Chapter 04

1011 Kata
Evrard menuruni anak tangga sambil sibuk berbicara di telepon. Tubuh proporsional dan atletisnya telah dibalut oleh setelan kantor slim fit berwarna gelap, sehingga membuat penampilannya terlihat rapi sekaligus menawan. Selain itu, garis rahang tegas yang dimilikinya pun kian menambah aura dingin menghiasi wajahnya sehingga memengaruhi pancaran karismanya. Ketika kakinya meninggalkan anak tangga terakhir, spontan kepalanya menoleh ke arah kamar yang ditempati Lavender saat mendengar suara pintu terbuka. Keningnya mengernyit ketika hanya melihat sang pengasuh yang keluar dari kamar istrinya sambil membawa sesuatu di tangannya. “Wendy.” Evrard menghentikan langkah kaki sang pengasuh melalui suara dinginnya. Ia sudah menyudahi pembicaraannya di telepon dengan orang yang nantinya akan berkunjung ke rumahnya. Wendy langsung menegang di tempat karena mendengar suara yang tergolong sensitif di telinganya, terlebih saat ini masih pagi. “Selamat pagi, Tuan,” sapanya langsung setelah berbalik dan menghadap pemilik suara yang terdengar mengerikan tersebut. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sesopan mungkin sambil mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba bekerja lebih cepat. “Langsung bicarakan pada Frankie, jam berapa pastinya kalian akan berangkat ke rumah sakit,” Evrard berucap sambil matanya melirik benda yang diremas oleh tangan Wendy. “Rumah sakit?” Wendy membeo pelan. “Nyonya bilang sudah merasa lebih baik dari kemarin. Nyonya juga mengatakan jika hari ini tidak perlu pergi ke rumah sakit, Tuan,” sambungnya cepat setelah menangkap maksud ucapan tuannya. Ia menyampaikan dengan jujur, sesuai perkataan Lavender saat dirinya bertanya tadi. Bukan mengarang cerita, apalagi melebih-lebihkan. “Kalau memang sudah merasa lebih baik, kenapa masih mendekam di dalam kamar?” Evrard bertanya sambil menatap Wendy penuh selidik. Bukan berarti ia peduli terhadap keadaan Lavender. Ia hanya tidak ingin disalahkan atas keadaan perempuan tersebut oleh papanya. “Nyonya sudah bangun, Tuan. Saat ini Nyonya sedang berada di teras samping rumah sambil menikmati menu sarapannya,” Wendy menjawabnya sambil berusaha sekuat tenaga menahan senyum. Sebab pertanyaan yang diajukan oleh tuannya, terkesan memiliki makna terselubung yaitu sebuah kepedulian. “Bilang saja kalau saat ini Tuan juga khawatir pada keadaan Nyonya. Tidak usah malu mengakuinya, Tuan. Sebagai pasangan suami istri sangatlah wajar saling mengkhawatirkan dan menaruh kepedulian satu sama lain,” batinnya dengan lancang menimpali. Evrard hanya mengangkat bahu menanggapi pemberitahuan Wendy. Ia juga menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar setelah mendengar jawaban tersebut. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung meninggalkan Wendy yang masih bergeming di tempat sambil menatapnya takut-takut. “Ternyata gengsi yang dimiliki Tuan tinggi juga. Jika diukur mungkin gengsinya melebihi tinggi Mount Everest,” Wendy bergumam sepelan mungkin setelah melihat tuannya tersebut hampir tiba di ruang makan. Wendy hanya menggelengkan kepala sebelum kembali ke tempat Lavender berada. Tadi ia sengaja mengambilkan topi rajut untuk Lavender di kamar agar nyonya malangnya tersebut tidak masuk angin, mengingat udara di luar cukup dingin. Ia tidak ingin kesehatan Lavender yang belum pulih total kembali menurun karena terpapar udara dingin. *** “Kamar tamu sudah selalu kamu rapikan?” Evrard bertanya sebelum menikmati zopf bread yang dihidangkan Leyna. “Sudah, Tuan. Sesuai instruksi Tuan, saya selalu merapikannya,” jawab Leyna penuh percaya diri. “Hari ini Flo datang. Ia berencana menginap di sini selama beberapa hari, jadi kamu buatkan