Gemas dan amarah berkumpul menjadi satu. Loka membelakangi Aila yang terbaring di atas kasur. Ia mengatur deru napas juga amarah yang bisa meledak kapan pun. Sedangkan Aila hanya mampu memandang punggung suaminya itu dengan perasaan bersalah juga takut. “Mas,” panggil Aila lirih. Loka tidak menanggapinya. Pria itu masih mempertahankan posisinya. Berdehem pun tidak Loka lakukan. Ia benar-benar mengabaikan Aila. Ah, bukan. Tepatnya ia sedang mengendalikan dirinya. Aila menghela napas pasrah. Ini memang salahnya. Keras kepala ia dengan pendiriannya. “Mas Loka,” panggil Aila lagi. Tangan kanannya berusaha menggapai punggung Sang Suami, tetapi tangannya tidak dapat menjangkau. Terdengar hembusan napas Loka yang keras. Kemudian Loka berbalik menghadap Aila. Loka menghembuskan napasnya

