“Es krim?” ulang Arini dengan dahinya yang berkerut.
Arini pikir Baskara tidak menginginkan hal yang sempat ia tawarkan tadi untuk membujuknya agar mau makan dan meminum obatnya tapi hal ini jauh berbeda.
“Apa kau sudah lupa dengan janjimu?” tanya Baskara.
Arini seperti bisa merasakan perasaan kecewa dari pertanyaan itu hingga ia berniat akan membelikan sang tuan es krim yang dijanjikan.
“Ti— tidak Tuan, saya sebenarnya berniat ingin membeli es krim di jam istirahat saya nanti,” kata Arini mencari alasan yang tepat untuk menipu Baskara.
“Baiklah sekarang kau istirahat saja dan jangan lupa belikan aku es krim rasa vanila,” titah Baskara yang dijawab anggukan kepala oleh Arini.
Entah mengapa perintah Baskara kali ini terdengar cukup menyenangkan kali ini berbeda dengan tadi pagi karena ia memang harus menguatkan hatinya.
“Tunggu sebentar.”
Arini menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Baskara yang sudah berpindah ke meja kecil yang berada dekat dengan tempat tidurnya.
Pria itu mengambil dompet miliknya yang ada di dalam laci lalu mengambil beberapa lembar uang. Baskara menyodorkan uang itu kepada Arini.
“Ambil uang ini belikan semua es krim rasa vanila untuk stok di kulkas.”
Arini berjalan maju lalu mengambil uang dari tangan Baskara. Ia tidak percaya jika pria itu akan memintanya membeli begitu banyak es krim untuk memenuhi isi kulkasnya.
“Selain itu, lebih baik kau pergi dengan supir karena aku tidak ingin es krimku sampai cair ketika kau kembali ke rumah.”
“Tapi Tuan bukankah....”
“Tidak usah membantah ucapanku,” potong Baskara.
Rasanya baru saja pria itu melunak hanya karena perkara menginginkan es krim tapi ketika Arini ingin mengucapkan sesuatu sifat pemarahnya langsung kembali secepat kilat.
Wanita itu pun segera keluar dari kamar itu sebelum dirinya kembali dimarahi oleh Baskara.
***
Setahun yang lalu.
Pukul lima sore Baskara sudah sampai di salah satu restoran yang berada di tengah ibukota. Hari ini rencananya pria itu ingin melamar kekasihnya yang bernama Natasha.
Namun sebelum pria itu ingin melamar sang kekasih, Baskara memutuskan untuk membeli bunga yang tokonya bersebrangan dengan restoran tempatnya janjian.
Natasha dan Basakara sudah menjalin hubungan sekitar kurang lebih lima tahun. Mereka bertemu di fakultas yang sama tanpa sengaja ketika Baskara menabrak Natasha yang sedang membawa beberapa tumpukan buku.
Saat itu mereka tidak langsung dekat karena Natasha sudah memiliki kekasih jadi belum ada rasa tertarik satu sama lain. Entah semesta mendukung atau tidak? Mereka kembali bertemu saat acara reuni kampus berlangsung dan lucu mereka kembali bertemu dengan cara yang sama saling bertabrakan.
Momen itulah yang menjadi kenangan manis serta awal kedekatan keduanya hingga mereka berada di dalam ikatan yang lebih dari sekedar teman.
Basakara kira hari di mana dirinya akan melamar Natasha akan menjadi hari terbaik yang sangat indah tapi nyatanya berbanding berbalik. Ketika pria itu dan pejalan kaki yang lainnya menyebrang tiba-tiba saja mobil muncul dari sisi berbeda dengan kecepatan penuh.
Beberapa pejalan kaki termasuk Baskara pun tertabrak oleh mobil yang muncul secara tiba-tiba tersebut hingga mereka terhempas ke aspal. Sementara dua orang di antaranya ikut terseret oleh mobil.
Nasib Baskara masih bisa dibilang beruntung karena nyawanya dapat tertolong dengan beberapa luka serta dibagian tubuh tapi sayangnya pria itu didiagnosa mengalami kelumpuhan sementara.
“Kami ingin menyampaikan kalau akibat dari kecelakaan yang dialami Tuan Baskara saat ini membuat beliau lumpuh sementara,” ucap dokter Hanum kepada Adi yang tengah bicara empat mata di ruang dokter.
