“Mama boleh kerja tapi jangan lupa beliin Astara mainan sama es krim yang banyak.”
Arini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum serta mengusap kepala putranya. Apa pun yang Astara minta sebisa mungkin akan Arini penuhi.
Wanita itu merasa lega karena sang putra tidak mempermasalahkan jika dirinya harus bekerja demi menopang kehidupan mereka.
***
Baskara yang tadinya sempat sibuk dengan kursi rodanya kini menatap Arini yang tersenyum kikuk ke arahnya.
“Apa kau pikir aku ini adalah anak kecil yang harus dibujuk seperti itu?”
“Ma—maafkan saya, Tuan. Tapi saya hanya ingin Tuan tidak berhenti meminum obat dan juga vitamin yang diberikan oleh Dokter karena saya yakin suatu hari Tuan Baskara bisa kembali berjalan seperti biasanya.”
Arini mengatakannya sambil menundukkan kepalanya karena ia selalu takut melihat sorot mata Baskara yang tajam saat menatap dirinya. Selain itu Arini tidak tega menatap wajah Baskara yang selalu terlihat tidak bersemangat serta putus asa saat membahas tentang kondisinya saat ini.
Ucapan Arini barusan bukan tanpa alasan karena semalam wanita itu sudah membaca informasi mengenai penyebab lumpuhnya kedua kaki Baskara.
Di sana tertulis kalau Baskara mengalami lumpuh sementara dan masih bisa kembali normal karena akibat kecelakaan yang dialaminya tidak mengenai organ vital sehingga masih ada peluang untuk kembali sembuh.
Pria itu bisa saja segera pulih jika rutin mengkonsumsi obat, vitamin serta melakukan fisioterapi dan juga rehabilitasi medik. Selain itu, yang terpenting adalah kesabaran Baskara untuk melewati masa proses pemulihan yang bisa saja lama atau pun lebih cepat.
Sejenak Baskara merasa ucapan Arini terdengar begitu tulus serta menyejukkan hatinya hingga pria itu bergeming. Selama ini Baskara juga merasa dirinya sangatlah egois hingga tidak bisa merasakan ketulusan dari orang lain yang menyayanginya.
Pria itu juga merasa kehilangan harapan kala mantan kekasihnya dulu mengatakan kalau dirinya tidak bisa kembali normal seperti dahulu sehingga hal itu dijadikan alasan untuk meninggalkan dirinya.
Jujur saja dunia Baskara terasa sangat hancur karena penyebab alasannya untuk kembali sembuh sudah meninggalkan dirinya, sehingga pria itu merasa tidak ada gunanya lagi untuk melakukan semua hal yang menurutnnya bersifat mustahil.
“Tu— tuan....”
“Bawa semua makanan ini ke dapur lalu hangatkan di microwave selama lima menit dan kembalilah ke sini,” titah Basakara yang berubah pikiran.
“Hah?”
Arini seolah tidak percaya jika Baskara mau merubah keputusannya hingga wanita itu bertanya seolah tidak mendengarnya.
“Waktumu hanya sepuluh menit jika lebih dari itu maka aku tidak akan memakannya lagi.”
Basakara menekan tombol untuk berjalan ke arah teras kamarnya. Sementara Arini segera membawa nampan tersebut ke dapur. Setidaknya sedikit usahanya berhasil untuk membujuk Baskara.
***
“Halo Sayang, kamu lagi apa sekarang?” tanya Arini yang sedang melakukan panggilan telepon dengan putranya yang saat ini sudah sampai di rumah menggunakan ponsel ibu mertuanya.
“Aku baru aja selesai cuci tangan dan ganti baju, Ma.”
Arini sebenarnya sudah tahu kegiatan apa saja yang dilakukan putra setelah pulang dari taman kanak-kanak tersebut. Hanya saja ia ingin mendengar sendiri apa yang sedang dilakukan oleh putranya tersebut.
“Habis ini kamu makan siang kan sama Nenek? Jangan lupa nanti kalau makan sayurnya dihabiskan ya, Sayang.”
“Iya Mama tapi habis makan aku boleh makan es krim, kan?”
Arini mengangguk sambil tersenyum seakan Astara sedang berada di hadapanya. Sedangkan Astara tampak kebingungan karena sang mama hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.
“Halo Ma, Mama masih ada di sana?”
“Astaga bisa-bisanya aku lupa menjawab pertanyaan Astara karena sudah terbiasa bertatapan muka secara langsung.”
“Iya boleh tapi sebelum tidur siang nanti kamu harus gosok gigi dulu ya, Sayang.”
“Hore... Nenek kata Mama aku boleh makan es krim sesudah makan.”
Arini tersenyum mendengar sorakan putranya yang terdengar semakin menjauh karena pria kecil itu berlari ke arah sang nenek dan meninggalkan ponselnya tergeletakkan di tempat tidur.
Wanita itu sama sekali tidak marah melainkan ia mengakhiri panggilan telepon mereka. Arini memasukkan ponselnya ke dalam kantung sakunya lalu kembali ke dapur.
“Arini, bisakah kamu membantuku menyiapkan makan siang?” tanya bibi Darsih ketika Arini sampai di dapur.
“Bisa, Bi.”
Arini mengangukkan kepalanya lalu segera menghampiri bibi Darsih untuk membantu wanita paruh baya tersebut untuk memasak karena tiga puluh menit lagi keluarga Erlangga akan makan siang bersama.
“Tadi kamu telepon siapa? Pacar ya?” tanya bi Darsih membuka obrolan di tengah aktivitas mereka.
Arini tersenyum ke arah bibi Darsih. “Bukan, Bi.”
“Masa sih, bukan? Terus, kenapa tadi manggilnya pakai sayang?”
Bibi Darsih tadi tanpa sengaja mendengar percakapan Arini dengan putranya yang dipanggil dengan kata ‘sayang’ di garasi yang letakknya dekat dengan dapur.
Sebenarnya tadi niat bibi Darsih menghampiri Arini bukan untuk menguping, melainkan ingin meminta bantuan wanita itu untuk menyiapkan makan siang.
“Saya tadi lagi telepon sama anak dan Ibu mertua saya, Bi.”
“Oh maaf Bibi kira kamu lagi teleponan sama pacar habisan kelihatan senang sekali tapi anak kamu cewek apa cowok? Dan umur berapa sekarang?” tanya bibi Darsih penasaran.
“Anak saya cowok, Bi. Dan umurnya sudah lima tahun,” jawab Arini.
“Wah, sudah besar juga ya anakmu tapi pasti wajahnya tampan seperti Papanya ya?”
Arini menganggukkan kepalanya karena memang menurutnya sang putra setampan mendiang sang suami, sehingga setiap kali wanita itu merindukan almarhum suaminya, Arini bisa melihat serta memeluk tubuh Astara untuk melampiaskannya.
Setelah selesai membantu menyiapkan makan siang untuk keluarga Erlangga, Arini membawa nampan berisi makan siang ke kamar Baskara karena pria itu benar-benar tidak pernah keluar dari kamarnya walau hanya untuk makan bersama.
“Permisi Tuan Baskara, saya datang membawakan makan siang,” ucap Arini setelah mengetuk pintu kamar pria itu.
Namun saat memasuki kamar Baskara, suasana terasa sangat hening hingga Arini pikir mungkin pria itu sedang tidur. Tapi setelah meletakkan nampan di meja, Arini tidak mendapati keberadaan pria itu hingga ia mencarinya.
“Aku kira pria itu sedang tidur ternyata ia masih membaca bukunya di teras tapi kenapa dia tidak merespons ucapanku?”
Arini melangkahkan kakinya mendekat ke arah Baskara yang ternyata ketiduran ketika membaca buku hingga kepalanya tertunduk dengan buku yang ada di atas pangkuannya.
Wanita itu berjongkok lalu melihat wajah teduh Baskara ketika sedang tertidur. Arini meraih buku tersebut secara perlahan agar tidak membangunkan pria yang ada di hadapannya.
Namun ternyata Baskara yang tengah terlelap merasa terusik hingga pria itu membuka kedua matanya dan sontak saja membuat Arini hampir terjungkal ke belakang ketika wanita itu terkejut kalau saja Baskara tidak dengan sigap memegang tangannya.
Dalam beberapa menit tatapan mata keduanya mereka bertemu hingga mereka saling bertukar pandang. Detak jantung keduanya pun terasa berdetak lebih cepat namun Basakara lebih dulu menipis hal itu agar tidak berlangsung lama.
“Tidak bisakah kau berhati-hati? Bagaimana jika kepalamu terbentur lantai?” omel Baskara yang membuat Arini tersadar.
“Bukankah dia yang tadi membuatku terkejut dengan bangun secara tiba-tiba? Kenapa aku yang disalahkan?”
“Cepat bangun,” titah Basakara saat Arini masih bergeming.
Arini pun segera bangkit dengan pandangannya yang entah ke mana. Ia merasa canggung untuk menatap wajah Basakara.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah bilang jangan ke kamarku sebelum jam makan siang?”
“Saya membawakan makan siang untuk Tuan Basakara dan sudah saya letakkan di meja,” jawab Arini sambil menundukkan kepalanya.
“Ya sudah kau boleh pergi,” usir Baskara dengan tangannya yang ia lambaikan ke udara.
“Baik Tuan tapi jangan lupa untuk meminum obat dan vitaminnya setelah makan ya, Tuan,” kata Arini mengingatkan sebelum ia pergi.
“Iya Bawel, sana cepat pergi.”
Arini melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan kamar pria itu tapi Baskara sudah lebih dulu memanggilnya kembali hingga langkahnya terhenti.
“Di mana es krimku yang kau janjikan tadi? Bukankah kau sudah berjanji?” tanya Baskara saat mendapati Arini yang tidak menepati janjinya.