makanan kesukaannya,” Evrard memberi perintah tanpa menatap Leyna yang tengah mengisi gelasnya dengan jus jeruk. “Baik, Tuan. Pasti saya akan membuatkan makanan kesukaan Nona Florence, Tuan,” Leyna menjawabnya dengan antusias. Evrard hanya mengangguk pelan menanggapi keantusiasan sang asisten rumah tangga setelah ia memberitahukan kedatangan Florence. “Saya sangat senang akhirnya Nona Florence bersedia juga berkunjung ke sini, Tuan,” Leyna melanjutkan sambil tersenyum semringah. Evrard menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah karena mendengar perkataan asisten rumah tangganya. “Apakah sebelumnya Flo pernah mengatakan tidak bersedia berkunjung ke sini?” tanyanya dan menatap Leyna dengan tajam. Senyum semringah yang terukir pada bibir Leyna seketika lenyap setelah melihat tatapan tajam sang tuan. “Ma-maksud saya sudah lama Nona Florence tidak datang ke sini, Tuan,” jawabnya mencicit. Ia pun langsung menundukkan kepalanya. “Perkataanmu tadi bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi orang lain yang mendengarnya,” tegur Evrard sebelum kembali fokus pada sarapannya yang belum habis. “Saya minta maaf, Tuan,” pinta Leyna sembari membungkuk tanpa mengangkat wajahnya. Evrard tidak memberikan tanggapannya. “Jangan lupa tanyakan makanan kesukaan Lavender kepada Wendy,” Evrard mengingatkan percakapannya kemarin malam bersama Leyna menyangkut Lavender. Raut ketakutan di wajah Leyna seketika berubah kesal saat Evrard mengingatkannya mengenai makanan kesukaan perempuan yang kini menjadi majikannya juga. “Tinggal makan saja susah,” gerutunya dalam hati. “Baik, Tuan. Nanti saya akan menanyakannya kepada Wendy,” tanggapnya. Ia sengaja menjaga nada suaranya agar tetap terdengar sopan. Merasa percakapannya dengan Leyna sudah selesai, Evrard mengibaskan tangannya agar asisten rumah tangganya tersebut kembali melanjutkan pekerjaan utamanya. Sepeninggal Leyna, Evrard mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tanpa berpikir lama, ia langsung mencari daftar kontak yang ingin dihubunginya. Evrard terkekeh geli saat mendengar nada protes dari seseorang yang dihubunginya setelah panggilannya terhubung dan mendapat tanggapan. Ia tahu jika seseorang tersebut sedang beristirahat setelah selesai menjalankan tugas kemanusiaannya beberapa jam yang lalu. Seseorang di seberang sana menggertak Evrard agar cepat menyampaikan tujuannya, mengingat matanya masih sangat terasa berat. “Siang nanti datanglah ke rumahku dan bawa perlengkapan kebanggaanmu,” pinta Evrard tanpa basa-basi. “Sekarang kembalilah beristirahat,” imbuhnya perhatian. Ia langsung menyudahi ucapannya sebelum mendapat tanggapan dari lawan bicaranya. Evrard dengan cepat menghabiskan sisa zopf bread di piringnya, kemudian melanjutkan menandaskan jus jeruknya agar acara sarapannya segera selesai. Evrard melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya untuk memastikan dirinya tidak terlambat berangkat ke kantor, mengingat hari ini ia mempunyai banyak pertemuan yang harus dihadiri. “Haruskah aku melihatnya untuk memastikan keadaannya sebelum berangkat ke kantor?” Evrard bermonolog setelah berdiri. “Tidak. Jangan melakukan tindakan yang nantinya akan kamu sesali, Evrard!” rasa gengsinya dengan keras memperingatkan. “Tidak akan ada yang disesali, Ev. Bukankah kamu hanya ingin melihatnya saja, bukan menyapanya langsung?” akal sehatnya kembali membujuk. “s**t!” umpat Evrard pada akhirnya karena perdebatan dirinya sendiri. Tanpa membuang waktu, Evrard melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju mobil agar secepatnya ia bisa berangkat dan menenggelamkan diri pada kesibukannya di kantor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN