Kanya mengamati Aila yang dari tadi terfokus pada layar gawainya. Dalam hati, ia bertanya-tanya akan hal apa yang membuat netra putrinya itu tidak teralihkan dari layar handphone sejak selesai makan malam.
“Lihat apa sih, Kak? Dari tadi mama perhatikan kamu kok ngelihatin HP kayak gitu banget?” tanya Kanya saat mendudukkan pantatnya di sofa yang sama dengan Aila.
Saat ini mereka sudah berpindah ke ruang tengah setelah menyelesaikan makan malam dan mencuci peralatan makan. Papa Aila tampak sibuk menonton berita malam yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta. Sedangkan Radit sedang asyik bermain game online sambil rebahan di sofa panjang.
Aila mengalihkan pandangannya dari layar handphone kepada mamanya. Papa Aila dan Radit juga mengalihkan perhatiannya ke Aila. Aila pun meletakkan handphone-nya pada meja yang ada di hadapannya.
Aila memperhatikan Kanya, Danu, dan Radit bergantian. Suara penyiar berita tidak mengganggu fokus keluarga Aila untuk memperhatikan Aila. Radit juga menyimpan handphone-nya di samping handphone Sang Kakak.
“Aila minta maaf ya Ma, Pa, Dek jika selama ini Aila tidak banyak meluangkan waktu untuk kalian. Aila bodoh karena membuang-buang waktu hanya untuk Angga atau Rena,” ucap Aila memulai mencurahkan perasaannya. Air mata sudah mulai menitik perlahan.
“Mama, Papa, dan Radit selalu sayang dan perhatian kepada Kakak. Tetapi Kakak dengan tidak tahu dirinya malah menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Padahal ada keluarga yang selalu sayang dan perhatian pada Aila dengan begitu banyaknya,” lanjutnya.
“Ma, Pa, Dit, tolong selalu ingatkan Kakak jika Aila masih bandel untuk bertemu dengan Angga atau pun Rena. Kakak sudah berjanji pada Mama untuk mulai membahagiakan diri sendiri.” Ia menangis tersedu.
Kenapa ia bodoh karena membuang banyak waktunya bersama orang lain? Sedangkan kehangatan keluarga selalu ia dapatkan kala bersama mama, papa, dan adiknya.
Setelah sesi ia meminta maaf karena kebodohannya. Aila menjelaskan permasalahan yang sedang terjadi. Ia yang telah mengecewakan sahabat baiknya—Dewi. Dan ia yang telah dibutakan oleh rasa kasih dan sayangnya kepada Rena sehingga membuat hatinya tersakiti. Ia juga mengorbankan diri untuk jauh dari keluarga, sahabat maupun teman.
Aila dipeluk oleh semua anggota keluarganya. Hati Aila sungguh lega rasanya. Keluarganya benar-benar menjadi benteng terdepan terhadap apa yang ia alami dan rasakan. Mereka tidak menghakimi Aila, mereka selalu ada untuk Aila. Bahkan setelah Aila membuang banyak waktu tidak bersama keluarganya.
Benar memang bahwa keluarga adalah tempat pulang yang paling nyaman. Tempat berkeluh kesah. Tempat mendapatkan kehangatan, kasih, dan sayang.
“Maafkan papa juga karena tidak tegas dengan kakak. Membiarkan kakak keluar tanpa seijin papa,” ucap Danu setelah ia melepaskan pelukannya.
Aila menggeleng. Itu bukan kesalahan papanya. Itu murni kesalahannya yang tidak ijin kepada papanya setiap hendak pergi kemana pun, kecuali ke kantor.
“Itu bukan kesalahan papa. Kakak yang salah. Papa jangan bicara seperti itu.” Aila masuk ke dalam pelukan hangat papanya. Papanya pun membalas pelukan putrinya tak kalah erat. Ia juga mengusap punggung sang putri dengan lembut, menenangkan dan mengatakan bahwa Danu akan selalu bersamanya.
“Maafkan aku juga kak karena aku terkesan abai dengan kakak. Padahal aku sayang dan peduli dengan kakak. Tapi aku yang malu untuk menunjukkannya,” sahut Radit.
