Wendy menghela napas pelan saat melihat Lavender tidak menghabiskan menu sarapannya, padahal ia hanya menyajikan roti. Bukan hanya rotinya yang tidak dihabiskan, tapi air putihnya juga. Wendy memerhatikan wajah Lavender yang masih sangat pucat. Bahkan, pagi ini ekspresinya terlihat murung. Walau sudah hampir dua tahun menjadi pengasuh Lavender, kebiasaan sang nyonya hingga kini tetap tidak ada perubahan. Nyonyanya yang malang itu sangat pendiam dan lebih menyukai kesunyian, seolah perempuan tersebut mempunyai dunia sendiri. Di mana orang lain tidak diizinkan untuk mendekat, apalagi memasukinya.
Lavender memakukan tatapannya ke depan, walau ia tidak bisa melihat pemandangan yang disuguhkan oleh alam. Ia membiarkan desiran angin membelai pertengahan hingga ujung rambut panjangnya yang tergerai, karena kepala bagian atasnya telah tertutupi topi rajut tebal. Agar Wendy tidak mengkhawatirkan kondisi tubuhnya, ia terpaksa mengatakan bahwa keadaannya sudah jauh terasa lebih baik dari sebelumnya. Namun karena lidahnya masih terasa pahit, ia tidak menghabiskan sarapannya dengan alasan perutnya sudah kenyang.
“Nyonya, benarkah sudah merasa lebih baik? Jika belum, tadi Tuan meminta saya agar mengantar Nyonya ke rumah sakit untuk periksa,” Wendy memberitahukan instruksi yang tadi disampaikan oleh Evrard.
Lavender mengulas senyum tipis mendengar pemberitahuan Wendy. “Aku sudah merasa lebih baik, Wen. Jika tidak, mana mungkin aku berada di sini untuk mencari udara segar,” kilahnya tanpa menyurutkan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
“Jika Nyonya kembali merasa kurang enak badan, segera beri tahu saya ya. Nanti saya akan menghubungi Frankie agar mengantar kita ke rumah sakit, seperti pesan Tuan tadi,” Wendy menyarankan.
Lavender hanya menanggapinya dengan anggukan pelan. “Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi langit hari ini, Wen?” Lavender sengaja mengalihkan topik yang menyangkut keadaannya. Jari-jari tangan lentiknya bergerak pelan menepikan helaian rambut yang menyentuh wajahnya karena dimainkan oleh embusan angin.
“Langitnya tertutup awan tipis sehingga membuatnya sedikit mendung, Nyonya,” Wendy menyampaikan pengamatannya atas kondisi langit yang dilihatnya kepada Lavender.
“Pantas saja udara pagi ini cukup dingin, apalagi ditambah dengan embusan angin,” Lavender menimpali. Ia memejamkan mata untuk merasakan udara dingin menerpa kulitnya. “Aku sangat menyukainya. Suasana seperti sekarang selalu berhasil memberiku ketenangan,” imbuhnya seraya menghirup udara dalam-dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan.
“Tapi tetap saja tidak bagus untuk kesehatan tubuh Nyonya yang belum pulih sepenuhnya,” Wendy kembali mengingatkan Lavender akan kondisi tubuhnya. “Bisa-bisa Nyonya kembali sakit karena masuk angin terkena udara dingin,” imbuhnya.
“Wen, sebaiknya kamu bantu Leyna saja membersihkan rumah atau kerjakan tugasmu yang harus diselesaikan. Aku masih ingin di sini menikmati pemandangan melalui imajinasiku sendiri,” pinta Lavender sambil menoleh sembarangan, sebab ia tidak mengetahui dengan jelas posisi Wendy berdiri.
“Tapi, Nyonya ….”
“Aku janji tidak akan ke mana-mana, Wen. Jika sudah bosan, aku akan segera memanggilmu,” Lavender menyela ucapan Wendy yang belum sepenuhnya terucap. Bahkan, nada bicaranya pun sengaja dibuat sangat meyakinkan agar Wendy memercayainya. “Orang buta sepertiku pasti akan membuat kalian kesusahan dan dimarahi oleh Evrard jika aku melangkah sesuka hati. Aku tidak ingin kalian menjadi sasaran kemarahan Evrard lagi,” batinnya menambahkan.
Wendy mengamati wajah Lavender untuk memastikan. Walau Wendy yakin tuannya sudah berangkat ke kantor, tapi ia merasa enggan meninggalkan sang nyonya sendirian di teras samping rumah. Ia hanya khawatir saat sang nyonya memerlukan sesuatu, tapi dirinya tidak ada di tempat.
“Wen, aku ingin sendiri,” ucap Lavender pelan. Ia bisa merasakan jika saat ini Wendy tengah dilanda kebimbangan, antara menuruti permintaannya atau tetap menemaninya. “Aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu,” imbuhnya mengulang.
“Baiklah, Nyonya.” Pada akhirnya Wendy mengindahkan permintaan Lavender. “Kalau begitu saya akan membersihkan kamar Nyonya dulu. Oh ya, sisa rotinya akan saya tinggalkan di sini, siapa tahu Nyonya tiba-tiba ingin memakannya lagi,” imbuhnya setelah berdiri.
Lavender tersenyum sambil mengangguk. “Tinggalkan saja di sini,” ucapnya tanpa menolak ide Wendy.
***
“Wendy,” Leyna memanggil Wendy yang berjalan seorang diri menuju kamar Lavender.
Wendy menoleh dan langsung tersenyum ramah kepada seniornya di rumah ini. “Iya, Madam.”
