Joni merasa dunia berputar. Aroma melati bercampur anyir darah membuat perutnya mual. Taring Nyai Dasima berkilau di bawah cahaya lilin, mata hijaunya seperti dua bola api kecil yang lapar.
“Jangan… jangan deket-deket!” teriak Joni sambil mundur selangkah. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai kayu yang dingin. Kotak hitam di tangannya berdenyut semakin kencang, seolah jantung di dalamnya ikut berdebar ketakutan.
Nyai Dasima tertawa pelan, suaranya seperti desir angin malam yang menusuk tulang. “Cah ganteng… kau sudah membawa makan malamku. Sekarang, kau sendiri bisa jadi pencuci mulut yang manis.”
Tubuh wanita itu meluncur mendekat tanpa menyentuh lantai—seperti melayang. Jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh d**a Joni. Rasa dingin itu menjalar cepat, membuat napasnya tersengal.
Tiba-tiba—
Ting!
Notifikasi JalapadaJek berbunyi di ponsel Joni yang masih di saku jaket.
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Misi Spesial Terpicu!
Tingkat Misi: Level 4 (Berbahaya)
Tugas: Selamatkan diri dan jaga “barang” hingga aman.
Reward: +500.000 + 4 Poin Stat + Skill Baru (jika berhasil)
Peringatan: Kegagalan = Level turun ke 1 + Kemungkinan kematian permanen.
Joni menggeram. “Sekarang lo kasih misi?! Gue lagi mau dimakan setan nih!”
Dengan sisa tenaga, ia mendorong tubuh Nyai Dasima sekuat tenaga. Tubuhnya yang sudah ditingkatkan Dexterity membuat dorongan itu cukup kuat. Nyai Dasima terdorong mundur dua langkah, tapi hanya tertawa semakin lebar.
“Lucu sekali kau, cah ganteng. Kekuatan kecil begitu tak akan cukup melawan aku.”
Nyai Dasima mengangkat tangan. Cahaya hijau pekat muncul di telapaknya, membentuk bola energi yang berputar. Aroma melati semakin menyengat, bercampur bau tanah basah dan darah.
Joni tak punya pilihan. Ia memeluk kotak hitam erat-erat, lalu berlari menuju pintu masuk yang tadi terbuka. Kakinya melesat cepat—lebih cepat dari biasanya. Lantai kayu berderit keras di bawah langkahnya.
“Ke mana kau mau lari?!” jerit Nyai Dasima. Suaranya berubah menjadi raungan yang menggema di seluruh ruangan.
Bola cahaya hijau melesat ke arah Joni. Ia menunduk refleks, bola itu menghantam dinding di belakangnya. Kayu meledak, serpihan beterbangan.
Joni terus berlari keluar ke halaman. Angin malam yang dingin menyambutnya, tapi di belakang, langkah ringan Nyai Dasima semakin mendekat.
“Dexterity gue naik, tapi lawannya setan beneran!” gumam Joni sambil melompat melewati gerbang kayu yang setengah terbuka.
Motornya masih terparkir di luar. Dengan satu tangan memegang kotak, ia menyalakan mesin. Motor meraung hidup. Joni gas pol, ban belakang menyemburkan kerikil.
Di spion, ia melihat siluet Nyai Dasima melayang keluar dari rumah, rambutnya tergerai panjang seperti asap hitam.
“Gue nggak mau mati di sini!” teriak Joni sambil menyetir membabi buta menuju jalan raya Serpong yang lebih ramai.
Jalanan malam di Serpong terasa lebih panjang dari biasanya. Joni ngebut, angin menusuk wajahnya yang tak beralas helm. Kotak hitam ia ikat erat di depan d**a dengan jaketnya—tak mau ambil risiko jatuh.
Di belakang, bayangan hijau samar terus mengejar. Nyai Dasima tak terlihat jelas, tapi Joni bisa merasakan kehadirannya—seperti hembusan angin dingin yang tak pernah berhenti.
