Fabian mengantar dokter keluar, setelah itu kembali ke ruang tamu. Dia menjatuhkan dirinya tak jauh dari sahabatnya. “Sekarang bagaimana, gue rasa dia akan semakin sakit kenyataan bahwa dia tidak ingat apa-apa.” Ujar Fabian memulai pembicaraan. “Untuk sekarang, mending Lo temenin dia bawa kemana gitu. Urusan kantor biar gue yang urus.” Tambah Fabian. Adyatma tampak diam, kedua siku bertumpu pada pahanya terlihat tenang memikirkan semua, lalu mengangguk. Fabian melirik Adyatma, dia langsung merinding melihat ekspresi berbeda sahabatnya. “Kalau ku hancurkan saja, bagaimana?” Adyatma menoleh, iris mata nya nampak menyeramkan. “Eits, sabar bro. Tahan ya tahan, huft… tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan.” Fabian menaik turunkan kedua tangannya menenangkan Adyatma. “Kak Anin ma

