Reya mendengar teriakkan Bibinya Helena dan mendengar perkataan paman Cleo yang akan menghabisi seluruh keluarga dan keturunan madannsi, Reya yakin kalau paman dan bibinya kini juga sudah tiada di lenyapkan oleh Cleo Dayypen.
Setelah melenyapkan keluarga madannsi, Cleo Dayypen lalu pergi ke kerajaan Hiltar bersama para prajurit yang setia kepadanya. Mereka berpesta merayakan keberhasilannya menguasai kerajaan sarkuella.
Saat Cleo Dayypen pergi meninggalkan kerajaan, Reya memberanikan diri keluar dari lemari. Reya menangis sambil berlari memeluk tubuh ayahnya yang sudah tiada.
"Ayah bangun, ayah bangun!" panggil Reya terus menangis.
Melihat ayahnya yang tidak bangun, Reya berlari menemui kakek dan neneknya. Reya menggoyangkan tubuh kakek dan neneknya tetapi mereka juga tidak bergerak, lalu Reya kembali berlari mendekati dan memeluk ibunya.
"Ibu bangun, ibu...Reya janji tidak akan nakal lagi," ucap Reya.
Reya terus menangis memeluk tubuh ibunya, tanpa di sadari Reya tangan Mayka bergerak dan mengelus rambut Reya. Reya tersadar dan bangun menatap wajah ibunya.
"Ibu," panggil Reya.
"Reya jangan menangis Sayang, Reya dengar kata Ibu ya, Reya sekarang harus pergi ke sekolah yang berada di dalam hutan Reya harus belajar di sana nanti kalau Reya sudah besar Reya harus menghukum Paman Cleo Dayypen karena Dia yang sudah memisahkan kita dan membuat Ayah juga Kakek dan Nenek tiada," kata Mayka terbata-bata.
Reya menganggukkan kepalanya.
Mayka berusaha membuat Reya mengerti di usianya yang masih sangat kecil, Mayka yang sudah mengetahui kalau Reya sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat besar dan kuat sengaja mengirim Reya ke sekolah Michel sahabatnya dulu karena ia mengajar di sana, Mayka yakin Michel bisa menjaga Reya disana tanpa di ketahui oleh Cleo Dayypen dan bisa belajar untuk mengendalikan kekuatannya.
"Iya Bu, Reya janji akan menuruti perintah Ibu," jawab Reya.
"Anak pintar. Sekarang Ibu akan pergi," ucap Mayka lirih.
Lalu keluar darah dari dalam mulutnya.
"Ibu jangan pergi, Reya takut sendirian Bu,".
Mayka lalu mengeluarkan sebuah Belati yang ia sembunyikan di dalam bajunya dan memberikannya kepada Reya, belati itu di dapatkan Mayka saat ia bertapa di sebuah gunung es yang di sinari cahaya matahari.
"Reya, simpan Belati ini baik-baik dan bawa kemanapun Reya pergi, Belati ini adalah satu-satunya benda yang bisa mengingatkan Reya dengan Ibu, supaya Reya tidak merasa sendiri Ibu akan selalu bersama Reya," Pesan Mayka.
"Iya Bu," jawab Reya.
"Baiklah Reya harus hati-hati ya, ingat pesan Ibu," ucap Mayka terakhir kali.
Setelah mengatakan pesan terakhirnya Mayka lalu menghembuskan napas terakhirnya. Reya kemudian menggenggam tangan ibunya yang sudah tergeletak tak bernyawa.
"Ibu bangun, jangan tinggalkan Reya Bu!" teriak Reya.
Reya menangis melihat ibunya yang kini telah tiada bersama semua keluarganya, Reya lalu mencium kening ibunya sebelum ia pergi ke hutan sesuai dengan apa yang di katakan ibunya.
Reya berjalan keluar dari Kerajaan Sarkuella dengan mengendap-endap supaya tidak ada yang melihatnya sampai akhirnya ia sampai di hutan.
Reya kecil terus berjalan tanpa lelah mencari sekolah itu, hari semakin gelap tetapi Reya belum juga menemukannya. Reya berhenti di sebuah pohon besar dan beristirahat di sana, Reya mengambil dan memeluk belati pemberian Ibunya.
"Ibu, Reya takut Bu, Reya harus kemana?" guman Reya.
Reya terus menangis sambil memeluk belati Ibunya, tiba-tiba datang sekumpulan kunang-kunang mendekati Reya. Reya menghapus air matanya Reya terpesona dengan keindahan kunang-kunang itu.
Reya berjalan mengikuti kunang-kunang itu pergi, tanpa terasa langit berubah menjadi malam hari. Kunang-kunang itu seolah memberi petunjuk dimana tempat sekolah yang Reya cari.
Reya terkejut melihat tempat sekolah itu yang berada di dekat pohon besar dimana ia tadi beristirahat disana, Reya merasa bingung ia sudah tiga kali berputar melewati tempat itu, tetapi tadi ia tidak melihat ada sekolah di sana sama sekali.
"Ini kan tempat yang sudah aku lewati tadi tapi tadi tidak ada Sekolah ini, kenapa sekarang Sekolah itu ada disini," guman Reya bingung.
Reya tidak tahu kalau Sekolah itu sudah di beri mantra oleh Guru Michel yang hanya bisa terlihat di saat malam hari jika di siang hari Sekolah itu menjadi tidak terlihat, hanya Guru Michel dan semua muridnya yang dapat melihat keberadaan sekolah itu jika di siang hari.
Reya memberanikan diri melangkahkan kakinya ke Sekolah itu, Reya melihat sekeliling Sekolah.
Rumah Guru Michel yang bersebelahan dengan Sekolah, mendengar suara langkah kaki karena merasa ada seseorang yang datang lalu ia keluar rumah dan melihatnya.
"Cari siapa ya Nak?” tanya Guru Michel.
Reya hanya diam saja sambil menggenggam erat bajunya, Reya tidak menjawab pertanyaan Guru Michel. Guru Michel tahu kalau Reya sedang merasa takut, Guru Michel lalu mendekati Reya.
"Jangan takut Nak nama Ibu Michel, Ibu yang mengajar di Sekolah ini," kata Guru Michel.
Guru Michel memegang tangan Reya dan mengajak Reya masuk ke dalam Rumah karena sudah larut malam, Reya mengikuti langkah Guru Michel. Reya duduk di sebuah kursi, Guru Michel lalu mengambil Makanan dan Minuman untuk Reya.
"Nak, ini Makan dulu," kata Guru Michel.
Reya langsung memakan makanan itu karena ia sangat lapar sejak dari siang Reya belum makan.
"Pelan-pelan Nak makannya, Oh ya Nama kamu siapa?" tanya Guru Michel.
"Nama saya Reya Bu, Reya kesini karena permintaan Ibu Reya, setelah ibu Reya meninggal Reya di suruh untuk Sekolah disini," jawab Reya.
Dengan mulut yang penuh makanan, Guru Michel terus memperhatikan Reya yang sedang makan karena wajah Reya mirip dengan seseorang yang ia kenal.
"Apa Nak Reya mempunyai Nama Keluarga?" tanya Guru Michel.
"Tidak ada Bu, Reya saja," jawab Reya.
Reya sengaja tidak memberitahukan Nama Keluarganya karena ia takut Paman Cleo akan mengetahui keberadaannya.
"Ya sudah, setelah makan Reya istirahat ya di sana kamar Reya mulai besok Reya sudah bisa masuk Sekolah bersama teman-teman baru Reya," kata Guru Michel.
Reya menganggukkan kepalanya, setelah Reya menyelesaikan makannya Reya melangkahkan kakinya ke kamar untuk beristirahat tidur.
**********
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, sinarnya menembus jendela kamar membangunkan Reya yang sedang tidur terlelap. Reya membuka matanya, Reya bersiap untuk masuk ke sekolah hari ini.
Di dalam kelas sudah berkumpul semua murid, Saat Reya masuk semua mata tertuju kepada Reya karena Reya satu-satunya murid yang berusia 5 tahun sementara murid lainnya berusia 10 tahun. Tidak lama Guru Michel datang, dan mengenalkan Reya kepada murid lainnya.
"Anak-Anak, kita kehadiran Teman baru namanya Reya, Ibu harap kalian bisa berteman dengan Reya walaupun Reya berusia lebih muda dari kalian," kata Guru Michel.
Reya duduk di sebelah Delia Caroline, Delia tersenyum dan mengulurkan tangannya mengenalkan dirinya kepada Reya.
"Hay, Namaku Delia,".
"Namaku Reya kak,".
Reya tersenyum membalas uluran tangan Delia, lalu Guru Michel memulai pelajarannya.
"Anak-anak, Hari ini kita belajar menggerakkan sebuah benda dan memindahkan benda itu kalian harus mengeluarkan kekuatan yang ada di diri kalian untuk bisa menggerakkan benda itu," kata Guru Michel.
Guru Michel memberikan petunjuk ia mulai memejamkan matanya, kemudian Guru Michel mengayunkan kedua tangannya mengeluarkan kekuatan yang ada dalam dirinya. tampak cahaya keluar dari tangan Guru Michel, Guru Michel mengarahkan cahaya itu ke sebuah meja lalu seketika meja itu bergerak dan berpindah tempat.
Reya dan Murid lainnya memperhatikan Guru Michel dengan seksama, setelah memberikan petunjuk Guru Michel meminta satu persatu Muridnya melakukan apa yang ia ajarkan.
"Baiklah kita akan mulai, Delia kamu yang akan mencoba duluan," kata Guru Michel.
Guru Michel menunjuk Delia, Delia murid pertama yang di panggil oleh Guru Michel, Delia memejamkan mata dan mengayunkan kedua tangannya mengeluarkan kekuatan lalu mengarahkannya ke meja itu. Delia berhasil menggerakkan dan memindahkan meja itu seperti apa yang di lakukan Guru Michel, Delia merasa senang karena ia telah berhasil.
Semua Murid sudah mencobanya satu persatu dan mereka telah berhasil semua, sekarang hanya tinggal Reya yang terakhir melakukannya, Reya merasa gugup. Reya memejamkan matanya dan mengayunkan kedua tangannya berusaha mengeluarkan kekuatannya, lalu mengarahkan ke meja itu tetapi meja itu tidak bergerak sama sekali Reya telah gagal melakukan apa yang di ajarkan Guru Michel.
Semua Murid menertawakan Reya, sehingga membuat Reya marah. Reya memejamkan matanya kemudian membuka matanya menatap tajam meja itu, tampak cahaya keluar dari mata Reya dan tiba-tiba meja itu hancur seketika tidak hanya satu bahkan semua meja di dalam kelas hancur. Guru Michel dan semua murid yang tadinya tertawa menjadi terdiam.
Reya merasa takut dengan apa yang ia lakukan, Reya berlari keluar kelas menuju hutan menjauhi semua orang. Guru Michel lalu menghentikan pelajarannya.
"Baiklah, anak-anak pelajaran kita sampai disini kalian boleh pulang besok kita lanjutkan lagi," kata Guru Michel.