“Kamu sendirian? Di mana Nyonya?” tanya Leyna sambil memasang ekspresi bingung.
“Nyonya masih di teras samping. Beliau ingin menikmati udara pagi di sana sendirian,” jawab Wendy jujur.
Leyna manggut-manggut. “Oh ya, kemarin saya melihat Nyonya tidak menghabiskan menu makan siangnya. Saat makan malam pun Nyonya melewatkannya, apakah beliau tidak menyukai hidangan yang saya buat?”
Wendy dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Jangan tersinggung dulu, Madam,” pintanya. “Nyonya sedang kurang sehat, sehingga nafsu makannya pun jadi menghilang. Kemarin malam Nyonya juga makan, tapi waktunya sangat terlambat dan hanya sedikit,” jelasnya secara rinci agar Leyna memaklumi keadaan Lavender.
Terkejut mendengar penjelasan Wendy, otak Leyna langsung memutar ingatannya akan perkataannya kemarin malam kepada Evrard mengenai Lavender yang tidak menghabiskan menu makan siangnya. “Apakah Tuan sudah mengetahui keadaan Nyonya yang sebenarnya? Semoga saja belum,” batinnya penuh harap. “Lalu sekarang bagaimana keadaan Nyonya, Wen? Apa tidak sebaiknya kita bawa Nyonya ke rumah sakit untuk periksa?” cecarnya khawatir.
“Nyonya bilang keadaannya hari ini sudah lebih baik dibanding kemarin, Madam,” Wendy menjawab menenangkan saat melihat kekhawatiran menghiasi wajah Leyna. “Tadi Tuan juga berpesan agar segera mengajak Nyonya ke rumah sakit jika keadaan Nyonya belum ada perubahan,” sambungnya.
Leyna kembali dibuat terkejut oleh informasi yang Wendy berikan, tapi ia segera menyamarkannya. “Ternyata Tuan sudah mengetahuinya. Sialan!” rutuknya dalam hati. “Syukurlah. Berhubung Tuan sudah mengetahui keadaan Nyonya, kamu lakukan saja seperti yang diminta oleh Tuan,” sarannya sambil tersenyum.
“Baik, Madam,” Wendy mematuhinya.
“Ngomong-ngomong, apa makanan kesukaan Nyonya? Biar nanti saya buatkan. Siapa tahu nafsu makan Nyonya menjadi lebih baik setelah melihat makanan kesukaannya,” Leyna menanyakan sesuai permintaan Evrard tadi.
Mendengar pertanyaan Leyna, Wendy langsung berpikir. Ia memutar ingatannya tentang hal-hal yang disukai oleh Lavender, mengingat majikannya tersebut sangat irit bicara dan cenderung tertutup. Ia tersenyum lebar dan langsung menjentikkan jarinya saat mengingat salah satu makanan kesukaan Lavender. “Risotto Saffron. Ya! Nyonya menyukai makanan itu, Madam,” beri tahunya antusias.
“Baiklah, nanti akan saya buatkan sebagai menu makan siang Nyonya,” Leyna menyanggupi.
Leyna memang ingin membuat hidangan tersebut sebagai menu makan siang untuk menyambut kedatangan Florence, seperti yang diberitahukan oleh Evrard tadi. Ternyata makanan kesukaan Lavender tidaklah sulit, mengingat ia sering membuatnya karena semua anggota keluarga Pierre juga sangat menyukai menu tersebut.
“Terima kasih banyak, Madam. Semoga saja nafsu makan Nyonya membaik agar tubuhnya kembali sehat,” ucap Wendy tulus dan hanya diangguki oleh Leyna sambil tersenyum tipis.
Setelah Leyna undur diri Wendy kembali pada tujuan awalnya, yaitu membersihkan kamar tidur Lavender sebelum perempuan tersebut ingin beristirahat.
***
Menikmati kesendiriannya, Lavender mulai mengingat penyebab kesehatan menurun. Padahal udara malam cukup dingin dan tidak jarang turun salju, tapi ia selalu meminta Wendy agar mengantarnya ke teras samping. Walau Wendy selalu membalut tubuhnya dengan pakaian tebal untuk melindunginya dari sengatan dingin, tapi tindakan pengasuhnya tersebut tetap tidak bisa memberinya jaminan agar tidak sakit.
“Nyonya, sebaiknya kita kembali ke dalam. Udaranya cukup dingin, nanti Nyonya bisa sakit,” ajak Wendy kembali.
Bukan hanya sekarang saja Lavender berada di teras samping saat malam, tapi hari-hari sebelumnya juga. Wendy tidak ingin Lavender jatuh sakit karena terlalu sering diterpa udara dan angin malam yang dingin.
“Apakah hari ini salju turun, Wen?” Lavender mengabaikan ajakan Wendy.
“Iya, Nyonya. Makanya kita masuk saja,” Wendy kembali membujuk Lavender. Selain karena udara memang dingin, ia juga takut jika Evrard mengetahui Lavender berada di luar rumah.
“Andaikan bisa melihat, aku pasti akan bermain di bawah guyuran salju,” Lavender bergumam nelangsa.
Iba mendengar gumaman nelangsa Lavender, Wendy pun menghentikan bujukannya.
“Wen, aku ingin berada di sini sebentar lagi. Izinkan aku menikmati pemandangan malam yang bersalju di sini melalui pikiranku,” pinta Lavender pelan.
“Baiklah, Nyonya. Saya akan menemani Nyonya di sini.” Pada akhirnya Wendy mengalah, apalagi permintaan Lavender sangatlah sederhana.