Ting! Ting!
Notifikasi bertubi-tubi masuk.
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Skill sementara terbuka karena bahaya ekstrem: Refleks Tingkat Tinggi (durasi 10 menit).
Gunakan dengan bijak, Transporter.
Joni merasakan tubuhnya semakin ringan. Gerakan menyetirnya jadi lebih presisi, seperti sudah hafal setiap tikungan.
“Tapi lawannya bukan manusia biasa!” keluhnya.
Tiba-tiba, di depan muncul lampu merah. Biasanya Joni akan nyelonong lewat gang, tapi ingatan akan jebakan ojol palsu kemarin membuatnya ragu. Ia mengerem mendadak, motor hampir oleng.
Di persimpangan itu, tiga sosok berpakaian hitam berdiri menghalangi jalan. Mereka bukan ojol biasa—mata mereka juga berkilau hijau samar.
“Anak buahnya…” gumam Joni.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan. Jalanan di depan tiba-tiba dipenuhi kabut tebal berwarna hijau.
Joni tak bisa mundur—Nyai Dasima sudah semakin dekat dari belakang. Ia memilih maju. Gas motornya ditarik dalam-dalam, tubuhnya membungkuk rendah.
“Maaf ya, bro-bro… gue lagi buru-buru!”
Motor melesat masuk ke kabut. Dunia di sekitarnya berubah gelap. Suara tawa Nyai Dasima terdengar dari segala arah.
“Kau tak bisa lari dari ikatan malam ini, cah ganteng…”
Joni merasakan tangannya yang memegang setang mulai dingin. Penglihatannya kabur. Tapi skill Refleks Tingkat Tinggi membuatnya tetap fokus. Ia mengandalkan insting saja—belok kiri, belok kanan, menghindari bayangan-bayangan yang mencoba meraihnya.
Setelah hampir satu menit yang terasa seperti selamanya, kabut mulai menipis. Joni keluar ke jalan tol yang lebih terang, lampu-lampu mobil lain mulai terlihat.
“Alhamdulillah… masih hidup,” desahnya.
Tapi di spion, Nyai Dasima masih terlihat—kini wujudnya lebih jelas, melayang di atas motor dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Joni menggertakkan gigi. “Ki Jalapada… kalau lo lagi denger, tolong bantu dikit lah!”
Seolah mendengar permintaannya, ponsel bergetar lagi.
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Ki Jalapada sedang sibuk. Gunakan poin statmu sekarang jika perlu.
Joni cepat membuka menu stat di aplikasi sambil tetap menyetir. Ia punya 6 poin dari sebelumnya (karena belum dipakai semua). Tanpa pikir panjang, ia alokasikan 4 poin ke Power dan 2 ke Intelligence.
Tubuhnya langsung terasa panas. Otot-ototnya menggembung sedikit, dan pikirannya lebih jernih.
“Wah… ini beda banget rasanya.”
Dengan tenaga baru, Joni membanting setang ke arah gang kecil di pinggir tol. Ia sengaja masuk ke area padat penduduk—tempat di mana makhluk seperti Nyai Dasima mungkin lebih susah menampakkan diri secara terang-terangan.
Strategi itu berhasil sebagian. Bayangan hijau di belakang mulai menjauh, tapi Joni tahu ini hanya sementara.
Ia berhenti di sebuah masjid kecil yang masih terbuka. Turun dari motor, napasnya tersengal. Kotak hitam masih berdenyut pelan di dadanya.
“Gue harus antar ini ke mana lagi? Aplikasi nggak kasih alamat baru,” gumamnya sambil duduk di teras masjid.
Tiba-tiba, seorang kakek tua berpeci duduk di sampingnya. Bukan Ki Jalapada—tapi orang biasa.
“Anak muda… wajahmu pucat sekali. Ada yang bisa dibantu?” tanya kakek itu ramah.
Joni menggeleng lemah. “Nggak apa-apa, Kek. Cuma… capek aja.”
Kakek itu tersenyum. “Hati-hati malam ini. Katanya ada yang suka mengganggu orang yang bawa ‘barang panas’.”
Joni langsung menegang. Tapi sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, kakek itu sudah bangkit dan pergi, meninggalkan asap rokok yang mengepul pelan.
Pagi harinya, Joni akhirnya tiba di sebuah alamat baru yang muncul di aplikasi setelah ia selamat dari kejaran. Lokasinya sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta Selatan. Ia menyerahkan kotak hitam kepada seorang pria berjas hitam yang tak banyak bicara.
Begitu kotak diterima, notifikasi muncul:
[JALAPADAJEK SYSTEM]
Misi Berhasil!
Level ↑ : 5
Reward: Rp500.000 + 4 Poin Stat + Skill Baru: Aura Perlindungan (melindungi dari serangan supranatural tingkat rendah selama 30 menit).
Bonus: Tubuhmu kini kebal terhadap gigitan makhluk malam (sementara).
Joni merasa lega sekaligus lelah. Uang masuk ke rekeningnya, tubuhnya terasa lebih kuat lagi. Tapi trauma semalam masih melekat.
Ia pulang ke rumah dengan motor. Ibunya sudah menunggu di depan pintu, wajahnya campur antara khawatir dan marah.
“Lho, kok baru pulang pagi-pagi begini? Dari mana aja kamu semalaman?!” oceh ibunya.
Joni tersenyum lelah. “Kerja, Mak. Orderan jauh. Nih, Joni setor lebih banyak hari ini.”
Ia menyerahkan sebagian uang. Ibunya langsung melunak, tapi tetap mengomel pelan.
Malam itu, saat Joni berbaring di kasur, Ki Jalapada muncul lagi di sudut kamar—kali ini duduk santai di kursi kayu.
“Bagus, Joni. Kau lulus ujian pertamamu melawan makhluk tingkat menengah,” kata Ki Jalapada dengan suara tenang.
Joni bangkit duduk. “Ki… itu Nyai Dasima beneran? Dan jantung di kotak itu… buat apa?”
Ki Jalapada tersenyum tipis. “Dunia ini lebih gelap dari yang kau kira. Ada banyak pihak yang ingin mengganggu keseimbangan. Kau sekarang bagian dari penjaga keseimbangan itu. Tapi ingat… semakin tinggi levelmu, semakin banyak yang akan memburumu. Bahkan dari dalam.”
Joni menghela napas panjang. “Gue cuma mau kerja ojol biasa, Ki. Bukan jadi pembunuh atau pemburu setan.”
“Tidak ada yang biasa lagi setelah kau terpilih,” jawab Ki Jalapada sambil berdiri. “Istirahatlah. Besok ada misi baru. Kali ini… mungkin melibatkan temanmu sesama ojol.”
Sebelum menghilang, Ki Jalapada menambahkan, “Dan Joni… jangan pernah buka kotak yang kau antar. Beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur.”
Blasss!
Kakek itu lenyap lagi.
Joni merebahkan diri kembali. Matanya menatap langit-langit kamar yang retak. Di luar, suara motor ojol lain lewat pelan. Hidupnya yang dulu sepi orderan kini penuh bahaya.
Tapi entah kenapa… ada sedikit rasa excited yang mulai tumbuh di dadanya.
“Level 5… besok gue coba alokasikan poin ke Intelligence deh,” gumamnya sebelum tertidur.
Di alam mimpi, padepokan silat itu muncul lagi. Kali ini, guru muda yang mirip Ki Jalapada tersenyum padanya.
“Latihan malam ini akan lebih berat, muridku.”
Joni tersenyum dalam tidur. Petualangan JalapadaJek baru saja memasuki babak yang lebih gelap.