Assalamu'alaikum readers. Maaf ya absen dua hari.
Enjoy this story :) Thank you.
Sejak kemarin malam hingga pagi ini, Aila terus memandangi layar gawainya setiap beberapa menit sekali. Ia juga tidak nyenyak dalam lelapnya.
Selama ini ia baik-baik saja, tetapi ini menyangkut tentang Dewi. Ia telah membuat kepercayaan sahabatnya menjadi lebur karena sikapnya yang mudah goyah.
‘Bodoh. Bodoh. Bodoh,’ rutuk Aila. Ia memukul keningnya menggunakan pinggiran handphone-nya.
‘Berulang kali Dewi ada buat kamu, Ai. Dan saat dia minta untuk kamu temani makan malam saja kamu dengan teganya menolaknya. Padahal saat makan siang kamu sudah berjanji,’ kata benaknya mengolok keplin-planannya.
“Habis lembur apa, Ai? Kok mata kamu hitam gitu?” tanya Mas Ridho yang baru saja melintas di depan kubikelnya. “Deadline garapan baru juga masih lama,” lanjut editornya itu.
“Maraton nonton drama, Mas,” jawabnya asal. Ia tidak mungkin jujur. Buat apa juga ia cerita pada Ridho permasalahan yang sesungguhnya?
Tidak mungkin juga ia menjelaskan alasannya. Tidak perlu. Biarkan ia sendiri yang mengurus masalahnya. Orang lain tidak perlu tahu tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Ckckck. Memang perempuan dan drama Korea itu tidak bisa dipisahkan ya,” ucap Mas Ridho menuduh.
“Ye, sok tahu banget deh, Mas. Siapa juga yang nonton drama Korea,” sahut Aila.
Ridho pun mengernyit. “Lalu drama apa?” Ia bertanya dengan lipatan di keningnya yang begitu banyak. “Jangan, jangan,” ucap Ridho dengan nada curiga.
“Drama itu nggak hanya drama Korea ya, Mas. Ada drama China, Jepang, Thailand,” ucap Aila dengan nada judesnya. “Mas mikir drama apa hayo? Yang iya iya ya?” ledek Aila.
“Ngomongin apa pagi-pagi gini. Kok ada iya-iyanya.” Raihan yang baru saja kembali dari pantry bergabung dengan obrolan perdramaan yang un-faedah di pagi hari itu.
“Kepo,” cibir Ridho pada Raihan. “Kalau begitu jangan ngedrama saja, Ai. Kerjakan kerjaan. Lebih enak ngerjakan sesuatu sebelum deadline dari pada harus kejar-kejaran sama waktu,” peringat Ridho.
“Mbok ya sekali-kali refreshing, Mas. Kerjaan terus aja. Pusing,” dumal Aila.
“Aku denger-denger katanya kita akan kunjungan ke perkebunan sayur dan buah organik di daerah Batu. Tapi tunggu info resminya saja. Kamu bisa refreshing di sana,” bisik Ridho. Namun, bisikan itu masih dapat didengar oleh Raihan.
“Beneran, Mas?” Mata Raihan berbinar. Ia tentu juga akan senang jika ada kunjungan ke perekebunan sayur. Apalagi Batu terkenal dengan view dan udaranya yang menyegarkan.
“Ya ini masih kabar burung, sih. Tunggu saja informasi resminya. Aku nggak mau mendahului pimpinan.”
“Awas kalau kamu PHP, mas.” Aila memasang wajah garangnya.
“Kan aku bilang masih kabar burung. Bisa benar dan juga salah. Sudah ah, aku mau kembali ke mejaku saja.”
Ridho berjalan tergesa ke mejanya. Ia tidak ingin dikejar-kejar oleh Aila dan Raihan tentang berita yang masih simpang siur itu. Salahkan saja mulutnya yang suka bocor dan tidak dapat direm itu.
Baru saja Ridho duduk di kursinya, layar gawainya menyala. Ada pesan baru masuk ke handphone-nya. Ridho membuka pesan itu.
AILA
AWAS YA KALAU PHP. KALAU ITU BENERAN KABAR BURUNG, AKU MINTA GANTI RUGI UANG SAKU BUAT DOLAN KE BATU SENDIRI!! KALAU NGGAK, SIAP-SIAP KUTEROR TERUS (emoticon devil).
Ridho memandang ke meja Aila. Aila juga sedang memandang ke arahnya. Ia melihat Aila yang sedang memasang wajah devil-nya. Melihat wajah itu berhasil membuat Ridho merutuki mulutnya yang kadang suka bocor.
Berkat Ridho, Aila merasa sedikit terhibur. Ia pun mulai dapat fokus kembali mengerjakan lembar kerja di hadapannya.
***
Aila sudah membereskan barang-barangnya yang ada di meja kerja. Meja kerjanya kembali rapi seperti tadi pagi. Ia sudah mencangklongkan tasnya ke bahu. Ia juga sudah menghubungi Dewi jika ia sudah siap untuk dijemput.
Aila baru saja keluar dari lift. Saat ini ia berada di lantai satu dan sedang menuju ke lobi. Dering handphone-nya menyatakan bahwa ada telepon masuk.
Aila mengambil HP yang ia simpan dalam tas selempangnya. Ia melihat nama Angga sebagai pemanggil. Aila tidak menjawab panggilan itu, ia kembali meletakkan handphone-nya dalam tas.
Namun, baru saja dering itu berhenti, handphone-nya kembali berdering. Aila pun berdecak sebal karena merasa terganggu. Bukan hanya dirinya saja yang terganggu karena dering itu, tetapi juga orang lain yang berada di sekitarnya.
Aila merogoh HP-nya. Dilihatnya masih tetap dengan penelepon yang sama yaitu Angga. ‘Kenapa lagi sih?’ dumal hati Aila.
“Halo. Assalamu’alaikum,” salam Aila dengan nada kesal yang sangat kentara.
“Wa’alaikumsalam. Kamu sibuk ya, Ai?” tanya Angga karena mendengar nada tidak enak Aila saat menerima panggilan darinya.
“Iya, ada apa?” Aila masih dengan mode judesnya.
“Aku mau minta tolong,” ucap Angga pelan. Suaranya bahkan hampir tercicit.
“Minta tolong apa? Menemani Rena lagi?”
Di seberang sana, Angga menggaruk kepalanya. Mendengar suara Aila yang kali ini tampak menahan amarah dan tahu maksudnya, ia sadar bahwa perempuan itu pasti lelah karena sering ia mintai tolong menemani Rena. Namun, dengan tidak tahu dirinya ia tetap merepotkan Aila. Ya ampun.
“Tante Aila bisa nggak, Pa?” tanya Rena yang tampak mendekat ke arah handphone papanya. Suara Rena itu dapat didengar oleh Aila.
Aila menghembuskan napasnya perlahan. Ia mensugesti pikiran dan hatinya agar tidak terpengaruh oleh rengekan Rena nanti.
“Rena minta ditemani ke mall, dia pingin sama kamu juga,” ucap Angga akhirnya. Ia menunggu jawaban Aila dengan jantung yang berdetak cepat—melebihi batas normal biasanya. Bukan jatuh cinta, tetapi ia tidak sanggup melihat Rena menangis jika Aila menolak permintaannya itu.
“Maaf, tapi aku sudah ada janji dengan temanku. Sampaikan pada Rena bahwa kita bisa bertemu mungkin di akhir pekan,” jawab Aila tegas. Ia mematikan sambungan teleponnya dengan Angga setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Angga.
Aila duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di lobi. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia merasa lelah.
Sejujurnya ia tidak ingin menolak permintaan Angga, tetapi ia sudah berjanji kepada mama dan Dewi bahwa ia akan mulai menjauh dari Angga dan keluarga Angga terutama Rena. Ia sedang menata hatinya. Ia sedang berusaha mengikhlaskan bahwa harapannya tidak dapat tercapai karena Angga yang jelas-jelas tidak menaruh ketertarikan padanya.
Denting notifikasi jika ada pesan yang masuk dalam ponselnya menyadarkan Aila dari pikirannya yang semrawut. Ia menengok layar handphone-nya. Angga yang mengirim pesan padanya berupa pesan suara. Aila mengabaikan.
‘Kenapa Dewi tidak sampai-sampai sih,’ gerutu Aila. Jika Dewi sudah sampai, maka hatinya jelas tidak akan goyah. Bila ia masih di sini sendirian, kemungkinan besar hatinya akan mudah goyah. Hal itu membuat Aila duduk dengan gelisah.