Danu melepaskan pelukannya. Aila pun mendekat ke arah Radit dan memeluk Radit. “Ah. Doditku sayang,” ucap Aila penuh haru.
Meskipun Radit sebal dengan panggilan kakaknya itu, ia tetap membalas pelukan kakaknya tidak kalah hangat. Kanya yang melihat pemandangan itu pun merasa terharu dan bahagia. Akhirnya keluarganya dapat berkumpul dengan penuh kehangatan, saling terbuka, dan mencurahkan isi hati masing-masing.
***
“Jadi gimana, Kak? Dewi sudah mau baca pesan kamu atau angkat telepon kamu?” tanya Kanya saat ia dan Aila sedang sibuk di dapur untuk memasak sarapan. Hari ini adalah hari Sabtu, Aila libur dari kejaran deadline kantor—memang libur ngantor sehingga dapat membantu ibunya memasak.
“Belum, Ma. Apa aku coba ke rumahnya saja ya?” tanya Aila meminta pendapat.
“Dewi kalau akhir pekan di rumah nggak? Apa dia nggak ada acara bersama papa atau mamanya?”
“Ehm, nggak tentu sih, Na. Kadang ya di rumah aja, kadang dia keluar bareng mama papanya.”
“Ya sudah, kita ke rumah Dewi sama papa dan Radit saja. Jadi kalau Dewi nggak di rumah kita bisa jalan-jalan, deh,” saran Kanya. Ia juga merindukan jalan-jalan bersama keluarga.
“Boleh, Ma. Tapi Mama ya yang bilang ke Oapa dan Radit,” ucap Aila sambil memasang cengirannya.
“Gampang.”
Kemudian, ibu dan anak itu kembali sibuk dengan berbagai sayur yang akan dimasak pecel. Aila fokus dengan telur ayam yang akan dibuat telur dadar dengan irisan daun bawang serta wortel.
Saat ini Aila sibuk memotong daun bawang dan Kanya sibuk memotong kangkung. Kecambah sudah selesai dipilah antara yang kualitasnya bagus dengan yang sudah mulai membusuk. Sekarang kecambah itu sedang berpanas-panasan di dalam panci yang berada di atas kompor.
“Panggil Papa dan Adik kamu sana, Ai. Sarapan sudah siap,” perintah Kanya sambil menata piring di meja makan.
Aila segera meluncur ke teras rumah di mana papanya sedang asyik merawat bunga-bunga yang ditanam oleh Kanya.
“Pa, sarapan sudah siap,” ucap Aila saat ia sudah berada di teras.
“Iya. Habis ini Papa ke sana,” jawab Danu. Ia masih sibuk menyemprot daun aglonema agar terlihat bersih dan tanpa debu.
Jenis aglonema yang sedang diberikan kasih sayang penuh oleh Danu adalah aglonema lipstik yang Kanya beli di pameran bunga pada salah satu mall di Surabaya. Aglonema tersebut ditanam pada pot putih dan diletakkan di ujung meja yang ada di teras depan rumah. Membuat meja menjadi lebih hidup dan segar dipandang mata.
“Oke. Aila masuk dulu ya, Pa. Mau manggil Radit.”
Aila berjalan kembali masuk ke dalam rumah setelah papanya mengangguk. Danu pun mempercepat proses mengelap daun-daun aglonema yang berwarna hijau tua dengan bold pink pada tepinya.
Tok. Tok. Tok.
“Dek, kamu ngapain di dalam? Kakak masuk, ya?” ijin Aila. Ia memutar knop pintu setelah mendapatkan persetujuan dari Radit.
“Yaelah, Dek. Masih pagi juga sudah sibuk sama game,” cibir Aila.
“Mumpung weekend, Kak. Lagian sekali-kali refreshing kan nggak masalah,” jawab Radit dengan netra yang masih fokus dengan layar handphone-nya.
“Halah, biasanya meskipun nggak weekend kamu juga main game gitu, Dek,” oceh Aila. Ia hendak merebut handphone adiknya tetapi Radit dengan mudah berkilat.
Radit hanya bergumam malas. Ia tetap melanjutkan bermain game online itu. Perebutan HP dengan Aila tidak membuatnya kehilangan fokus.
“Kakak ngapain ke sini? Ikut rebahan pula di kasurku.”
Aila yang merasa lelah karena Radit dengan gesit memegang handphone membuatnya memilih rebahan di kasur Radit.
“Ya ampun. Kan Kakak tadi itu manggil kamu buat ngajak sarapan. Kenapa malah rebahan di kasur kamu?" Aila bergegas berdiri. Jika membiarkan tubuhnya menempel pada kasur, ia takut gravitasi kasur terlalu tinggi sehingga membuatnya malas bangun.
Aila menarik lengan Radit dengan kuat agar badan Radit segera menjauh dari empuknya kasur. Radit pun berdecak sebal karena kakaknya yang tiba-tiba seenaknya mengganggu konsentrasinya bermain game online.
“Sudah ditunggu sama Mama dan Papa itu lho, Dit,” ucap Aila gemas karena kaki Radit yang tampak malas bergerak.
Radit pun melempar handphone-nya ke kasur. Beruntung lemparannya tepat sasaran, jika tidak maka handphone Radit bisa retak bahkan pecah.
“Lama banget, Kak?” tanya Kanya heran.
“Kakak ikut rebahan di kasurku, Ma. Lupa sama tujuannya kalau ke kamarku mau ngajak sarapan,” lapor Radit sebelum Sang Kakak menjawab.
Kanya dan Danu hanya menggeleng melihat kelakuan putri dan putranya. Memang kalau sedang bersama mereka akan selalu saling olok.
“Oh iya, Pa, Dek. Habis sarapan kita ke rumah Dewi, ya. Siapa tahu Dewi ada di rumah, biar kakak bisa jelaskan permasalahannya tempo hari. Selain itu, kita juga bisa sekalian silaturahmi sama mama dan papanya Dewi,” ucap Kanya saat mereka sudah mulai menikmati sarapan pecel dengan lauk telur dadar itu.
“Boleh, Ma,” jawab Danu menyetujui.
“Nanti kalau misal Dewi nggak ada di rumah, Kakak pingin jalan-jalan, Pa. Mungkin kita bisa ke Kenpark,” lanjut Aila.
“Wih, jalan-jalan. Aku suka kalau kayak gini,” sahut Radit.
Sarapan pagi itu lebih ramai karena diwarnai dengan perbincangan mengenai rencana jalan-jalan di Kenjeran Park—salah satu wisata yang ada di Surabaya bagian timur.
***
“Kakak kamu di mana, Dit?” tanya Danu ketika melihat Radit yang sedang mengamati layar handphone di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
“Masih dandan mungkin, Pa,” jawab Radit dengan mengalihkan fokusnya ke arah papanya.
Danu mengganguk. Ia bergabung duduk di sofa, di sebelah Radit.
“Mama juga masih dandan, Pa?” tanya Radit. Ia meletakkan handphone-nya di meja. Danu sangat tegas masalah per-handphone-nan. Ia dengan tegas melarang Aila dan Radit bermain handphone kala sedang berbincang atau berkumpul bersama.
Danu mengangguk. Memang dua wanita di rumah itu jika berdandan akan membutuhkan waktu yang lama.
Sekitar 15 menit kemudian, Aila dan Kanya secara bersamaan sudah bergabung di ruang tamu. Danu dan Radit bernapas lega karena proses penantian mereka akhirnya terbayarkan juga.
“Ish,, ish,, ish. Mama sama Kakak dandan dengan gaya santai saja butuh waktu yang lama. Apalagi kalau harus dandan buat kondangan, pasti membutuhkan waktu satu jam,” cibir Radit.
“Cerewet deh. Kakak itu lama soalnya harus pake toner, serum, day cream, sun screen, baru bedak. Terus sebelum pake lipstik pake serum bibir dulu. Tadi itu sama men-scrub bibir dulu makanya lama,” jelas Aila.
Kanya dan Danu sudah duduk di jok depan. Sedangkan Radit dan Aila baru saja menyusul di jok tengah.
“Makanya uangnya cepet habis buat belanja skin care ya, Kak?” tanya Danu bergabung dalam obrolan per-make up-an.
“Bener itu, Pa. Biar wajah kakak tetap terawat, segar, dan kulitnya kenyal. Makanya Papa harusnya tetep kasih uang saku bulanan buat Kakak,” rayu Aila.
“Wajah cantiknya Kakak juga nggak bikin Mas Angga menolehkan hatinya, tuh,” ejek Radit.
Aila segera mendorong bahu Sang Adik. Sungguh mulut adiknya itu memang harusnya disegel, agar tidak berbicara sembarangan. Ia juga mencubit keras lengan Radit.
“Jangan, Pa. Sudah kerja Aila itu. Gajinya juga di atas empat juta, hampir lima juta tiap bulan. Belum kalau dapat bonus. Sudah enam juta bahkan lebih. Jangan manjakan Kakak,” cegah Kanya heboh. “Uangnya buat Mama saja,” cengir Kanya.
“Ye, ujung-ujungnya juga ke Mama,” ucap Aila cemberut.
“Buat Radit aja, Pa. Kan Radit masih termasuk dalam kewajiban untuk diayomi,” sahut Radit.
“Kamu kan sudah dikasih jatah tiap bulan sama Papa juga, Dit,” protes Aila.
“Ya jatahnya yang sebelumnya buat Kakak alihkan ke Radit saja, Pa.” Radit tertawa senang karena pemikiran yang tiba-tiba muncul itu.
“Ngelunjak ya bocah satu ini.” Aila mencubit lengan kanan atas Radit dengan kencang. Sungguh menyebalkan sekali adik satu-satunya itu.
“Sudah. Sudah. Radit memang masih tanggungan Papa hingga kamu dapat pekerjaan. Sedangkan Aila, kan kamu sudah nggak mau menerima lagi uang dari Papa. Jadi ya uangnya disimpan sama Papa. Tapi, kalau Kakak atau Adik minta apa pun selagi Mama dan Papa bisa pasti akan dibelikan,” jawab Kanya menengahi.
“Tuh dengerin ucapan Mama,” ucap Aila.
“Iya, aku juga denger tahu, Kak.”
“Kalian ini ya. Sudah ayo turun. Sudah di depan rumah Dewi ini,” ucap Danu.
Mereka turun satu per satu dengan Aila dan Kanya yang berjalan mendahului.
“Assalamu’alaikum, Pak. Dewi di rumah?” tanya Aila pada Pak Arjuno—satpam yang bertugas di pos depan rumah Dewi.
Di rumah Dewi, keamanannya begitu ketat. Satpam tidak diperbolehkan membuka gerbang sebelum mendapatkan ijin dari Sang Tuan Rumah. Hal itu menyebabkan Aila dan Kanya harus berbicara dengan Pak Arjuno dan terpisahkan oleh gerbang besi bercat hitam.
“Wa’alaikumsalam. Mbak Dewi dan Bapak Ibu baru saja keluar, Mbak. Mungkin sekitar 20 menit yang lalu.”
“Kira-kira bilang ke Bapak ndak mereka mau ke mana?” tanya Kanya.
Danu dan Radit menunggu di belakang Aila dan Kanya.
“Katanya hendak ke Malang, Bu. Bapak tadi berpesan, jika ada yang ingin bertemu dan sangat mendesak bisa telepon dulu. Kemungkinan mereka akan kembali ke rumah besok sore,” jelas Pak Arjuno.
Wajah Aila seketika mendung. Ternyata benar dugaannya bahwa Dewi sedang keluar.
“Ehm, kalau begitu tolong sampaikan saja ya Pak pada Dewi kalau Aila ke sini. Dan ini ada sesuatu buat Dewi.” Aila menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna maroon dengan simpul pita di pojoknya.
“Baik, Mbak.”
“Terima kasih, Pak. Kalau begitu kami permisi ya, Pak. Assalamu’alaikum,” pamit Kanya.
“Wa’alaikumsalam.”