Bab 9

1090 Kata
Dalam sekejap, Ki Jalapada menghilang, seperti biasa. Blaaaassstt… Hanya tersisa asap kelabu yang perlahan mengepul ke udara malam. Joni sudah mulai terbiasa dengan kemampuan Ki Jalapada itu—tak lagi terkejut seperti pertama kali. Meski begitu, hatinya masih terasa berat, karena nyawa seseorang telah hilang di tangannya. Tapi pekerjaan harus dilanjutkan. Barang misterius itu menunggu untuk diantar. Tiba-tiba, notifikasi muncul dari aplikasi JalapadaJek di layar ponselnya: "Transporter Joni, waktumu tinggal setengah jam lagi. Jangan terlambat atau misi akan gagal." Dengan cekatan, Joni menyalakan motornya. Box di belakang motor berdenyut samar, seolah punya kehidupan sendiri. "Sebenarnya barang apa yang kubawa ini? Mencurigakan banget," gumam Joni sambil memacu kendaraan. Notifikasi kembali muncul: "10 menit tersisa, Transporter." "Bah, bawel amat nih aplikasi," keluh Joni sambil menyalip motor lain, mengerem tajam, lalu melesat lagi. Wusss… wuss… wusss… Joni semakin ngebut, manuvernya gesit seperti Valentino Rossi di lintasan. Dan tepat jam 10 malam, ia tiba di tujuan. Di depannya berdiri sebuah rumah mirip kastil, angker dan sunyi. Pepohonan mati mengelilinginya, ranting-ranting keringnya menjulang tanpa daun, menari-nari diterpa angin malam. "Serem amat nih rumah… duh, bulu kuduk gue jadi merinding gini," ucap Joni, menelan ludah dan menatap kotak misterius di belakang motor, yang kini terasa semakin berat, seakan menuntut rahasia yang siap terungkap. Joni pun menekan bel. Ting nong… Gerbang kayu besar dengan ukiran aneh perlahan terbuka. Krek… krek… krek… Suara deritnya bergema di halaman, membuat bulu kuduk Joni berdiri semakin tegak. Ia menelan ludah, menatap sekeliling dengan waspada. Anehnya, tak ada seorang pun yang muncul. Rumah itu tetap sunyi, seperti menunggu sesuatu. Joni mulai merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Tiba-tiba, sebuah bisikan lembut terdengar di samping telinganya: "Masuklah, cah ganteng…" Joni menoleh cepat, tapi tak melihat siapa pun. Hawa dingin merayap di kulitnya, tapi di dalam hati ada rasa penasaran—dan sedikit kesal karena merasa “dibecandain” oleh sesuatu yang misterius. "Eh, serius nih? Kok… serem banget sih," gumamnya sambil menguatkan nyali, menapak perlahan masuk ke halaman kastil yang gelap itu. Pintu rumah terbuka… dan seketika angin beraroma melati menyapu wajah Joni, membuat bulu kuduknya kembali merinding. Tanpa benar-benar sadar, kakinya melangkah sendiri ke dalam rumah. Ruang tamu yang luas dan megah terbentang di hadapannya, diterangi cahaya lilin yang menari-nari di dinding. Dari tangga, seorang wanita cantik turun dengan anggun. Pakaian sinden berwarna kehijauan menempel rapi di tubuhnya, riasan wajahnya mencolok namun memikat. Senyum tipisnya menatap Joni, menimbulkan sensasi aneh di hati Joni—antara kagum dan was-was. "Hmmm… cah ganteng. Akhirnya kau datang juga. Hampir saja kau telat," ucapnya dengan suara lembut namun penuh wibawa, seakan memegang kendali penuh atas situasi. Joni menelan ludah, pandangannya tak lepas dari wanita itu, tapi pikirannya tetap waspada. “Ini… siapa sih? Kok rasanya aneh banget ya…” gumamnya dalam hati sambil menahan napas. Joni masih berdiri di ruang tamu, menatap wanita sinden itu dengan mata setengah penasaran, setengah waspada. Wanita itu melangkah mendekat, dan setiap langkahnya seolah menggetarkan lantai kayu di bawah. "Aku Transporter Joni," kata Joni akhirnya, mencoba terdengar lebih yakin daripada yang ia rasakan. Box di belakangnya masih berdenyut pelan, seperti menunggu perintah. Wanita itu tersenyum tipis, matanya berkilau seakan membaca pikiran Joni. "Ah, jadi ini kau. Barang itu… sudah kusiapkan tempatnya. Tapi sebelum itu, kau harus tahu—apa yang kau bawa bukan sekadar kotak biasa." Joni menelan ludah, bulu kuduknya berdiri lagi. “Waduh, ini mulai seru tapi serem juga nih…” gumamnya. Ia menatap kotak yang kini terasa lebih berat, seolah menuntut kesadaran Joni. "Tenang saja, cah ganteng," lanjut wanita itu sambil melingkarkan jarinya di udara, menciptakan cahaya hijau samar yang menari di sekeliling mereka. "Kalau kau berhasil menyelesaikan tugas ini, kau akan tahu apa yang ada di dalamnya… dan mungkin… hidupmu takkan sama lagi." Joni mengerjap, campuran antara penasaran dan sedikit panik. “Hidup gue… takkan sama lagi? Waduh, kok kayaknya gue masuk ke film horor beneran ya ini…” Tapi sebelum ia sempat bicara lebih jauh, box di belakangnya bergetar lebih keras, seolah merespons kehadiran wanita itu. Joni menghela napas, menguatkan diri. “Oke, Joni. Santai. Santai… ini cuma pekerjaan antar barang, kan?” Wanita itu menatap Joni dengan senyum tipis yang menakutkan, matanya berkilau hijau seperti api kecil. Suaranya lembut tapi dingin, menembus suasana ruang tamu yang sunyi. "Namaku Nyai Dasima," ucapnya pelan, membuat Joni hampir tersedak. Jantungnya berdegup kencang. Box di belakang Joni berdenyut lebih kuat, seolah ikut menanggapi pengumuman itu. Ia menoleh sebentar, lalu menatap wanita di hadapannya. "Dan… apa yang kau bawa itu," lanjut Nyai Dasima sambil melangkah mendekat, "adalah jantung seseorang yang baru saja meninggal secara normal. Masih hangat. Masih… berisi." Joni menelan ludah, bulu kuduknya berdiri tegak. “Waduh… oke, ini udah mulai serem banget. Gue cuma mau antar barang, kenapa jadi kayak misi horor tingkat dewa gini…” gumamnya dalam hati. Nyai Dasima mengulurkan tangannya, dan cahaya hijau samar menari-nari di udara di sekeliling mereka. "Aku tidak sembarangan memilih transporter. Barang ini… penting. Dan kau… harus menjaga jantung itu dengan hidupmu sendiri." Joni menatap kotak itu, yang kini berdenyut lebih keras, seperti ada kehidupan di dalamnya. Ia merasa tangan dan kakinya berat, tapi rasa penasaran dan tanggung jawab membuatnya menahan diri. "Kenapa, cah ganteng? Apa kau takut?" tanya Nyai Dasima sambil membuka kotak, memperlihatkan jantung segar yang masih berdenyut. Joni terdiam. Kata-kata seakan tersangkut di tenggorokannya. Matanya membesar, wajahnya langsung pucat ketika melihat taring tajam muncul di gigi Nyai Dasima. Di dalam hatinya, ia ingin lari, kabur secepat mungkin. Tapi kakinya bagai terpatri di lantai, tak mampu bergerak. "Cah ganteng… marilah kita nikmati jantung yang segar ini. Aku ingin ada kawan untuk bersantap ria. Bagaimana, cah ganteng? Hihihi…", ujar Nyai Dasima dengan senyum yang makin mengerikan, matanya berkilau hijau di cahaya lilin. Joni menelan ludah, napasnya tersengal. "A… a… aku… aku tak mau… a… aku mau pulang saja…" suaranya gemetar, hampir tak terdengar. Nyai Dasima tertawa pelan, suaranya seperti deru angin di malam gelap. "Oh, cah ganteng… kau tak bisa pulang begitu saja… barang ini… dan kau… sudah terikat pada malam ini." Nyai Dasima perlahan mendekat, tubuhnya merapat ke Joni. Pandangannya tertuju pada lehernya, matanya berkilau hijau di cahaya lilin yang temaram. Joni membeku. Tubuhnya bagai kaku, tak mampu bergerak sama sekali. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal-sengal, dan rasa takut mulai mencekik tenggorokannya. Sambil telunjuknya menyentuh leher Joni dengan lembut namun dingin, Nyai Dasima berkata dengan suara manis tapi menyeramkan: "Tapi sebelum kita berpesta… bagaimana bila kau bersedia untuk menjadi bagian dariku… hihihi…" Mulut Nyai Dasima terbuka, taring tajamnya menampakkan kilau mengerikan, siap menembus kulit Joni. Aroma melati bercampur darah memenuhi udara, membuat Joni hampir pingsan karena campuran takut dan mual.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN