Aila masih terus memikirkan akan siapa wanita yang hari Minggu lalu menyapa Angga. Ia hendak bertanya pada Angga seperti saat-saat dulu sebelum Angga menikah. Ia yang tanpa malu bertanya apa pun dan mengatakan apa pun tanpa canggung. Begitu pula dengan Angga.
Namun, semuanya berubah—bukan, tepatnya Aila yang sadar diri bahwa Angga telah menikah, ia sadar diri dan sadar jarak. Ia hanya bertemu dengan Angga kala mendiang istri Angga yang mengajaknya untuk bertemu. Dan ketika mendiang istri Angga telah tiada, Aila susah untuk kembali terbuka—blak-blakan dengan Angga seperti dulu. Maka, saat ini ia hanya bisa memendam rasa penasaran itu dalam hati.
Aila juga belum tenang hati karena Dewi yang belum juga membalas chat-nya. Dewi juga masih belum bersedia menerima panggilannya. Hari ini sepulang dari kantor ia dengan ditemani Radit berencana untuk berkunjung ke rumah Dewi.
“Nih, Ai,” ucap Ridho sambil memberikan selembar kertas putih.
Aila yang sedang menunduk karena baru saja mengirim pesan kepada Dewi lagi—entah sudah yang ke berapa kalinya segera mendongak. Dilihatnya Ridho dengan pandangan heran.
“Apa ini, Mas?” tanyanya bingung.
“Lihat, baca, pahami, dan resapi,” perintah Ridho dengan bahasa yang terlalu berlebihan.
Aila menjalankan perintah Ridho. Ia baca dan cermati untaian kata yang tersusun menjadi kalimat formal, khas suatu instansi.
“Ah, Mas Ridho!!” seru Aila heboh. Wajahnya berbinar. Matanya menunjukkan binar kebahagiaan yang sangat kentara.
“Sssttt.. Berisik tahu nggak, Ai. Tuh, dilihatin orang-orang,” decak Ridho kesal.
Dan benar saja, karyawan marketing di ruangan itu memandang ke arah Aila. Ada pandangan yang penasaran dan pandangan menghunus tajam karena mengganggu konsentrasi kerja. Membuatnya menganggukkan kepala meminta maaf.
“Mas Ridho memang editor terbaik ya. Nggak tipu-tipu juga,” puji Aila.
Pujian itu bukannya membuat Ridho melambung tinggi, tetapi membuat Ridho mual dan menunjukkan wajah malasnya.
“Nggak usah berisik. Hanya beberapa content writer saja yang ikut. Jadi dengan tegas aku perintahkan ke kamu jangan menjadi ember bocor,” peringat Ridho tegas.
Aila mencibir Ridho. Namun, dalam hati ia berjanji menjalankan amanat Ridho tersebut.
Laki-laki itu segera berjalan menjauh dari kubikel Aila. Aila tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Rencana jalan-jalannya dapat terealisasi setelah ini. Ia sudah rindu suasana Batu dan Malang yang selalu membuat diri ingin berkunjung terus ke sana.
‘Batu dan Malang, I’m coming,’ jerit batinnya tidak sabar.
***
Aila baru saja turun dari boncengan motor Radit. Radit mengulurkan tangannya, menerima helm Aila untuk ia sampirkan di atas tangki motor.
Aila merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan karena menggunakan helm. Radit juga menyisir tatanan rambutnya dengan jari-jarinya.
“Assalamu’alaikum, Pak. Selamat sore,” salam Aila.
“Wa’alaikumsalam, Mbak. Maaf mencari siapa?” tanya seorang satpam yang berbeda dengan satpam yang menjaga kala ia ke sini tempo hari. Mungkin memang ada dua satpam yang dipekerjakan dengan shift yang berbeda. Atau bahkan lebih.
“Dewinya ada, Pak?”
“Mbak Dewi baru saja masuk ke rumah, Mbak. Saya telepon Mbak Dewi dulu, ya,” ijin sang satpam.
Aila mengangguk. Ia dan Radit berdiri di depan pagar rumah Dewi. Nasib jika hendak bertamu ke rumah Dewi memang harus rela menunggu seperti ini.
“Silakan masuk, Mbak. Mbak Dewi di ruang tamu. Motornya dimasukkan saja,” ucap satpam tersebut.
Sebelum Aila diijinkan masuk, ia ditanyai dulu oleh satpam. Siapa namanya dan dengan siapa ia datang. Satpam tersebut juga dengan tegas memerintahkan Aila menunjukkan kartu identitasnya sebagai bukti kebenaran identitasnya. Sungguh ketat sekali penjagaan di rumah Dewi.
Radit menuntun motornya masuk ke halaman rumah Dewi. Aila sudah berjalan lebih dulu. Kemudian ia menunggu Sang Adik di undakan teras.
Aila dan Radit melangkah bersama menuju pintu rumah Dewi yang terbuat dari kayu. Kayu tersebut terlihat kokoh dengan warna cat yang mengkilap membuatnya semakin tampak mewah.
“Assalamu’alaikum.” Aila mengucap salam kemudian ia melangkah masuk saat Dewi menjawab salamnya dan memintanya masuk.
Mama Dewi—Devia juga ada di ruang tamu. Sedang fokus memotong tangkai bunga krisan warna kuning.
Aila dan Radit bergantian mencium tangan Devia yang baru saja disemprot dengan anti-septik karena baru saja berurusan dengan tangkai-tangkai bunga. Devia juga tidak lupa memeluk hangat Aila.
“Apa kabar, Ai? Sudah lama sekali ya kamu nggak main ke sini?” tanya Devia sambil memasukkan tangkai bunga krisan yang telah terpotong rapi ke dalam vas bunga. Vas bunga tersebut terihat mewah. Tampak jelas kualitas marmer yang digunakan bukan marmer murahan. Dalam vas bunga tersebut telah Devia isi dengan air untuk membuat bunga tetap segar.
Aila memasang senyum kaku. “Hehehe… Iya, Ma. Alhamdulillah baik. Mama sehat kan?” tanya Aila balik. Sejak Dewi dan Aila bersahabat semasa SMA, mama Dewi menghendaki—sedikit memaksa Aila agar Aila juga ikut memanggilnya dengan mama. Begitu pula dengan Dewi yang juga memanggil Kanya dengan mama.
Belum sempat Devia menjawab pertanyaan Aila, Dewi sudah menceletuk duluan, “Aila kan sibuk sama anak perempuannya, Ma."
“Hus, kamu itu. Kalian sudah baikan?”
“Ini Aila ke sini mau menjelaskan duduk permasalahannya, Ma,” jawab Aila malu.
“Dewinya saja itu yang ngambekan, Ai. Jadi harap maklum ya.”
“Ya Ailanya itu, Ma. Kan aku ngambek biar dia segera sadar. Kalau aku memaklumi kelakuan dia terus, nanti Aila gak sadar-sadar kalau ada banyak orang yang sayang sama dia,” jelas Dewi.
Devia menggeleng mendengar nada suara putrinya yang kesal. “Ya sudah kalian ngobrol dulu. Mama mau ambilkan minuman buat Aila dulu. Ini siapa, Ai? Dari tadi dianggurin saja.” Devia seakan baru tersadar bahwa Radit sedang duduk bergabung dengan wanita-wanita di ruang tamu yang terlihat sangat mewah itu.
“Saya Radit, Tante. Adiknya Kak Aila.” Radit memperkenalkan dirinya.
“Oh iya iya. Tante belum pernah lihat kamu selama ini. Hanya tahu dari cerita Dewi dan Aila saja. Panggil mama saja kayak Kak Aila, Dit,” pinta Devia.
Radit memasang senyum canggung. Ia juga menggaruk kulit kepalanya. Ia bingung apakah harus menjalankan pinta Devia atau menolaknya.
“Sudah nggak perlu malu. Panggil mama seperti Kak Aila saja. Sudah ya, mama tinggal dulu.”
“Iya, Ma,” jawab Radit dengan kaku.
Devia mulai berjalan masuk ke dalam rumah. Memberikan kesempatan pada Dewi dan Aila untuk berbicara.
“Dew, kamu marah besar ya ke aku?” tanya Aila pelan. Ia juga menunduk.
Dewi yang duduk di sofa depan Aila segera memandang penuh ke arah sahabatnya itu. “Nggak marah besar juga sih. Cuman sebel saja sama kamu,” jawab Dewi dengan wajah tertekuk.
“Iya. Maafkan aku ya, Dew. Aku minta maaf karena tidak segera menghubungi kamu saat aku bersama Rena. Maaf karena baru sempat memberi tahu kamu saat aku sudah tiba di rumah. Aku tahu aku bodoh, maafkan aku, Dew.”
Aila semakin menunduk. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Aku sudah menolak untuk menemani Rena keluar. Tetapi mereka tiba-tiba sudah tiba di lobi kantor. Aku juga menolak lagi ajakan mereka, tetapi melihat Rena menangis di lobi dan dilihat orang banyak, membuatku tak enak hati, Dew. Apalagi Tante Widiya juga yang memasang wajah memohon. Makanya aku akhirnya pasrah saja pergi bersama mereka.” Suara Aila agak serak. Ia juga sudah mulai menangis. Menangisi kesalahannya karena mengecewakan sahabat baiknya.
Dewi mendekat ke arah Aila. Ia memeluk hangat Aila. Ia juga ikut merasa bersalah karena membiarkan Aila terus menghubunginya dan ia abaikan. Mereka menangis bersamaan dalam pelukan itu.
Sebenarnya Dewi sudah mengetahui duduk permasalahan di antara mereka setelah melihat sebuah video yang dibuat oleh Aila. Video yang berisi kolase kenangan kebersamaan mereka selama ini. Diakhir video, Aila menjelaskan tentang apa yang terjadi waktu itu. Satpam yang mengatakan bahwa Aila datang ke rumah dan memberikan hadiah yang ternyata berisi flash disk, Dewi hari itu segera membuka isi flash disk tersebut.
“Ya gini dong, akur,” interupsi mama Dewi yang telah kembali ke ruang tamu dengan seorang asisten rumah tangga.
“Ini minuman dan camilannya silakan dinikmati ya,” ucap mama Dewi. Asisten tersebut kemudian kembali masuk ke dalam bagian rumah setelah meletakkan minuman dan camilan.
“Terima kasih, Ma,” ucap Aila.
“Iya, sama-sama. Kamu sering-sering ke sini, Ai. Akhir-akhir ini Mama dan Papa sering ada kegiatan di luar kota. Dewi yang memilih sibuk dengan pekerjaannya nggak mau kalau ikut Mama dan Papa, jadinya dia sendirian di rumah. Ya hanya ada asisten dan satpam saja,” jelas Devia.
“Iya, Ma. Insya Allah, Ma.”
“Maaf juga ya penjagaan di rumah masih ketat seperti dulu. Ya kamu tahulah, papanya Dewi nggak mau kejadian waktu lalu terulang lagi. Beliau tidak ingin kecolongan lagi.”
“Iya, Ma. Aila paham kok.”
“Syukurlah. Kalau gitu Mama mau siap-siap dulu, ya. Ada kondangan. Habis ini Papa pulang jadi mama harus sudah siap,” pamitnya lagi, ijin meninggalkan Aila. “Dewi kamu beneran nggak mau ikut?”
“Nggak deh, Ma. Di rumah saja sama Aila,” tolak Dewi.
Devia mengangguk. Ia kembali masuk ke dalam bagian rumah.
“Diminum dulu, Ai, Dit. Pasti panasnya jalanan membuat kalian haus.” Dewi mempersilakan para tamunya untuk menikmati hidangan yang disajikan.
Aila dan Radit mulai mengambil gelas berbentuk tabung yang berisi cairan berwarna orange. Sepertinya jus jeruk. Dan benar, saat Aila mulai meneguk minuman tersebut rasa khas jeruk berhasil diidentifikasi oleh lidahnya.
“Kamu pulang agak malam saja, Ai,” pinta Dewi dengan mata yang ia buat berkedip-kedip. Bermaksud membujuk Aila.
“Aku sih terserah Radit saja. Gimana, Dit?” tanya Aila pada adiknya yang sibuk dengan handphone-nya.
Berada di tengah-tengah obrolan perempuan membuatnya jenuh. Bermain game online menjadi pilihannya untuk membunuh rasa jenuh yang tercipta.
Radit mengalihkan pandangannya ke arah Sang Kakak. “Aku mau ngelanjutin olah data skripsi, Kak. Besok jadwalnya bimbingan dengan dosen.”
“Yah, maaf ya, Dew. Atau kamu main ke rumahku saja? Nginep di sana juga boleh. Mama pasti kangen sama kamu,” tawar Aila.
“Ijin papa dulu ya, Ai. Kalau nginep kayaknya nggak dibolehin selagi Mama dan Papa ada di rumah, Ai.”
Aila mengangguk paham. Kemudian mereka melanjutkan obrolan tentang kesibukan masing-masing selama tidak ada komunikasi di antara mereka. Aila juga menceritakan tentang kehebatan hatinya yang sudah mampu menolak ajakan Rena satu pekan lalu. Aila juga tidak lupa mengatakan pada Dewi bahwa ada seorang perempuan yang menyapa Angga saat CFD di Taman Bungkul.