Assalamu’alaikum. Happy reading.
As always, berikan komentar dan saran jika ada sesuatu yang kurang tepat ya. Terima kasih.
Seperti yang sudah direncanakan, keluarga Aila memutuskan untuk jalan-jalan ke Kenjeran Park atau lebih dikenal dengan Grand Kenpark. Salah satu wisata yang menawarkan keindahan pantai serta berbagai bangunan lain yang tidak kalah indahnya.
Setelah membayar tiket masuk yang harganya cukup terjangkau, mobil yang dikendarai oleh Danu mulai masuk ke kawasan Kenpark yang begitu luas.
“Mau ke mana dulu?” tanya Danu. Kawasan wisata yang luas, membuat Danu memilih memarkirkan mobil pada arena yang ingin dikunjungi terlebih dahulu. Jika ingin berpindah tempat, mereka dapat menggunakan mobil karena jaraknya cukup membuat kaki lelah.
“Ke Pagoda Tian Ti dulu saja, Pa. Kalau nanti terlalu panas baru ke sana hasil fotonya bakal jelek,” jawab Aila.
Radit mencibir ide kakaknya yang ingin berfoto itu, meskipun tentunya ia tidak akan ketinggalan untuk berfoto. Memang tempat indah tidak akan lupa untuk diabadikan, baik hanya view wisatanya maupun beserta orangnya.
Danu memarkirkan mobil di dekat pagar pembatas yang letaknya cukup dekat dengan Pagoda Tian Ti. Mereka keluar dari mobil dan mulai berjalan melewati bawah pepohonan yang ditanam berjajar. Sekilas mirip dengan suasana yang ada dalam drama Korea.
Banyaknya pepohonan yang ditanam membuat kadar oksigen di sekitar mereka tinggi sehingga udara begitu sejuk. Membuat organ pernapasan dapat merasakan ketenangan karena selama ini harus berebut antara oksigen dan karbon dioksida yang dibawa oleh berbagai asap kendaraan ketika di jalan raya.
Aila dan Radit saling bertukar peran menjadi fotografer untuk mengabadikan momen di pagoda yang menjadi ikon populer di kawasan Kenpark. Tak lupa mereka juga mengambil foto keluarga dengan meminta bantuan pengunjung lain.
“Mama memang ibu terde-best deh,” puji Aila tulus. Ia juga merangkul bahu Kanya.
Kanya yang tadi berinisiatif untuk jalan-jalan dan Aila yang telah menentukan wisata mana yang akan dituju pun membuat ibu dua orang anak itu membawa tikar kecil dan beberapa camilan ringan. Inisiatifnya itulah yang membuatnya mendapatkan pujian dari Aila.
“Kecap selalu nomor satu ya, Ma,” ejek Radit karena menurutnya Aila terlalu berlebihan.
“Apa sih? Iri ya?” Aila memeletkan lidahnya ke arah Radit.
“Mama sampai bosen setiap kali melihat kalian saling bercanda terus Mama mengatakan kalian nggak bisa ya nggak berdebat setiap kali bertemu. Heran Mama,” ucap Kanya.
“Dan pasti diantara kalian akan menjawab kalau nggak rame dan tidak saling berdebat itu nggak seru,” sahut Danu.
Perbincangan mengenai hal itu pun mengundang gelak tawa keluarga kecil mereka.
Mereka mulai menikmati pagi menuju siang itu ditemani dengan berbagai makanan yang dibawa Kanya. Pemandangan di sekitar mereka menjadikan suasana semakin menyenangkan.
***
“Pa, sekarang kan sekolah Rena lagi libur, ayo jalan-jalan,” ajak Rena dengan pengucapannya yang masih terbata-bata.
“Papa masih ada kerjaan, Nak,” ucap Angga sambil mengelus lembut rambut halus Rena. Berharap hal itu dapat menenangkan dan membuat Rena maklum akan kesibukannya.
“Papa selalu saja bilang ada kerjaan setiap hari, setiap waktu. Nggak ada waktu buat Rena!! Nggak kayak Tante Aila yang selalu meluangkan waktunya buat Rena meskipun lelah setelah bekerja.” Rena merajuk. Gadis kecil itu berlari ke arah kamarnya. Ia menangis tersedu dengan duduk bersandar pada tembok seberang kasurnya.
Widiya yang tadi sedang sibuk di dapur dan mendengar suara tangisan Rena membuatnya menghampiri Angga yang masih duduk di sofa ruang tengah sambil fokus memandang layar laptop. Widiya heran karena tidak melihat keberadaan Rena.
“Rena di mana?” tanya Widiya. "Tadi Mama denger dia nangis. Bener dia nangis?" Widiya memandang Angga tajam. Sayang, yang dipandang masih menunduk fokus pada layar laptop
Angga mengangguk. Tangannya sibuk menguatik-atik mouse. “Di kamarnya, Ma,” jawab Angga dengan fokusnya yang masih pada layar laptop.
“Mama nggak habis pikir ya sama kamu, Ngga! Anaknya nangis bukannya dikejar dan dijelaskan permasalahannya tetapi kamu dengan santainya masih melanjutkan pekerjaan,” murka Widiya.
Widiya tidak habis pikir dengan pola pikiran Angga yang menurutnya masih belum memiliki jiwa seorang ayah.
“Jika kamu masih seperti ini terus, jangan harap Rena akan nempel dan lengket sama kamu,”
tegas Widiya. “Dan satu lagi, setelah Mama pikir-pikir sebaiknya Rena Mama ajak saja ke Malang, tinggal bersama Mama dan Papa dari pada di sini tetapi dia tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.”
Widiya melangkah dengan tegas menuju kamar Rena. Mengabaikan Angga yang terlihat bingung dan masih mencerna setiap perkataan Widiya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Widiya. Ia menempelkan lututnya pada lantai untuk menyamakan posisinya dengan Rena.
“Papa nggak sayang sama Rena,” lapor Rena sambil meringsek masuk ke dalam pelukan neneknya.
Widiya mengusap punggung Rena penuh kasih sayang. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rena. Sungguh malang sekali cucunya itu.
“Sssttt.. Papa sayang sama Rena, tetapi saat ini Papa masih sibuk dengan urusan pekerjaan,” jelas Widiya setelah Rena mulai tenang.
“Enggak!! Papa selalu sibuk dengan urusan pekerjaan terus setiap hari. Nggak hanya hari ini saja,” protes Rena. Rena tampak murka. Ia melepaskan pelukan neneknya.
“Kan ada Nenek, Sayang,” hibur Widiya. Ia berusaha meraih telapak tangan cucunya. Ia juga mengajak Rena untuk duduk di ranjang berseprai motif mickey mouse.
“Tapi Rena juga ingin dengan Papa, Nek.” Rena sudah mulai melunak. Namun, kemarahan pada ayahnya masih belum reda.
Angga yang melihat hal itu pun merasa nelangsa. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Ia sungguh tidak peka dan tidak mengerti perasaan Rena yang ingin bersamanya.
Tangisan Rena sudah mulai reda. Air matanya sudah kering setelah menangis cukup lama. Hanya tersisa sedikit air mata.
“Saat ini Rena dengan Nenek dulu, ya,” bujuk Widiya. Dalam hatinya, ingin sekali ia mencincang Angga karena kelakuannya sungguh keterlaluan. Membuat Rena haus kasih sayang seorang ayah.
“Ah, ada Tante Aila juga,” celetuk Rena tiba-tiba. “Kita jalan-jalan sama Tante Aila yuk, Nek. Kan waktu itu Tante Aila bilang kalau weekend mau ketemu Rena.”
Ingatan Rena begitu kuat. Memang anak seusia Rena memiliki ingatan yang begitu tajam, sehingga orang tua lebih baik mengajarkan atau melatihkan sesuatu yang baik.
Hati Widiya mencelos mendengar celetukan polos cucunya. Ah, andai Angga memahami bahwa ada seorang perempuan yang dengan setia selalu menemani Rena. Namun, bodoh sekali putranya itu yang tidak menyadari bahwa ada wanita berhati suci dan mulia yang selalu ada dalam kehidupannya.
“Tante Aila pasti ada acara, Nak. Kan Tante Aila juga punya keluarga, Sayang.” Widiya mencoba menjelaskan posisi Aila saat ini.
Jika ia menjadi Aila, ia juga pasti akan berada pada titik lelahnya. Widiya dapat melihat bahwa Aila memang tulus menyayangi Rena. Dan ia juga dapat melihat bahwa ada sesuatu yang Aila pendam untuk Angga. Mungkin, saat ini Aila sudah mulai menjaga jarak karena sudah beberapa kali Aila menolak jika diajak keluar bersama Rena.
Rena kembali memasang wajah sedihnya. Ia juga cemberut. Air mata sudah kembali menggenang di kedua kelopak mata gadis mungil itu.
Angga yang melihat hal itu pun segera menghampiri Rena dan Widiya. “Kita jalan-jalan, yuk,” ajak Angga setelah menyejajarkan badannya dengan Sang Putri.
“Sama Tante Aila ya, Pa?” bola mata Rena menunjukkan bahwa gadis cilik itu sangat berharap akan kehadiran Aila.
“Kali ini sama Papa dan Nenek saja dulu, ya,” bujuk Angga.
“Nggak asyik kalau sama Papa dan Nenek saja. Kalau ada Tante Aila lebih seru,” ucap Rena dengan jujur.
‘Bahkan aku yang merupakan ayah kandung kamu pun kalah posisi dengan Aila ya, Nak? Angga, Angga. Sudah begitu kamu juga masih nggak sadar-sadar juga kan?’ ejek batinnya.
“Kita coba telepon Tante Aila ya, Pa,” ucap Rena membuyarkan lamunan ayahnya.
Angga memandang ke arah Widiya. Berharap mamanya itu mau membantunya untuk membujuk Rena. Namun, Widiya memilih mengedikkan bahu acuh. Ia membiarkan Angga sendiri yang berpikir.
“Ya, Pa?” Rena menggoyang lengan Angga berharap Sang Ayah segera melakukan pintanya.
Dengan menghembuskan napas berat, Angga pun mengambil handphone dalam saku celananya dan mencari kontak Aila. Sejujurnya ia masih teringat dengan kejudesan Aila terakhir kali kala ia meminta tolong pada Aila untuk menemani Rena.
***
Dering handphone Aila membuatnya terusik dari rasa nyaman yang sudah membuainya dan akan membawanya ke alam mimpi. Ia sedang menyandarkan kepalanya pada pundak Danu. Didukung dengan semilir angin yang menerpa, membuatnya semakin ingin terlelap.
“Kak, handphone kamu ada yang telepon itu. Angkat dulu teleponnya, deringnya mengganggu pengunjung yang lain,” peringat Kanya sambil menunjukkan pada Aila bahwa beberapa keluarga kecil yang juga membentangkan tikar di dekatnya tampak terganggu.
Aila mengambil handphone dalam sling bag-nya. Saat mengetahui siapa pelaku yang mengganggu kenyamanannya bersandar pada bahu hangat Sang Papa membuatnya menampilkan raut wajah malas.
“Siapa, Kak? Kok wajahnya jadi cemberut begitu?” tanya Danu.
“Angga, Pa,” jawab Aila dengan malas.
“Diangkat saja, Kak. Bilang kalau sekarang Kakak sedang ada acara keluarga,” sahut Radit. "Jangan harap dia bisa memonopoli Kakak lagi," lanjutnya.
Ucapan Radit itu mendapatkan persetujuan dari Kanya dan juga Danu. Membuat Aila segera menerima panggilan dari Angga.
“Iya, halo. Assalamu’alaikum,” salam Aila.
“Wa’alaikumsalam, Ai,” jawab Angga. “Ehm, Ai.. Apa aku mengganggu kamu?” tanya Angga dengan nada tak enak hati.
“Iya.” Nada tegas sangat kentara dari jawaban Aila tersebut.
Jawaban tersebut berhasil membuat Angga bingung hendak berbicara apa. Niat hati ingin menjelaskan situasi yang terjadi, tetapi nyalinya seketika menciut saat mendengar ketegasan dari ucapan Aila itu.
“Tante Aila.” Suara Rena akhirnya yang terdengar pada speaker handphone-nya. Nada riang dari gadis kecil itu membuat Aila merindukan Rena.
“Iya, Sayang.”
“Tante, katanya kalau weekend mau bertemu Rena?” tagih gadis itu.
“Ehm, maaf ya, Sayang. Kan kemarin lusa sudah bertemu dengan Tante, jadi weekend Tante nggak bisa ketemu Rena dulu,” ucap Aila menjelaskan dengan perlahan posisinya saat ini. “Karena hari ini Tante sedang ada acara bersama keluarga Tante,” lanjutnya.
“Berarti nggak bisa ketemu sama Rena ya, Tan?” tanya Rena memastikan.
“Iya, nggak bisa. Maaf ya, Sayang.”
Kemudian terdengar tangis Rena yang pecah. Aila hanya berusaha menguatkan hatinya agar ia tidak goyah. Ia harus bisa.
“Ai, maaf ya karena mengganggu acara kamu. Kalau begitu kututup dulu teleponnya.”
Sambungan telepon itu telah dimatikan oleh Angga. Meninggalkan rasa tak tega dalam benak Aila. Namun, saat ini ia sedang bersama keluarganya. Ia tidak ingin menghancurkan momen hangat yang tercipta.