Adyatma dan Fabian duduk saling berhadapan, di atas meja rekaman suara terdengar jelas orang sedang berbincang. Perbincangan itu terdengar menarik, Adyatma tak henti-hentinya mendengus tertawa kecil. Fabian menghela nafas panjang melipat kedua tangan di d**a. “Waw, penemuan baru ternyata. Pantas saja, aura gadis itu sangat berbeda seperti menyimpan permata safir di balik kesederhanaan nya. Jadi bagaimana, apa yang bakal lu lakuin sekarang.”mengarahkan tatapan nya pada Adyatma. Lelaki itu menengadah menatap langit-langit, deringan ponsel Fabian memecahkan keheningan. “Kakek?” Adyatma mengangguk, Fabian pun menerima telepon tuan Dante. “Halo kakek,” ‘Ady bersamamu?’ “Ya, kakek. Sebentar…,”Fabian memberikan ponselnya. Namun terdengar suara tuan Dante memintanya untuk membesarkan volu

