Di depan semua orang Rimay selalu ceria, tidak pernah menunjukkan bahwa dia terluka. Menyembunyikan perasaannya serapat mungkin sampai Ravin yang sudah tinggal bersama tidak sadar. Senyuman yang hangat setiap hari, sikap cerita seolah tanpa beban, optimis dan berpikiran positif. Siapa yang menduga bahwa semua itu hanya untuk menutupi sesuatu? Hal yang Ravin sesali adalah Rimay tidak membuka hati untuknya, belum percaya atau tidak mau menunjukkan sisi aslinya. Di antara dua hal itu. Rimay masih menganggap dia orang lain. Cukup menyedihkan. "Aku ambilin makan ya?" tanya Ravin. Tangannya meraba pintu lemari. Sudah tiga jam Rimay berada di dalam sana, mengurung diri tidak mau keluar. Hanya isak tangis yang terdengar, ketika Ravin paksa keluar Rimay malah kesulitan bernapas. Dia butuh rua

