55. Hormon Kehamilan

1822 Kata

Pagi ini, beberapa jalan di Surabaya sedikit lengang. Sepertinya hari libur dimanfaatkan oleh para pekerja untuk stay at home. Atau mungkin memilih menepi sejenak di Malang atau di Batu untuk menikmati udara segar dan hawa sejuk. Beberapa kendaraan sedikit mengebut karena lengangnya jalan. Namun, berbeda dengan Loka. Ia menyetir dengan santai dan tenang. Ada dua nyawa yang harus ia jaga. Sesekali, ia melirik wanita yang duduk di sebelahnya. Ia juga tertular senyum merekah Sang Istri. Netra Aila terus memandang pada selembar kertas kecil yang diapit oleh ibu jari dan jari telunjuknya. Matanya memandang gambar yang ada di kertas itu dengan binar bahagia. Senyumnya juga melengkung lebar. “Mas, pokoknya kita ini harus ke rumah mama dan papa. Terus besok Minggu kita ke rumah ibu dan bapak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN