerjaan yang menyenangkan. Namun, semua pemikiran itu berubah ketika dirinya baru bekerja selama tiga hari di rumah keluarga Owens itu. Marrie termasuk orang yang tak percaya dengan hal-hal berbau mistis, dia sama sekali tak percaya dengan hantu, arwah penasaran atau sejenisnya. Baginya hal supranatural itu adalah sesuatu di luar akal sehatnya sebagai manusia cerdas dan Marrie tak mau ambil pusing memikirkan itu semua. Akan tetapi, tidak lagi setelah ia mengalami kejadian demi kejadian aneh yang muncul di kediaman Owens, tempatnya berkerja sejak tiga hari yang lalu itu. Untuk pertama kalinya, Marrie mengalami kejadian burum yang membuatnya trauma dan tak berani lagi menginjakkan kakinya di kediaman Owens. Hari itu, ketika pemilik rumah sedang pergi bekerja dan mereka mempercayakan George di bawah pengasuhannya, Marrie yang sedang duduk mengawasi George dari kejauhan melihat sesuatu yang sangat mengerikan. George kecil sedang bermain susunan balok yang terbuat dari kayu jati di halaman belakang rumahnya. Jika sudah bermain dengan balok-balok itu, George akan menulikan telinganya dan hanya terfokuskan kepada permainannya saja. Sama sekali tak ada yang mengetahui apa yang akan segera terjadi hari itu, termasuk Marrie. Seperti hari-hari sebelumnya, Marrie akan duduk di sebuah kursi dekat pintu dan mengawasi George yang sedang bermain balok. Gadis itu tersenyum tipis saat mengamati anak laki-laki bersurai cokelat terang yang sedang serius dengan permainannya. Hingga beberapa saat kemudian, Marrie yang tengah mengawasi George melihat sesuatu yang janggal. Matahari tak bersinar karena terhalangi oleh awan kelabu, mengakibatkan langit menjadi sedikit gelap dan hawa dingin menusuk kulit. Akan turun hujan. Marrie yang khawatir dengan hujan yang akan segera turun pun bergegas berdiri dan berjalan mendekati George. Akan tetapi saat itu, belum ada lima langkah sang gadis mendekati George, sesuatu yang besar dan berwarna hitam menghalangi pandangannya dari anak kecil itu. Sesuatu yang tinggi itu tak berdiri di depan Marrie seperti seseorang yang sedang menghalangi langkahnya. Namun, sesuatu yang besar itu ... seolah keluar dari tubuh George dan memerangkap anak laki-laki itu di dalamnya. "A-a ... Ge-George...." Marrie seketika kehilangan kemampuan bicaranya saat melihat kengerian di depannya. Mulutnya ternganga, matanya melotot dan tubuh yang gemetaran. Gadis malang itu mundur selangkah demi selangkah. Pupil matanya tampak bergetar, menyiratkan ketakutan yang teramat dalam. Apa yang ada di depannya saat ini sangatlah tidak wajar. Tubuhnya berwarna hitam transparan, sehingga dapat memperlihatkan George yang masih sibuk dengan mainan baloknya. Anak laki-laki itu terjebak di dalam tubuh raksana besar itu. Namun, tak tampak sedikit pun ketakutan di wajah George, tahu dalam bahaya pun tidak. Sepertinya George sedari awal memang tak memedulikan adanya sosok lain di sekitarnya. Marrie benar-benar ketakutan. Makhluk itu besar dan tinggi sekali. Namun, tak memiliki wajah. Tempat yang seharusnya ada mata, hidung ataupun mulut, sama sekali tidak ada. Semua rata. Marrie bergidik ketakutan. Anak majikannya dalam bahaya, dan jika George kenapa-kenapa, pastilah dia yang akan mendapat hukumannya. "G-George, ke-kemarilah, Nak." Marrie mencoba memanggil anak kecil itu. Suara Marrie yang terlalu pelan membuat George sama sekali tak menoleh padanya, menghiraukannya saja tidak. Dengan takut-takut, Marrie pun memberanikan diri menaikkan volume suaranya. Sembari meneguk saliva gugup, wanita lajang yang belum menikah itu angkat bicara. "Ge-George, ke-kemarilah sebentar. Ada yang ingin Kakak perlihatkan ...." Suara lantang milik Marrie tampaknya berhasil membuat George menoleh kepada wanita itu. Gerakan kepalanya lambat dan lirikan matanya tampak perlahan. Namun, detik selanjutnya lebih mencengangkan. George menatap Marrie dengan tajam hingga tampaklah pupil matanya yang menunjukkan ketidak sukaan yang dalam. Anak itu melotot kepada Marrie dengan diiringi oleh geraman yang terdengar mengerikan. Marrie tak ingat apa-apa lagi setelah itu karena setelahnya dia ambruk ke tanah dan tak sadarkan diri selama beberapa waktu. Setelah sadar dari pingsan, Marrie yang tampak linglung pun segera melapor dan mengatakan pengunduran dirinya kepada Joly dan Erick yang sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. "Maafkan saya, Tuan, Nyonya, saya harus kembali," ucap Marrie dengan suara bergetar seperti orang ketakutan. Begitulah yang Marrie katakan ketika diantar oleh keluarga Owens ke rumah orang tuanya. Joly mengerti ketakutan yang tengah gadis itu rasakan, ia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan. Ternyata tak mudah memiliki seorang pengasuh anak .... "Marrie pengasuh kita yang ke-5, ya?" Tiba-tiba Erick, sang kepala keluarga Owens itu buka suara setelah keduanya pergi meninggalkan kediaman keluarga Warth. Mereka beranjak menghampiri mobil sedan warna merah keluaran tahun xxxx yang dibelinya tahun lalu. "Sampai kapan kita memperkerjakan orang yang tidak betah bekerja di rumah kita untuk menjaga George?" tanyanya dengan ekspresi jengkel. Joly mendengkus pelan, dia mengerti suaminya itu hanya ingin anaknya aman di dalam rumah. Wanita itu segera memalingkan wajah, membiarkan sang suami melihat hanya sisi wajahnya saja. "Entahlah, tapi untuk sekarang biarkan saja George sendirian. Itu akan lebih baik untuknya." Keduanya pun melesat pergi menuju kediaman mereka setelah sebelumnya menyapa seorang tetangga di sebelah rumah keluarga Wrath, mereka adalah orang baik yang ramah terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak hari itu, beberapa pengasuh lain yang didatangkan ke rumah keluarga Owens pun akan mengalami kejadian serupa dengan yang dialami oleh Marrie. Mereka akan berhenti bekerja, bahkan sebelum mereka genap bekerja di sana selama satu minggu penuh. Semua hal itu benar-benar membingungkan dan hampir membuat Joly dan Erick menyerah dengan keadaan. Namun, tuhan tak pernah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Itulah yang kedua pasangan itu percayai. George adalah anak yang suka bermain. Dia sering sekali menghabiskan waktunya bermain sendirian, karena tak pernah mendapat seorang teman pun di daerah perumahannya, George sama sekali tak mengeluhkan hal itu. Justru, sang anak bersurai cokelat merasa tenang, sebab George benci bunyi bising. Baginya itu sangat menganggu. Daripada memikirkan sesuatu yang tak penting, George lebih memilih bermain sendirian dan hanya ditemani oleh semua mainan kerennya. Bongkar pasang adalah salah satu kegemaran George. Pada suatu hari, menjelang ulang tahunnya yang kelima, George kecil tiba-tiba saja merasa jenuh dengan semua mainan miliknya. Cara memainkannya selalu sama, seperti itu-itu saja, dan baginya itu sudah sangat membosankan. Terlalu membosankan bagi seorang anak berusia hampir 5 tahun. Dengan ekspresi wajah yang masam, anak itu pun pergi keluar rumah sendirian, tentu saja ia masih berada di wilayah sekitar rumahnya. Mengelilingi tempat tinggalnya di dalam pagar, lalu berhenti di taman belakang. George benar-benar niat mengelilingi rumah itu. Kemudian, ia memilih duduk menyendiri di salah satu kursi dekat kolam renang seraya memandangi barisan semut yang lewat. Tampak ada beberapa ekor semut yang melintas di atas kakinya, karena penasaran George pun menangkap salah satu dari semut-semut berwarna hitam yang sempat menggigit kaki putihnya. Dan mulai memperhatikannya dengan saksama. Semut kecil berwarna hitam itu menggeliat, berontak dengan sekuat tenaga ingin melepaskan diri dari dua jari mungil George yang mengapit tubuh makhluk berantena yang malang itu. Namun George yang masih sibuk memandangi semut tak berdaya yang berada di tangannya memilih mengabaikan hal tersebut. Tak peduli dengan rontaan makhluk malang di tangannya. Tangan kecilnya George pun bergerak tanpa sadar, dan mulai mencabut salah satu antena dari semut kurang beruntung tersebut. Semakin menggeliat semut yang berada di tangannya, semakin lebar pula senyum terukir di wajah tampan George Owens. ** George pada dasarnya adalah seorang anak yang pendiam, tapi akan tetap ada anak-anak sepantarannya yang akan berkunjung dan mengajaknya bermain bersama. Mereka tinggal cukup jauh dari George, tapi tetap mau pergi ke sana untuk mengajak putra pasangan Owens bermain bersama. George kecil awalnya juga senang berbaur dengan mereka semua, tetapi suatu hari ia mulai terlihat memisahkan diri. Hal itu berhasil membuat kedua orang tuanya yang diam-diam memperhatikan anak mereka satu-satunya itu mengalami kecemasan. Takut terjadi suatu hal yang buruk yang menimpa anak kesayangan mereka. "George, kenapa tak bermain lagi dengan anak-anak lain di komplek sebelah? Apa ada yang mengganggumu, Sayang?" tanya Joly saat menimang putra semata wayangnya. George menggeleng dan menjawab, "Tidak..." "Lantas mengapa, Nak?" tanya ibunya lagi. "Mereka semua tidak suka dengan mainan bongkar pasangku, Ma, Pa," jawab George sedih. Merasakan apa yang dirasakan oleh putranya, Erick yang sedari tadi memperhatikan pun lantas membawa George dalam dekapan. "Bukankah permainan George sangat menarik? Mengapa mereka tidak suka? Mereka pasti salah menilaimu." George hanya menggendikkan bahu tanda tak tahu. Joly, sang ibu pun tersenyum kecil, mencoba menguatkan anak kesayangannya. "Ayo bawa kemari mainan bongkar pasang punyamu. Kita bertiga coba memainkannya bersama-sama." Dengan senyum semringah, George pun langsung berlari ke taman belakang. Sembari menunggu anaknya kembali, Joly beserta suaminya pun bercengkerama demi membahas masa depan anak kesayangan mereka. Keduanya benar-benar bangga dengan apa yang dimiliki oleh George. Tak berselang lama, George pun sudah kembali sambil membawa mainannya. "Mama ... Papa!" panggilnya dengan nada riang, menarik perhatian kedua orang tuanya. Joly dan Erick, kedua orang tua George pun menoleh ke belakang dengan cepat, disertai senyum cerah di wajah. Keduanya berniat melihat mainan 'bongkar pasang' yang baru saja anak kesayangannya ambil dari taman belakang rumah mereka. Namun seketika itu pula langit seolah runtuh bagi keduanya. Tak tampak sedikitpun benda terbuat dari kayu di tangan anak laki-laki mereka. Namun, ada sesuatu yang lain yang saat itu sedang George genggam di kedua tangan mungilnya. Senyum pasangan suami istri itu pun luntur, digantikan dengan perasaan ngeri yang membuat mereka merinding dengan bulu kuduk yang meremang. Saat itu, George membawa seekor laba-laba berukuran besar, melebihi ukuran telapak tangannya yang kecil. Laba-laba itu berjenis Tarantula Goliath dan merupakan peliharaan ayahnya yang sengaja ditaruh di akuarium khusus dekat taman bermain rumahnya. Laba-laba berjenis kelamin jantan itu memiliki corak warna yang cantik. Akan tetapi, sesuatu yang membuat orang tua George terkejut bukanlah laba-laba besar yang kini berada di tangan anaknya, melainkan penampakan dari hewan invertebrata bercangkang keras dari famili Theraphosidae itu yang sudah tidak utuh lagi. Tubuh hewan malang itu dalam keadaan yang sangat mengenaskan. "Geo-George...." Panggil Joly dengan suara yang tersendat-sendat. Kelopak matanya bergetar pelan. "A-apa yang kau lakukan terhadapnya, Sayang?" George menaruh laba-laba besar itu di tengah-tengah. Antara dirinya dan kedua orang tuanya. Tak jauh dari ketiganya, tepatnya di atas sebuah meja kecil, terdapat sebotol lem perekat kuat yang sepertinya sudah lama disiapkan. George pun mengambilnya dan menyusunnya dengan rapi di sebelah Tarantula milik sang ayah, lalu senyum anak laki-laki itu pun merekah semakin lebar. "Bermain bongkar pasang!" jawab George riang. "Mama, Papa!" George mengangkat laba-laba itu tinggi-tinggi, lalu kembali berkata, "Ayo kita pasang lagi kakinya dengan lem ini!" "Setelah itu kita lepas lagi ya dari badannya!" George memutilasi tarantula malang itu dan bermain bongkar pasang dengannya ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN