Asrani terbaring di ranjang rumah sakit, matanya menatap langit-langit kamar inap sambil memegang ujung selimut. Abizar duduk disisi tempat tidur, tangannya terlipat dan wajahnya serius. Ruangan itu hening, sesaat, "Asrani," suara Abizar memecah kesunyian, "kita harus bicara dengan kakak. Kita perlu membuatnya mengerti bahwa kita…." Asrani menoleh, matanya yang bulat menatap Abizar. "Emang berani? Abang mungkin lembut sekarang, siapa yang tau nanti. Bagaimana kalau abang masih belum bisa memaafkan kita?" Abizar menghela napas, "Kita harus mencoba, Ran. Kita nggak bisa terus seperti ini. Bagaskara adalah satu-satunya keluarga yang kita punya." Asrani mengangguk pelan. "Kamu benar, Abi. Aku hanya takut saat kita mendekat membuatnya teringat masa lalu." Abizar meraih tangan Asrani, memeg