Dan rasa gundah serta gelisah yang menerpanya semakin menjadi kala mama Angga menghubunginya. Ia tidak mungkin mengabaikan panggilan tersebut. Itu adalah perbuatan tidak sopan. Ia tidak mau jika bersikap tidak sopan seperti itu.
“Assalamu’alaikum, Tante,” salam Aila.
“Wa’alaikumsalam. Aila masih di kantor?” tanya Widiya tepat sekali.
“Ehm, iya Tante. Kenapa ya?” tanya Aila bingung.
“Ini tante sudah di jalan deket kantor kamu. Rena ngajak main. Tante jemput ya,” ucap Widiya keibuan.
Mendengar nada keibuan Widiya, bagaimana bisa Aila menolak? Ia rasanya ingin menangis. Kenapa ia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini?
“Maaf Tante, Aila sudah ada janji dengan teman Aila dari kemarin,” kata Aila jujur.
‘Maafkan Tante ya, Ren. Tante harus berusaha menjauh dari kamu demi hati Tante,’ ratap Aila dalam hatinya.
“Tante Aila ada janji dengan temannya ya, Nek?” tanya Rena kepada Widiya. Suaranya terdengar menahan isakan. Tidak berapa lama, suara tangisan Rena memenuhi speaker handphone-nya.
“Tante… nggak bisa ya… keluar sama Rena?” tanya Rena terputus-putus karena suara isakannya.
Aila menghembuskan napasnya dengan tenang. Ia berusaha menguatkan hatinya. Ia tidak boleh goyah. Demi dirinya, demi keluarganya, dan juga sahabatnya.
“Maaf ya, Nak,” ucap Aila dengan suara pelan. Ingin menangis histeris saja rasanya Aila. Hatinya ikut tersayat kala mengatakan penolakannya.
Setelah Aila mengatakan itu, terdengar nada tut pertanda bahwa sambungan telepon tengah dimatikan. Entah oleh Widiya atau Rena.
Aila menenangkan hatinya. Ia harus menjadi wanita yang tegas. Ia tidak mau tersakiti berulang kali. Cukup sudah hatinya diombang-ambing oleh ketidakpastian.
“Tante Aila,” panggil sebuah suara anak kecil kala Aila sedang menunduk dalam duduknya.
Aila mendongak. Ia terkejut melihat Rena yang berlari ke arahnya dengan mengenakan dress bermotif bunga berwarna peach serta sepatu berwarna merah menyala.
Di belakang Rena, Widiya dan Angga berjalan menyusul bocah cilik itu. Terpampang jelas wajah tidak enak antara ibu dan anak itu.
“Tante Aila beneran nggak bisa keluar sama aku, papa, dan nenek, ya?” Mata Rena sudah berlinang air mata. Netra yang biasanya selalu berbinar cerah, sore ini mulai meredup.
Aila mengangguk membenarkan. Ia tidak boleh membuat Rena ketergantungan padanya. Bodohnya, kenapa ia baru tersadar saat ini bahwa Rena memang sudah terlanjur ketergantungan padanya.
Rena pun menangis kencang membuat beberapa orang yang berada di lobi memandang ke arah Rena, Aila, Angga, dan Widiya. Aila merasa bersalah, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Rena tampak memeluk papanya erat. Disela isakannya, ia terus menyebut nama Aila.
Widiya memandang ke arah Aila dengan sorot mata memohon agar Aila dapat pergi bersama Rena. Widiya juga berjalan mendekat ke arahnya.
“Untuk saat ini saja, tante mohon ya, Ai,” pinta Widiya dengan wajah penuh harap.
“Tapi tante.”
“Please.. Sekali ini saja. tante nggak tega lihat Rena menangis seperti itu,” bujuk Widiya.
‘Tapi tante tega membuatku semakin sulit menjauh dari anak dan cucu tante itu.’
Aila menghembuskan napasnya berat. Ia tidak mau mengecewakan Dewi. Dewi adalah sahabat terbaiknya. Namun, di depan matanya saat ini ada seorang nenek yang memohon agar ia mau menemani cucunya.
Dengan berat hati akhirnya Aila mengangguk. Ia akan berusaha menjelaskan pada Dewi bahwa pilihannya kali ini sulit.
Rena bersorak senang karena akhirnya ia dapat pergi bersama Aila. Ia pun menggandeng telapak tangan Aila dengan erat. Tidak ingin Aila pergi tanpa dirinya.
