Rupanya perkataan Presdir tentang Ji Ho terngiang dan menjadi pikiran. Apakah benar Ji Ho menyukaiku? Berpikir seperti itu rasanya aku menjadi orang yang ke-ge-eran. Semalaman aku memikirkan perkataan Presdir tapi tetap saja tidak menemukan titik terang. Aku penasaran dengan kenyataan yang mungkin tersembunyi atau setidaknya menuntaskan rasa ge-er. Pagi itu setelah kelas selesai aku ke perpustakaan, tempat di mana Ji Ho biasa berada. Jajaran buku di rak perpustakaan kampus hanya kulewati. Sembari terus berpikir tentang Ji Ho. Mencoba mengingat apakah ada kejadian janggal di persahabatan kami atau kelakuan yang menandakan dia menyukaiku. Aku melirik jam dinding, pukul sebelas. Seharusnya jam segini Ji Ho sudah selesai kelas pagi. Aku terus berjalan dengan tangan dan menyapu buku yang

