Bab 12

1670 Kata
Siang itu, setelah mengantar Rina sampai kampus, Joni merasa hari berjalan lebih ringan. Senyumnya tak kunjung hilang meski sudah kembali nongkrong di pinggir jalan menunggu orderan SnapJek. Ia sesekali membuka chat w******p, membaca ulang pesan Rina pagi tadi, lalu tersenyum sendiri seperti orang bodoh. “Gila… ceweknya asik banget,” gumamnya pelan sambil menggeleng. Di kejauhan, di balik pohon rindang di pinggir kampus UI, sepasang mata tajam mengawasi. Pria berjas hitam rapi, rambut disisir ke belakang, berdiri diam tanpa ekspresi. Namanya Jack — atau setidaknya itu nama yang ia pakai di dunia manusia. Kulitnya pucat sempurna, mata hitamnya terlalu tajam untuk ukuran orang biasa. Ia anggota klan vampiric kuno yang menyusup ke Jakarta sejak bertahun-tahun lalu, hidup di antara manusia dengan identitas palsu sebagai pengusaha muda. Dulu, Rina adalah pacarnya. Hubungan mereka berjalan hampir setahun — manis di awal, penuh perhatian yang berlebihan di tengah. Jack selalu tahu di mana Rina berada, selalu muncul “kebetulan” di tempat yang sama, selalu mengirim pesan setiap jam. Rina awalnya merasa disayang, tapi lama-lama merasa tercekik. Jack tak pernah mau Rina berteman dekat dengan cowok lain, tak suka Rina pulang malam, dan semakin obsesif saat Rina mulai sibuk kuliah. Akhirnya Rina memutuskan hubungan itu tiga bulan lalu. “Kita nggak cocok, Jack. Kamu terlalu… mengatur,” katanya saat itu dengan suara gemetar. Jack tak menerima. Senyumnya saat itu dingin. “Kamu milikku, Rina. Selamanya.” Sejak saat itu, Jack menghilang dari kehidupan Rina secara langsung. Tapi ia tak pernah benar-benar pergi. Ia mengawasi dari jauh — melalui bayangan, melalui orang suruhan, dan kadang dengan kemampuan vampiric-nya yang membuatnya bisa bergerak tanpa terlihat oleh mata biasa. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia melihat Rina tersenyum lebar saat turun dari motor ojol biasa. Senyum yang dulu hanya untuknya. Mata Jack menyipit. Jari-jarinya mengepal pelan hingga kuku memutih. “Ojol…?” gumamnya pelan, suaranya rendah dan dingin seperti hembusan angin malam. Ia mengikuti dari kejauhan saat Joni melaju pergi. Bau manusia biasa itu tercium jelas — campur keringat, bensin, dan sedikit harapan baru yang membuat Jack muak. “Dia berani mendekati milikku,” bisik Jack sambil tersenyum tipis, memperlihatkan taring kecil yang hampir tak terlihat. “Kita lihat berapa lama kau bertahan, pengemudi kecil.” Sore harinya, Joni baru saja selesai orderan dan sedang istirahat di warung kopi pinggir jalan ketika w******p-nya bergetar lagi. Rina: Mas Joni, makasih ya tadi pagi. Baksonya enak banget. Besok pagi bisa jemput lagi nggak? Jam 7.30 ya, tempat yang sama. Saya traktir kopi deh kalau mau Joni langsung duduk tegak. Senyumnya melebar sampai telinga. Joni: Bisa banget, Mbak! Jam 7.30 saya dateng. Kopi nggak usah, cukup traktir senyum aja udah cukup Rina balas dengan emoji tertawa dan stiker lucu. Percakapan mereka berlanjut ringan — Rina cerita tentang tugas kelompok yang ribet, Joni balas dengan cerita lucu soal penumpang yang minta diantar ke pasar tapi bawa ayam hidup di tas. Di kosannya, Rina tersenyum sambil membaca chat itu. Untuk pertama kalinya setelah putus dengan Jack, ia merasa nyaman berbicara dengan cowok tanpa merasa diawasi atau diinterogasi. Joni terasa… biasa. Hangat. Aman. Tapi di luar jendela kosannya, di atap gedung seberang, Jack berdiri diam dalam bayangan. Matanya menyala merah samar di kegelapan. Ia mendengar percakapan mereka melalui kemampuan pendengarannya yang tajam — bukan kata demi kata, tapi cukup untuk tahu bahwa Rina sedang tertawa karena orang lain. “Dia tertawa lagi…” gumam Jack. Suaranya penuh amarah tertahan. “Dulu kau hanya tertawa untukku, Rina.” Ia melompat turun dari atap dengan gerakan tak kasat mata, mendarat tanpa suara di gang sempit. Klan vampiric-nya melarang intervensi terlalu terang-terangan terhadap manusia biasa, tapi obsesi Jack sudah melebihi aturan itu. Ia tak peduli lagi. Rina adalah miliknya — darahnya yang manis, senyumnya yang dulu hanya untuknya, dan masa depannya yang seharusnya bersama klan. Jack mengeluarkan ponsel, membuka foto lama Rina yang ia simpan ratusan. Jarinya mengusap layar dengan lembut, tapi matanya dingin. “Ojol itu… harus dihilangkan sebelum terlalu dekat.” Keesokan paginya, Joni datang tepat waktu. Rina sudah menunggu di depan kos dengan dua gelas kopi takeaway di tangan. Kali ini canggungnya lebih sedikit — mereka langsung saling sapa dengan senyum yang lebih natural. “Pagi, Mas Joni. Ini kopinya, s**u gula sedikit kan? Saya tebak aja,” kata Rina sambil menyodorkan gelas. Joni menerima dengan tangan sedikit gemetar karena senang. “Wah, pas banget. Makasih, Mbak. Naik yuk.” Rina naik ke motor. Kali ini tangannya memegang jaket Joni dengan lebih santai, bahkan sedikit merapat saat motor belok. Joni merasa hangat di d**a — bukan hanya karena kopi. Perjalanan berjalan lancar. Mereka ngobrol ringan tentang rencana akhir pekan Rina dan keinginan Joni suatu hari nanti beli motor yang lebih bagus untuk ibunya. Tawa kecil sesekali terdengar. Tapi di belakang mereka, sekitar 200 meter, sebuah mobil hitam mengikuti pelan. Jack duduk di balik kemudi, tangannya mencengkeram setir hingga retak kecil terdengar. Matanya tak lepas dari punggung Rina yang sedang tertawa di jok belakang motor Joni. “ Tertawa lagi… dengan dia,” desis Jack. Gigi taringnya sedikit memanjang karena emosi. “Kau lupa siapa yang dulu melindungimu dari dunia ini, Rina?” Ia tak langsung menyerang. Masih terlalu terang, terlalu banyak saksi. Tapi obsesinya semakin membara. Jack sudah memutuskan — ojol biasa ini harus dihilangkan. Perlahan. Agar Rina kembali ketakutan dan lari ke pelukannya seperti dulu. Sementara itu, Joni dan Rina sampai di kampus. Rina turun, menyerahkan helm cadangan yang ia pinjam. “Besok lagi ya, Mas?” tanya Rina dengan senyum yang membuat Joni deg-degan. “Boleh banget,” jawab Joni, suaranya lembut. Mereka berpisah dengan lambaian tangan. Joni pergi dengan hati berbunga-bunga. Di kejauhan, Jack tersenyum dingin dari dalam mobil. “Selamat menikmati hari ini, pengemudi kecil. Besok… kita lihat apakah kau masih bisa tersenyum.” Malam itu, Joni pulang dengan hati yang masih berbunga-bunga. Ia baru saja chat singkat dengan Rina — hanya saling ucap “selamat malam” dan emoji senyum. Tapi itu sudah cukup membuatnya tersenyum sendiri sepanjang jalan. Ibunya menyambut di teras dengan secangkir teh hangat. “Lagi senyum-senyum sendiri dari tadi. Ada apa sih, Jon? Cerita dong sama emak.” Joni duduk di samping ibunya, menggaruk kepala malu-malu. “Biasa aja, Mak. Cuma… ada penumpang yang asik diajak ngobrol. Mahasiswi UI namanya Rina. Kemarin sama hari ini jemput dia langsung, tanpa aplikasi.” Ibunya mengangkat alis, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. “Wah… cewek kampus ya? Cantik nggak?” “Cantik sih, Mak. Tapi yang bikin nyaman itu… dia ramah, nggak sombong. Traktir bakso pagi tadi, terus besok minta jemput lagi,” cerita Joni sambil tersipu. “Emak jangan ge-er dulu ya. Baru kenal.” Ibunya tertawa pelan sambil menepuk bahu Joni. “Emak seneng liat kamu gini. Lama banget nggak pernah cerita soal cewek. Asal dia baik dan kamu hati-hati aja. Dunia sekarang banyak yang aneh-aneh.” Joni mengangguk. “Iya, Mak. Joni tahu.” Mereka duduk berdua menikmati malam yang sejuk, ngobrol ringan tentang hari-hari biasa. Hubungan mereka semakin hangat belakangan ini — tak ada lagi omelan keras, hanya nasihat lembut dan tawa kecil. Pagi harinya, Joni datang tepat waktu ke kos Rina. Rina sudah menunggu dengan dua gelas es teh manis. Senyumnya lebih lebar dari kemarin. “Pagi, Mas Joni. Ini es tehnya, biar segar,” katanya sambil menyodorkan gelas. “Wah, makasih banyak, Mbak. Hari ini traktir lagi?” goda Joni sambil tersenyum. Rina tertawa renyah. “Iya, anggap aja bonus karena driver terbaik.” Rina naik ke motor. Kali ini tak ada kecanggungan lagi — tangannya langsung memegang jaket Joni dengan nyaman, tubuhnya sedikit merapat saat motor melaju. Mereka ngobrol santai tentang rencana Rina libur akhir pekan dan cerita Joni soal ibunya yang mulai senang masak lagi. Tapi di belakang mereka, mobil hitam mengikuti dari jarak aman. Jack duduk di balik kemudi, wajahnya datar tapi matanya menyala merah samar di bawah kacamata hitam. Kulitnya semakin pucat karena amarah yang tertahan sejak kemarin. Ia sudah tahu segalanya tentang Joni — nama lengkap, alamat rumah di pinggiran Jakarta, bahkan ibunya. Klan vampiric-nya punya cara untuk mendapatkan informasi manusia dengan cepat. Tapi yang membuat Jack semakin gila adalah melihat Rina tertawa lepas bersama orang biasa ini. “Dia berani membuatmu tersenyum seperti itu…” bisik Jack sendirian di dalam mobil. Suaranya rendah, dingin, dan penuh racun. “Padahal kau dulu hanya tersenyum untukku.” Di lampu merah, Jack mengambil ponsel Rina yang lama (ia masih punya akses cadangan dari dulu). Ia kirim pesan w******p dari nomor tak dikenal ke nomor Rina: Unknown: Kamu pikir bisa bahagia dengan ojol murahan itu? Aku masih awasin kamu, Rina. Setiap hari. Setiap detik. Kamu milikku. Kalau dia masih deketin kamu, aku pastiin dia nggak bisa ngojol lagi. Bahkan bernapas pun susah. Rina merasakan ponselnya bergetar di tas. Ia buka pesan itu saat motor berhenti di depan kampus. Wajahnya langsung memucat. Tangan yang memegang ponsel gemetar. “Mas… bentar ya,” katanya pelan, suaranya berubah. Joni menoleh, khawatir. “Ada apa, Mbak? Wajahnya pucat.” Rina buru-buru menyimpan ponsel. “Nggak apa-apa… cuma pesan dari temen. Makasih ya tadi, Mas. Hati-hati di jalan.” Ia turun cepat, tapi Joni sempat melihat tangannya yang masih gemetar. “Mbak Rina… kalau ada apa-apa, bilang aja ya. Saya bisa dengerin.” Rina memaksakan senyum. “Iya… nanti saya cerita. Hati-hati ya.” Setelah Rina masuk gedung, Joni pergi dengan perasaan was-was. Ia tak tahu bahwa di mobil hitam yang parkir tak jauh dari situ, Jack tersenyum dingin sambil memperhatikan reaksi Rina. “Takut ya, sayang? Bagus. Itu artinya kamu masih ingat siapa aku,” gumam Jack. Ia turun dari mobil sebentar, berjalan ke motor Joni yang baru saja pergi. Dengan gerakan cepat yang tak terlihat oleh orang biasa, ia meninggalkan “tanda” kecil di jok motor Joni — goresan halus seperti cakaran kuku tajam, disertai bau anyir samar yang hanya bisa dicium oleh makhluk sejenisnya. Malam nanti, Jack berencana lebih jauh. Mungkin kunjungan ke rumah Joni. Atau pesan yang lebih jelas. Obsesinya sudah tak terkendali — Rina harus kembali padanya, dan siapa pun yang menghalangi harus hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN