Bab 13

838 Kata
Malam itu sekitar pukul 21.30, Joni baru saja pulang dari orderan terakhir. Rumah kecilnya sudah sepi, lampu teras menyala redup. Ibunya tidur lebih awal. Joni parkir motor, melepas helm, dan menguap. Hari ini enak — orderan lumayan, plus chat manis dari Rina. Ia tersenyum sendiri saat memasukkan kunci ke pintu. Tapi angin malam terasa lebih dingin. Bulu kuduknya berdiri pelan. Joni menoleh ke kanan-kiri, gang sepi. “Capek kali ya,” gumamnya sambil masuk rumah dan mengunci pintu. Ia minum air di dapur, lalu mandi sebentar sebelum rebahan di kasur. Chat terakhir dengan Rina masih membuat dadanya hangat. Rina: Mas Joni udah sampe rumah? Hati-hati ya malam ini. Mantan saya itu… kadang suka muncul tiba-tiba. Kalau ada yang aneh, langsung chat saya ya. Joni: Udah sampe kok. Rumah aman. Mbak juga istirahat ya. Joni tidur dengan senyum kecil masih tersisa di wajahnya. Pagi harinya, jam 05.30, Joni bangun untuk salat Subuh. Ia keluar kamar sambil mengucek mata, lalu berjalan ke teras untuk ambil air wudhu. Langkahnya langsung berhenti. Di depan pintu, tepat di keset usang, ada sebuah kancing baju hitam yang mengkilap. Kancing itu terlihat mahal — bulat sempurna, bahan metal mengkilap dengan ukiran kecil yang halus, seperti kancing jas formal yang jarang dipakai orang biasa. Joni mengerutkan kening. Ia jongkok dan mengambilnya dengan hati-hati. “Kok ada ini…?” gumamnya bingung. “Bukan punya gue, bukan punya emak juga. Emak paling pake baju kaos atau daster.” Ia memutar-mutar kancing itu di antara jari. Sesuatu terasa aneh — kancing ini terlalu bersih, terlalu “mahal” untuk jatuh begitu saja di teras rumah ojol seperti miliknya. Lalu matanya tertuju ke kusen jendela kamarnya yang sedikit terbuka. Ada goresan halus baru berbentuk huruf “J” yang kemarin sore belum ada. Jantung Joni berdegup lebih cepat. Ia ingat pesan Rina kemarin: “Mantan saya itu… agak ganggu. Dia kirim pesan aneh.” Nama yang disebut Rina waktu itu adalah Jack. “J… Jack?” bisik Joni pelan. “Ini pasti dia. Siapa lagi yang bakal ninggalin barang kayak gini di depan pintu orang? Lagian kancingnya mahal banget, cocok sama orang yang suka pake jas hitam rapi.” Joni buru-buru masuk rumah, mengunci pintu lebih rapat, dan langsung chat Rina. Joni: Mbak Rina, pagi. Ada yang aneh di rumah saya. Ada kancing baju hitam mahal di depan pintu, dan goresan huruf “J” di kusen jendela. Ini mantan Mbak yang namanya Jack ya? Dia kemarin sempat ke sini? Rina balas hampir seketika, pesannya terlihat panik: Rina: Mas… iya, itu pasti Jack. Kancing itu mirip banget sama kancing jasnya dia dulu. Dia suka pake jas hitam formal. Saya minta maaf banget… saya nggak nyangka dia berani sampe ke rumah Mas. Dia memang obsesif. Dulu waktu kita pacaran, dia selalu tahu di mana saya berada. Sekarang kayaknya mulai incar Mas juga. Jangan keluar sendirian malam-malam ya. Saya takut dia ngapa-ngapain. Joni duduk di tepi kasur, tangannya masih memegang kancing itu erat-erat. Perasaan hangat kemarin malam mendadak bercampur was-was yang dingin. Ia takut, tapi juga mulai marah pelan. “Gue cuma ojol biasa, mau deketin cewek yang gue suka. Kenapa harus ada orang gila kayak gini?” gumamnya dalam hati. Di dapur, ibunya sudah bangun dan mulai masak nasi goreng. Joni buru-buru menyembunyikan kancing itu ke dalam laci meja, tak mau ibunya khawatir atau bertanya macam-macam. “Tapi… gue nggak mau mundur gitu aja,” katanya pelan sambil menatap ponsel. “Rina mulai nyaman sama gue. Gue juga… suka banget sama dia.” Di luar, di ujung gang yang masih agak gelap, Jack berdiri diam di balik tiang listrik. Ia melihat Joni yang sedang chat dengan Rina dari kejauhan. Senyum tipis dingin muncul di wajah pucatnya. “Kau sudah menemukan ‘hadiah’-ku… bagus,” bisiknya. “Itu baru awal, pengemudi kecil. Kunjungan kecil kemarin malam hanya pemanasan.” Jack berbalik dan melebur ke bayangan, menghilang tanpa suara. Siangnya, Joni tetap jemput Rina seperti biasa. Kali ini Rina naik motor dengan wajah yang sedikit tegang, tapi senyumnya masih muncul saat melihat Joni. “Mas… maaf ya soal kemarin pagi,” kata Rina pelan saat mereka sudah melaju. “Jack memang suka gitu. Dulu saya putusin karena dia terlalu posesif dan selalu awasin saya. Saya nggak nyangka dia bakal ganggu Mas juga.” Joni mengangguk, suaranya tetap tenang meski hatinya was-was. “Nggak apa-apa, Mbak. Gue yang minta maaf malah, bikin Mbak khawatir. Tapi… kalo dia berani ganggu lagi, kita hadapi bareng ya. Gue nggak mau Mbak sendirian takut.” Rina diam sebentar, lalu tangannya memegang jaket Joni lebih erat. “Makasih, Mas… rasanya lega ada yang mau dengerin.” Mereka tetap ngobrol ringan tentang kuliah Rina dan cerita lucu Joni soal orderan, tapi kali ini ada bayangan kecil yang menggantung — keduanya tahu ada mata yang mengawasi dari jauh. Di kejauhan, mobil hitam Jack mengikuti pelan, tapi ia tak mendekat hari ini. Ia cukup puas melihat ketegangan kecil yang sudah mulai muncul. “Nikmati dulu kedekatan kalian,” gumam Jack sambil tersenyum dingin. “Sebentar lagi… semuanya akan berubah.” Bab 13
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN