“Tahu nggak, Kak, Dek?” ucap Kanya. Ia berniat untuk mengalihkan pikiran Aila dari Rena.
Dan usahanya itu berhasil kala Aila dan Radit memandang Kanya dengan wajah penasaran. “Tahu apa, Ma?” tanya Radit mewakili.
“Kalian tahu nggak Pagoda Tian Ti itu artinya apa?”
Aila, Radit, dan Danu memandang penuh ke arah Kanya. Mereka sama-sama penasaran dan juga bingung kenapa Kanya tiba-tiba bertanya seperti itu.
“Tahu nggak?” ulang Kanya.
Hanya gelengan yang menjawab. Kanya pun tersenyum lembut. Ah, ia rindu masa-masa saat masih mendidik Aila dan Radit ketika mereka duduk di bangku SD. Aila dan Radit adalah anak yang selalu ingin tahu akan apa-apa yang mereka lihat. Namun, semenjak mereka duduk di kelas 9, mereka sudah sangat jarang berbincang dengan Kanya masalah apa yang dilihat di sekitar.
“Tian Ti itu artinya langit-bumi. Atau kalau dalam Bahasa Inggris sering disebut sky world. Dan kalian tahu tidak kalau Pagoda Tian Ti ini merupakan duplikat pagoda yang ada di Beijing, China sana?”
“Emang iya, Ma?” tanya Radit tidak percaya.
“Coba kamu search di google. Temple of Heaven.”
Radit pun membuka aplikasi pencarian itu dan mengetikkan apa yang ingin ia cari. Ia berseru tidak percaya ketika yang dikatakan mamanya benar adanya.
“Bener, Ma. Yang membedakan hanya undakannya saja. Kalau yang di sana lebih bagus,” kata Radit dengan kagum.
“Lihat dong, Dek.”
Radit menyerahkan handphone-nya pada Aila. Dan benar, Pagoda Tian Ti memang duplikat dari Temple of Heaven yang ada di Beijing, China.
“Mama tahu dari mana?” tanya Aila ingin tahu.
“Dulu saat pagoda ini mulai dibangun dan Mama berkunjung ke sini sama ibu-ibu komplek, Mama kepo dengan penjelasan penjaga yang mengatakan bahwa pagoda ini duplikat dengan pagoda yang ada di Beijing sana.”
Lalu kanya mulai menjelaskan beberapa informasi yang ia ketahui dari penjaga saat pertama kali berkunjung di pagoda ini.
“Yang membuat pagoda ini siapa, Ma?” tanya Radit.
“Namanya Pak Soetiadji Yudho. Dan yang perlu kalian ketahui, pekerja rela lembur untuk menyelesaikan bangunan dan pelataran pagoda ini sejak tiga bulan sebelum peresmian berlangsung,” jelas Kanya. “Diameter pagoda ini 60 meter kali 58 meter. Ukuran ini dua kali lipat dibanding dengan kembarannya,” lanjutnya.
Danu memandang wajah istrinya penuh cinta. Ia selalu jatuh cinta pada istrinya setiap Kanya menjelaskan sesuatu. Wajah Kanya akan tampak berbinar ketika ia menjelaskan suatu informasi.
Kanya membalas pandangan sang suami dengan tidak kalah hangatnya. Ia pun merasa lega karena berhasil mengalihkan kesedihan yang Aila rasakan.
Mereka pun melanjutkan berkeliling Kenpark dan menuju ke patung naga. Patung dua naga ini terdapat di kawasan Pantai Ria tepatnya di Klenteng Sanggar Agung. Dengan background laut lepas, hasil foto dengan patung dua naga besar yang ada di tepi pantai membuat hasil jepretan menjadi lebih cantik.
Di tempat ini—di belakang berdirinya dua patung naga yang meliuk berhadapan, terdapat Gerbang Dewi Kwan Im yang gagah menghadap laut. Tinggi patung tersebut adalah 20 meter, yang di kanan dan kirinya didampingi oleh dua penjaga Shan Nan dan Tong Nu serta keempat Maharaja Langit.
Inspirasi adanya patung Dewi Kwan Im berasal dari salah satu pekerja klenteng yang dimalam hari melihat penampakan wanita menggunakan jubah putih yang dipercaya sebagai Dewi Kwan Im.
Di depan Klenteng Sanggar Agung—di seberang jalan, terdapat patung Budha empat wajah. Ukuran patung tersebut adalah 9m x 9m dimana angka 9 melambangkan kesempurnaan. Bangunannya dibangun menggunakan empat pilar yang menyangga stupa di bagian atas patung tersebut.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat gagahnya Jembatan Suramadu—jembatan yang menghubungkan antara Surabaya dengan Pulau Madura—dari kawasan Kenpark. Terdapat pula wisata alam yang sering dimanfaatkan oleh pasangan kekasih untuk foto pre-wedding, yaitu Kincir Angin Belanda. Terdapat kincir angin di antara tanaman ilalang yang menjulang tinggi.
Kegiatan berkeliling wisata Kenpark berakhir dengan menikmati sunset di Pantai Ria. Keindahan pantai tersebut tidak kalah dengan pantai-pantai lain yang ada di Jawa Timur. Apalagi menikmati sunset di tepi pantai bersama orang tersayang semakin menciptakan kehangatan.
***
“Langsung pulang atau mau beli makan dulu ini, Ma?” tanya Radit saat mobil baru saja meninggalkan pintu keluar Kenpark. Ia menggantikan papanya untuk menyetir. Radit merasa menjadi anak yang tidak sopan jika membiarkan papanya harus kembali menyetir. Lagi pula ia telah memiliki lisensi untuk mengemudi mobil, akan sia-sia jika kemampuan menyetirnya dianggurkan terus.
“Beli mi pangsit yuk, Pa,” ajak Kanya.
“Boleh itu, Ma,” jawab Danu menyetujui ide Sang Istri. Radit dan Aila juga menyetujui rencana makan mi pangsit yang diingankan mamanya.
Radit memarkirkan mobil di tepi jalan berpaving yang tidak begitu lebar, jika ada dua mobil yang melintas maka harus ada salah satu mobil yang mengalah untuk berhenti dan mengijinkan mobil lain untuk melintas.
Danu, Kanya, Aila, dan Radit keluar dari mobil. Sebelum masuk ke kedai mi pangsit yang tidak begitu luas itu, Radit menekan auto-lock agar mobil tetap dalam kondisi aman saat ditinggalkan.
“Mau mi pangsit original atau yang ada tambahannya?” tanya Kanya setelah mereka semua duduk di kursi plastik berwarna biru. Meja panjang dari kayu menjadi tempat untuk menikmati semangkuk mi pangsit.
“Papa dengan tambahan telur puyuh, Ma,” ucap Danu.
“Aila yang original saja, Ma,” sahut Aila.
“Radit sama kayak Papa, Ma,” kata Radit.
Kanya mengangguk dan memanggil pedagang mi pangsit. Ia menyebutkan pesanan mi yang diinginkannya beserta pilihan Sang Suami dan kedua anaknya.
Empat mi dalam mangkok keramik putih, empat kuah dengan irisan daun bawang dalam mangkok plastik hijau kecil diantarkan oleh pedagang ke meja Aila. Aila menyalurkan mangkok mi dan kuah tersebut kepada empunya.
Aila mengambil lima buah cabai rawit yang telah direbua. Cabai itu berwarna hijau dan disediakan dalam wadah plastik kecil di meja. Cabai tersebut ia masukkan dalam kuah dan ia haluskan dengan sendok, dengan cara ditekan-tekan pada pinggiran mangkok. Setelah cabai mulai hancur, ia menuangkan kuah yang sudah bercampur dengan cabai tersebut di atas mi.
Aila kemudian mengaduk mi yang sudah ia siram dengan kuah agar potongan ayam yang menggunung di atas mi dapat merata. Ia menggunakan garpu dan sendok untuk mencampur itu.
Tidak lupa, Aila menambahkan acar mentimun yang juga disediakan dalam wadah plastik kecil. Ia mengambil beberapa sendok acar karena ia begitu mencintai olahan tersebut.
Danu, Kanya, dan Radit juga melakukan hal yang sama dengan Aila. Namun, Radit juga menambahkan cabai utuh ke dalam mangkok mi-nya. Ia sangat menyukai pedas. Jadi, selain cabai yang ia haluskan ia juga menambahkan cabai yang masih utuh.
Mereka mulai menikmati mi dengan khidmat. Keliling area Kenpark membuat tenaga terkuras banyak. Meskipun jam satu siang tadi sudah membeli makanan berat yang dijual di sana, saat ini mereka sudah mulai lapar lagi.
Selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah. Keringat yang menempel pada tubuh membuat badan menjadi gerah dan ingin segera menyiramnya dengan air untuk mendapatkan tubuh yang segar kembali.
***
Aila pagi ini sudah bersiap dengan celana training, kaos lengan panjang, kerudung instan, dan sepatu olahraganya. Kemarin, dalam perjalanan kembali ke rumah, Radit tiba-tiba mengajaknya untuk jogging di Taman Bungkul. Rencananya mereka akan menaiki sepeda dari rumah hingga ke Taman Bungkul.
Radit berkata bahwa ia rindu dengan keramaian di Taman Bungkul ketika hari Minggu, hari dimana banyak masyarakat yang melakukan olahraga karena jalanan yang dibebaskan dari kendaraan bermotor atau biasa disebut dengan car free day.
Aila sudah bersiap di ruang tamu dengan penampilannya yang sangat cocok untuk berolahraga. Ia masih menunggu Radit bersiap karena bocah itu baru bangun saat jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah enam.
“Papa beneran nggak mau ikut CFD?” tanya Aila saat ia bergabung dengan papanya yang duduk pada kursi teras.
“Papa di rumah saja, Kak. Minggu depan ya insya Allah Papa ikut,” ucap Danu.
“Yah, kalau Papa dan Mama ikutkan nanti kemungkinan aku dan Radit berdebat akan lebih kecil.”
“Ya makanya jangan saling memancing keributan, Kak,” tegur Danu.
“Biasanya juga Radit yang memancing keributan dulu, Pa,” adu Aila.
“Mana ada? Kakak juga biasanya memancing bahan untuk diributkan kok.” Radit tidak terima dengan tuduhan kakaknya.
“Belum juga berangkat sudah ribut kalian ini,” peringat Kanya yang baru saja bergabung ke teras rumah.
“Adik, nanti jaga kakak kamu dari segala kemungkinan yang ada ya. Baik saat di jalan atau saat di taman. Jangan sampai Kaka kamu digoda sama laki-laki lho.” Kanya dengan tegas meminta Radit untuk menjadi pelindung bagi kakak perempuannya.
“Siap, Ma.”
“Dan ingat, jangan berdebat di sana. Harus saling menjaga,” pesan Kanya.
“Siap, Nyonya.”
Aila dan Radit mulai mengayuh sepeda mereka setelah berpamitan dengan Danu dan Kanya. Radit meminta Aila yang berada di depan agar ia dapat memantau kakaknya dengan baik.
Setibanya mereka di Taman Bungkul, taman tersebut sudah mulai ramai dipadati oleh masyarakat Surabaya. Radit dan Aila memarkirkan sepeda mereka bersama jajaran motor, mereka lebih memilih menitipkan sepeda bersama motor karena ada petugas parkir sehingga sepeda mereka lebih aman dan terjaga. Tidak lupa, mereka juga melingkarkan tali pada badan sepeda dan menguncinya, menghindari orang berniat buruk yang ingin mengambil sepeda mereka.
Radit dan Aila berjalan bersisian. Mereka mulai berlari-lari kecil mengelilingi Taman Bungkul. Saat sudah beberapa kali mereka mengelilingi taman, tiba-tiba ada sebuah suara yang menyeru-memanggil nama Aila. Aila dan Radit seketika menghentikan langkahnya. Mereka menoleh ke sumber suara.
Tampak terlihat di pandangan Aila, Rena yang sedang didampingi oleh Angga dan Widiya.
Radit dan Aila berjalan mendekati mereka. Aila dan Radit bergantian mencium tangan Widiya.
“Tante Aila kemarin ke mana?” tanya Rena setelah Aila duduk di sampingnya. Radit juga telah menyusul untuk duduk di samping Sang Kakak.
“Tante kemarin keluar bersama Kakak ini,” jawab Aila sambil menepuk pundak Sang Adik pelan.
“Kakak ini siapa? Rena nggak pernah lihat.” Rena tampak mengingat dan mencerna apakah ia pernah bertemu dengan Radit.
“Hai, Rena. Kenalkan nama kakak, Radit.” Radit melambaikan tangannya berlebihan sehingga mendapat cibiran dari Aila. Angga dan Widiya hanya melihat interaksi Rena dengan sepasang adik kakak tersebut.
“Hai, Kak Radit,” sapa Rena ceria.
“Panggil Om Radit saja, Ren,” saran Aila.
Rena yang mendengarkan saran Aila, membuat ia memandang bingung dan bergantian ke arah kakak beradik tersebut.
“Kakak saja ya, Ren,” ucap Radit lembut.
“Iya, Kak Radit saja,” jawab Rena yang berhasil menciptakan senyuman kemenangan Radit. Hal itu membuat Aila mencibirnya.
Pagi itu, Aila dan Radit akhirnya bergabung dengan keluarga Angga untuk menikmati Minggu pagi di Taman Bungkul. Hingga suara seorang perempuan menginterupsi kehangatan yang tercipta.
Siapa ya perempuan itu?