Demi menghargai Wendy yang telah melayaninya dengan sangat baik, kini Lavender bersusah payah menelan makanannya. Lavender memang sudah kehilangan selera makannya dan merasa kesehatannya menurun sejak beberapa hari lalu, tapi hari ini yang menurutnya semakin menjadi-jadi. Menu makan siang yang dibuatkan oleh Leyna terasa pahit di lidahnya. Bahkan, tadi sore tubuhnya tiba-tiba demam sehingga membuat Wendy sangat panik. Saat Wendy ingin menghubungi Evrard untuk memberitahukan tentang kondisinya, dengan cepat ia melarangnya. Ia mengucapkan terima kasih karena pada akhirnya Wendy mengindahkan larangannya. Ia hanya meminta pada Wendy agar memberinya obat penurun demam. Ternyata Wendy juga mengompresnya dengan harapan agar demam pada tubuhnya cepat turun.
Walau Evrard adalah suaminya dan sudah seharusnya mengetahui keadaannya, tapi Lavender tidak ingin menganggu kesibukan laki-laki tersebut, apalagi saat sedang berada di kantor. Ia menyadari dan merasakan betul jika Evrard sudah sangat direpotkan sekaligus terbebani dengan kehadirannya. Walau matanya tidak bisa melihat ekspresi wajah Evrard, tapi hatinya dapat merasakan ketidaksukaan laki-laki tersebut terhadapnya. Saat ini ia tidak mempunyai pilihan, sehingga membuatnya hanya bisa pasrah menerima pengabaian dari suaminya sendiri.
“Satu suap lagi, Nyonya.” Wendy sengaja mengembalikan kesadaran Lavender saat ia menyadari majikannya yang malang tersebut tengah melamun.
Lavender menggeleng. “Aku sudah kenyang, Wen,” ucapnya setelah menelan makanan di mulutnya.
“Kenyang? Bagaimana bisa baru makan dua sendok saja sudah kenyang?” protes Wendy dalam hati saat mendengar jawaban Lavender. “Apa yang sedang Nyonya pikirkan?” tanyanya ingin tahu. Sejak memasuki kamar dan mulai menyuapi Lavender, ia perhatikan majikannya tersebut terus saja melamun.
“Aku sedang mengingat hari-hariku di tempat kelahiranku,” Lavender berdusta. “Ambilkan air minumku, Wen,” pintanya.
Wendy memberikan gelas berisi air putih yang diminta oleh Lavender. “Apakah Nyonya merindukan tempat itu?”
Sambil meminum air putih Lavender mengangguk. “Sangat merindukannya,” ucapnya menegaskan.
“Kalau Nyonya merasa jenuh berada di rumah ini, kita datang saja ke sana. Saya juga ingin sekali kembali datang ke sana. Tempatnya sangat cantik dan indah,” Wendy menanggapinya dengan penuh antusias.
“Kita tidak bisa sembarangan pergi ke mana-mana tanpa izin dari Tuan, Wen.” Lavender tersenyum kecil ketika mendengar nada bicara Wendy sangat antusias.
Melihat sudut bibir Lavender tertarik dan membentuk sebuah senyuman walau sangat tipis membuat Wendy senang. Selama dipekerjakan, ia belum pernah melihat Lavender tersenyum lebar atau mendengar tawa renyahnya. Bahkan, wajah Lavender pun lebih sering dilihatnya menampilkan ekspresi muram dan sedih.
“Saya ada ide, Nyonya,” cetus Wendy spontan.
Lavender mengerutkan keningnya. “Apa?”
“Kenapa kita tidak meminta bantuan pada Nona Daisy saja, Nyonya? Saya sangat yakin jika Tuan akan langsung memberikan izinnya, mengingat Nyonya dan Nona Daisy masih saudara sepupu,” Wendy mengutarakan ide yang terlintas di benaknya.
Lavender kembali tersenyum tipis. “Sissy pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya, buktinya menelponku saja kini ia jarang,” tebaknya. “Wen, bukankah sekarang sudah malam?” tanyanya dengan topik berbeda.
“Iya, Nyonya. Apakah Nyonya ingin beristirahat sekarang?” Wendy mengerti arah pembicaraan Lavender.
Lavender mengangguk. “Kamu juga harus beristirahat agar tidak ikut sakit sepertiku, Wen,” sarannya.
“Baiklah, Nyonya. Apakah tidak ada lagi yang Nyonya butuhkan?” Wendy memastikan sebelum keluar dari kamar Lavender.
“Tidak ada, Wen. Kamu boleh istirahat sekarang,” jawab Lavender sambil menoleh ke arah yang diyakininya tempat Wendy sedang berdiri.
“Kalau begitu selamat beristirahat, Nyonya. Saya permisi dulu,” Wendy berpamitan.
Sepeninggal Wendy, Lavender bukannya langsung beristirahat seperti perkataannya tadi, tapi malah kembali melamun. Awalnya ia ingin mengingat satu per satu kenangannya dulu saat masih bisa melihat, tapi sayangnya yang muncul malah ingatannya sewaktu Jimmy membicarakan mengenai pernikahannya dengan Evrard.
“Boleh Papa masuk, Nak?” tanya Jimmy setelah mengetuk pintu kamar Lavender yang tidak tertutup rapat.
Sejak Lavender diperbolehkan pulang dan tinggal di kediamannya, Jimmy memang menyuruh perempuan malang tersebut untuk memanggilnya Papa. Setelah ditinggalkan oleh orang tua tunggalnya, Jimmy memutuskan untuk menjadikan Lavender sebagai bagian dari keluarganya. Oleh karena itu ia berencana untuk menikahkan Lavender dengan putra sulung kebanggaannya.
“Bo-boleh, Pa,” Lavender menjawab terbata karena terkejut. “Papa, sudah pulang?” tanyanya retoris. Sejak tiga hari lalu laki-laki yang kini dipanggilnya Papa tersebut ia ketahui sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
“Sudah,” Jimmy tetap menjawab pertanyaan retoris Lavender. “Kurang lebih setengah jam yang lalu Papa tiba di rumah,” sambungnya. Setibanya di rumah Jimmy langsung membersihkan dirinya sebelum menyambangi kamar Lavender.
“Papa, sudah makan?” Lavender berbasa-basi. Walau sudah hampir setahun tinggal di kediaman keluarga Pierre, ia tetap saja masih merasa canggung berinteraksi dengan Jimmy.
“Sudah, Nak. Oh ya, Nak, ada yang ingin Papa bicarakan dengan kamu,” ucap Jimmy setelah duduk di pinggir ranjang Lavender.
Walau dalam hatinya bertanya-tanya, tapi Lavender tetap mempersilakan, “Silakan, Pa.”
“Nak, apakah kamu mempunyai kekasih?” Jimmy bertanya tanpa basa-basi.
Lavender sangat terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Jimmy, terlebih secara tiba-tiba. “Ti-tidak, Pa. Aku tidak mempunyai kekasih,” jawabnya terbata. “Memangnya kenapa, Pa?” tanyanya ingin tahu.
Jimmy tersenyum mendengar jawaban Lavender. Walau permintaan yang akan diutarakannya dianggap konyol, tapi ia melakukannya didasari oleh alasan yang kuat. “Nak, Papa ingin kamu benar-benar menjadi bagian dari keluarga Pierre selamanya. Oleh karena itu, Papa ingin menikahkanmu dengan Ev,” beri tahunya frontal.
Lavender merasa jantung dan paru-parunya berhenti bekerja seketika karena mendengar perkataan Jimmy. “Maaf, Pa. Aku tidak bisa,” tolaknya langsung.
Walau selama ini Evrard tinggal di rumah yang sama dengannya, tapi Lavender menyadari jika sikap laki-laki tersebut sangat dingin dan acuh tak acuh padanya. Beberapa kali mereka pernah berinteraksi, tapi hanya sekadar saling sapa semata. Mereka tidak pernah terlibat dalam suatu obrolan, seperti yang sering dilakukannya dengan Jimmy atau para asisten rumah tangga lainnya.
“Kenapa kamu tidak mau, Nak?” Jimmy menanyakan alasan Lavender menolak permintaannya.
“Aku belum ingin menikah, Pa, apalagi dengan keadaanku yang seperti sekarang. Lagi pula Ev juga sudah mempunyai kekasih, Pa,” Lavender mengutarakan alasannya dengan jujur.
Meski tidak pernah menanyakannya secara langsung kepada Evrard, tapi dari pekerja di kediaman Pierre, ia mendengar jika laki-laki tersebut sudah memiliki kekasih. Bahkan, beberapa kali kekasih dari laki-laki tersebut sempat berkunjung dan mereka juga pernah mengobrol.
Jimmy mengangguk dan menerima alasan logis yang diberikan oleh Lavender, tapi ia tidak akan menyerah. “Bagaimana jika Ev sendiri yang menginginkan pernikahan ini?” tanyanya. “Apakah kamu tetap tidak bersedia?” sambungnya.
Lavender kembali dibuat terkejut. “Tidak mungkin. Hal tersebut sangatlah tidak mungkin terjadi,” batinnya menjawab cepat.
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Berikan saja jawabannya saat orang yang bersangkutan menanyakannya,” ucap Jimmy setelah melihat ekspresi terkejut pada wajah Lavender. “Malam sudah larut, istirahatlah,” pintanya dan mengusap lembut kepala Lavender sebelum bangun dari duduknya.
Karena sibuk mencerna perkataan Jimmy, Lavender sampai tidak menanggapi ucapan laki-laki tersebut yang telah meninggalkan kamarnya.