Rena dan Aila membuntuti Angga dan Widiya yang berjalan di depan mereka. Aila masuk dalam mobil dan duduk di kursi tengah. Ia menyarankan agar Widiya saja yang duduk di depan. Ia tidak mau membuat dirinya melayang dan senang hanya dalam waktu sementara saja. Apabila ia duduk di kursi depan maka dirinya sudah seperti seorang istri dengan putri kecil di antara mereka, maka lebih baik ia duduk di jok tengah. Lagi pula Widiya adalah ibu Angga, wanita itu lebih berhak mendapatkan prioritas utama dari pada dirinya.
Mobil Angga mulai melaju meninggalkan kantor Aila. Tepat di belakang mobil Angga, mobil Dewi terparkir dengan rapi. Ia melihat Aila yang masuk ke dalam mobil itu. Jujur saja ia kecewa. Bahkan Aila tidak menghubunginya jika rencana mereka keluar dibatalkan.
Ia tidak marah karena Aila lebih memprioritaskan Angga atau Rena. Namun, ia kecewa karena ia belum mampu membuat Aila menjauh dari keluarga itu seperti yang diharapkan oleh Kanya. Ia sebagai sahabat merasa gagal membantu Aila lepas dari jerat keluarga Angga.
***
“Ya ampun, Dew. Kenapa kamu nggak mau terima telponku sih?” gusar Aila. Saat ini sedang jam istirahat.
Pesan dan telepon yang ia tujukan pada Dewi sejak tadi malam belum juga dibaca dan juga diterima oleh Dewi. Aila merasa sangat bersalah.
Ia kembali membaca pesan yang Dewi kirimkan padanya kemarin sore saat ia sudah duduk di mobil Angga. Salahnya karena ia tidak memberi kabar pada Dewi segera dan malah fokus dengan Rena.
DEDEWI-CHAN
Aku sudah tiba di depan lobi kantor kamu. But, I know that I can’t be special person in your life. Enjoy ya jalan-jalannya sama Rena.
Kata-katanya tidak ada yang salah. Bahkan terlihat bahwa kata-kata itu tidak mengandung amarah. Namun, Aila tahu bahwa di dalamnya tersirat amarah yang berusaha Dewi redam agar tidak meledak. Selama persahabatan di antara mereka, Dewi sangat jarang marah. Ia adalah perempuan tegas. Namun, ia bukan perempuan yang mudah merajuk. Dan bodohnya karena ia selalu mengecewakan Dewi. Dewi selalu ada untuknya, giliran Dewi meminta tolong padanya ia malah dengan seenaknya membatalkan tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
“Kok nggak di makan sotonya, Ai?” tanya Raihan yang baru saja bergabung di meja pantry.
Aila memang memilih makan di pantry dengan meminta tolong OB untuk membelikannya soto di kantin kantor. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan banyak orang. Mood-nya sedang dalam keadaan buruk.
“Kamu sudah pesan makanan atau sudah makan siang, Rai?” tanya Aila balik. Raihan mengernyitkan keningnya. Tumben sekali Aila bertanya padanya. Selain itu, Aila juga sepertinya sedang dalam mood yang baik karena perempuan itu tidak berbicara sewot padanya seperti hari-hari biasanya.
“Belum. Masih mau pesen online saja,” jawab Raihan akhirnya.
“Ini buat kamu saja. belum kumakan sama sekali kok. Dari pada dibuang, mubadzir. Belum kucicipi atau kuapa-apakan. Tadi hanya kutuang dari plastik ke piring.”
Raihan semakin mengernyit bingung. Tumben sekali Aila baik padanya. Apakah Allah telah melembutkan hati perempuan ini?
“Kenapa? Nggak mau ya?” tanya Aila heran karena melihat Raihan yang hanya memandangnya.
Raihan menggeleng. “Ya sudah kumakan ya,” ucap Raihan.
‘Lumayan menghemat pengeluaran dan energi. Sudah ada makanan di depan mata tidak baik ditolak,’ batinnya.
Kemudian ia mulai menyantap soto yang sudah mulai mendingin itu dengan lahap. Tak lupa ia bersyukur karena Allah telah mempertemukannya dengan Aila di pantry sehingga ia dapat menghemat pengeluaran.