Ibu panti mendekati Anindya yang sedang duduk melihat danau. “Nak,” “I-iya Bu,” Anindya menyeka sudut matanya menoleh, tak lupa tersenyum kecil membantu ibu panti duduk di sebelahnya. “Kamu kenapa, nak.” Ibu panti mengusap lengan Anindya, tersenyum penuh keibuan. “Tidak Bu. Anin hanya berpikir, semua orang membicarakan bagaimana Anindya selalu hoki dalam hal apapun. Sayangnya, mereka tidak tahu dibalik keberuntungan itu Anin harus kehilangan hal yang paling berharga dalam diri Anin.” tutur Anindya menundukkan wajahnya, dadanya kembali sesak. “Nak,” “Siapa Anindya Basmara sebenarnya, Bu.” Lirih Anindya, perlahan isakannya terdengar oleh ibu panti. Beliau pun bergeser lebih dekat kemudian memeluk Anindya. “Yang sabar nak, insyaallah kalau kamu percaya dengan keindahan sang pencipta, k