“Kira-kira berapa lama Baskara bisa kembali sembuh seperti dulu, Dok?"
“Untuk berapa lamanya saya tidak bisa menentukannya karena semua itu tergantung dari keinginan Tuan Baskara untuk segera sembuh dengan mengupayakan beberapa hal yang akan sarankan nantinya.”
Satu sampai dua bulan Natasha setia bertahan dengan kondisi Baskara yang duduk di kursi roda, tapi lama-lama wanita itu merasa sudah kehilangan harapan tentang kondisi kekasihnya yang tak kunjung pulih.
Natasha terlalu sering mendengarkan ucapan segelintir orang yang mengatakan kalau kondisi kekasihnya tidak bisa kembali normal. Mereka juga bilang kalau mungkin saja dokter salah mendiagnosa karena sudah banyak kasus yang terjadi yang akhirnya mengakibatkan orang itu lumpuh permanen.
“Sudahlah, tinggalkan pria cacat itu karena tidak akan ada harapan sama sekali kecuali sebuah keajaiban yang terjadi kepadanya.”
“Kamu itu cantik Natasha, kamu pantas mendapatkan pria normal yang lebih baik darinya.”
“Kau tahu, saudaraku pernah mengalami kecelakaan dan sekarang dia berada dalam kondisi cacat permanen seumur hidupnya.”
Seakan jengah dengan semua ucapan itu serta harapan palsu yang dokter janjikan kepada mereka. Akhirnya Natasha lebih dulu mundur dengan mengakhiri hubungan dengan Baskara karena wanita itu merasa malu jika seumur hidupnya berdampingan dengan pria yang sudah lumpuh.
“Bas, aku mau kita bicara sebentar.”
Dengan keberanian penuh serta keputusan yang dirasa sudah bulat Natasha akhirnya menemui Baskara di kediaman Erlangga. Saat itu Baskara sedang berada di kamarnya sambil melukis.
“Bicara saja aku akan mendengarkannya, Sayang.”
Baskara masih saja fokus menggambar lukisan pemandangan di atas kanvasnya. Wanita itu mengambil napas panjang lalu membuangnya sambil menatap punggung kekasihnya.
“Aku ingin kita putus, Bas.”
Kuas yang sempat dipegang Baskara jatuh ke lantai lalu dengan segera pria itu menggerakkan kursi rodanya untuk segera berbalik.
Sebenarnya sejak awal pria itu menaruh sebuah keraguan kalau Natasha bilang akan selalu berada di sisinya dengan kondisinya saat ini. Hal itu pulalah yang menjadi rasa takut yang selama ini menyelimuti hatinya.
“Kamu serius? Tapi kenapa? Apa karena kondisiku yang seperti ini?”
Dengan berat hati Natasha menganggukkan kepalanya dengan tangisnya yang juga pecah. Di sisi lain dirinya masih sangat mencintai Baskara, tapi di satu sisi lainya dirinya belum bisa sepenuhnya menerima kondisi pria itu.
“Tapi bukankah Dokter Hanum bilang kelumpuhanku bersifat sementara? Aku mohon tunggu sebentar saja sampai aku bisa kembali normal,” kata Baskara dengan nada memohon kepada Natasha seraya memegang tangan itu.
“Mau sampai kapan kamu percaya dengan harapan palsu yang dibuat oleh Dokter itu? Apakah kamu tidak sadar sampai detik ini saja tidak ada perubahan apa pun, Bas? Kamu masih saja tetap duduk di atas kursi roda.”
Natasha seakan berusaha menyadarkan Baskara tentang harapan yang semu itu.
“Banyak orang bilang kalau kamu akan selamanya cacat, jika ada perubahan itu hanya sebatas keajaiban jadi aku minta maaf harus mengakhiri hubungan ini karena aku tidak bisa hidup dengan kondisimu yang seperti ini.”
Setelah menyampaikan isi hatinya kepada Baskara, Natasha memutuskan untuk segera pergi karena ia tidak ingin keputusannya berubah lantaran terlalu lama bersama Baskara.
“Aaaaaa....”
Sambil berteriak Baskara membuang semua peralatan lukisnya dengan air mata yang tanpa sadar sudah membasahi wajahnya. Ia menyalahkan kondisinya yang lumpuh tersebut.
“Lebih baik aku mati daripada harus hidup seperti ini.”