“Apakah aku harus menunggu sampai kau datang hanya untuk menikmati sarapanku?”
Suara Baskara hampir saja membuat Arini melepaskan nampan yang berisi sarapan pria itu dari tangannya.
Tentu saja Arini merasa terkejut karena untuk pertama kali ia masuk ke dalam kamar Baskara, dirinya sudah disambut dengan cahaya minim hingga terlihat temaram serta beberapa barang yang berserakan di lantai.
Selain itu Arini pikir sang pemilik kamar sedang berada di kamar mandi karena ia tidak mendapati Baskara di atas tempat dirinya. Dan sekarang Arini bisa melihat sang pemilik kamar yang berada tepat di dekat pintu masuk yang entah sejak kapan, tepatnya di atas kursi roda.
“Ma— maafkan saya Tuan Baskara, tapi....”
“Jika kau tidak niat bekerja lebih baik pergi saja,” usir Baskara.
Arini yang sejak tadi menundukkan kepalanya kini mengangkat kepalanya dengan kedua matanya yang membulat.
“Bukan begitu Tuan, tapi....”
“Sudahlah sekarang siapkan air hangat dan juga pakaianku karena aku ingin mandi,” potong Baskara lagi lalu ia mendorong kursi rodanya melewati Arini.
Arini memilih untuk segera menuruti perintah dari Baskara sebelum dirinya dimarahi lagi. Wanita itu meletakkan nampan di atas meja yang ada di sudut lain kamar itu.
Berkali-kali Arini ingin sekali menjelaskan kepada Baskara mengenai alasan kedatangannya tapi pria itu selalu memotong ucapannya hingga ia merasa tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Sebenarnya Arini diperintahkan datang sekitar jam sembilan pagi oleh Adi. Tapi saat wanita itu bertemu dengan bi Darsih- pembantu rumah ini, wanita itu mengobrol sebentar baru setelah itu membawa makanan serta obat-obatan milik Baskara ke kamarnya.
“Arini, apa-apaan ini?” teriak Baskara dari kamar mandi hingga membuat wanita itu yang tadinya sedang membereskan kamarnya berlari ke kamar mandi.
“Iya, Tuan.”
“Aku sudah bilang siapkan aku air hangat tapi air ini masih terlalu dingin untukku,” omel Baskara.
Arini menarik napasnya lalu membuangnya secara perlahan untuk mengatur tembok pertahannya agar ia sabar dalam menghadapi pria itu. Wanita itu segera menambahkan air panas ke dalam bak mandi.
“Apakah ini sudah pas, Tuan Baskara?” tanya Arini.
Baskara mendorong kursi rodanya yang memasukkan tangannya ke dalam air yang ia rasa sudah pas.
“Kalau begitu saya ak—“
“Tunggu dulu, bantu aku untuk masuk ke dalam bak mandi,” titah Baskara yang membuat Arini melongo.
Haruskah dirinya menggendong pria itu untuk masuk ke dalam bak mandi? Tapi tubuh pria itu sedikit lebih besar dari tubuhnya.
“Apa kau pikir? Aku harus langsung melompat dari sini ke dalam bak mandi?” tanya Baskara ketika Arini masih bergeming.
“Apa kau ingin berhenti bekerja sekarang?” tambah Baskara.
“Ti— tidak, Tuan.”
Arini segera mendekat ke arah pria itu, memapah tubuh Baskara dengan sekuat tenaganya ke pinggir bak mandi. Baskara sendiri tidak dengan tega membiarkan Arini sepenuhnya menopang tubuhnya sehingga ketika sudah berada di dekat bak mandi tangannya ikut berperan menyangga tubuhnya.
“Pergilah,” usir Baskara.
Arini segera keluar dari kamar mandi lalu menutup pintu itu secara perlahan. Setelah itu, Arini kembali melanjutkan pekerjaan dengan membereskan kamar Baskara serta membuka tirai yang masih tertutup.
***
“Kak Baska....”
Raka merasa terkejut ketika melihat sosok wanita cantik yang tengah membersihkan kamar kakak tirinya. Padahal niat awalnya ingin memberikan kejutan kepada Baskara tapi yang dirasakan malah sebaliknya.
“Maaf Tuan, siapa ya?” tanya Arini ketika melihat sosok Raka.
Pria itu tersenyum ke arah Arini lalu berjalan mendekat serta menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Kenalkan namaku, Raka Abimanyu,” katanya sambil tersenyum.
Tentu Arini terkejut dengan sikap Raka yang terkesan sangat ramah berbeda sekali dengan sikap Baskara yang pemarah serta sangat galak.
“Nama saya Arini, Tuan. Saya perawat Tuan Baskara sekaligus pembantu di rumah ini,” kata Arini sembari ingin menjabat tangan Raka tapi sayangnya tidak jadi karena Baskara sudah lebih dulu memanggilnya.
“Arini....”
“Maaf Tuan, saya harus pergi sekarang,” pamit Arini sambil menundukkan pandangannya lalu berlari ke arah kamar mandi.
Raka tersenyum melihat tangannya yang tidak jadi berjabat tangan dengan Arini. Entah mengapa Raka merasa tertarik dengan wanita cantik yang baru ditemuinya.
“Raka, ada apa kamu ke kamarku? Bukankah seharusnya kamu berada di kantor?” tanya Baskara yang baru saja selesai berganti baju.
Raka yang sedang menatap ke luar jendela kamar sang kakak kini berbalik. “Aku sebenarnya tadi sudah siap untuk berangkat ke kantor tapi tunggu sebentar.”
Raka melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang kakak untuk mengambil hadiah yang sudah ia siapkan.
Tak butuh waktu lama Raka kembali masuk dengan sebuah kursi roda lipat baru yang membuat Arini dan juga Basakra mengerutkan dahinya.
“Kenapa kau membawa kursi roda itu? Bukankah milikku masih bisa digunakan?” tanya Baskara.
“Ini kursi roda elektrik, Kak. Aku sengaja beli ini agar Kakak tidak lagi kelelahan saat berjalan keluar rumah,” jelas Raka sambil melepas plastik yang menutupi kursi roda tersebut.
“Di sini ada tombol untuk mengerakkan kursi roda, Kakak mau mencobanya?” tawar Raka.
“Boleh. Eh kau bantu aku untuk pindah ke sana,” titah Baskara kepada Arini.
Ketika Arini hendak menuruti perintah Baskara, Raka sudah lebih dulu mendekat ke arah sang kakak.
“Arini, biar aku saja yang membantu Kak Baskara pindah ke sana.”
Arini menganggukkan kepalanya lalu mundur satu langkah. Baskara terlihat senang mendapatkan hadiah dari Raka.
“Selain tampan dan ramah ternyata Tuan Raka sangatlah baik serta perhatian kepada Kakaknya. Ia juga terlihat sangat menyayangi Tuan Baskara.”
“Terima kasih untuk hadiah ini setidaknya bebanku perlahan berkurang,” kata Baskara sambil tersenyum.
”Sama-sama, Kak.”
Raka merasa sangat senang melihat kakaknya bisa kembali tersenyum. Pria itu melirik ke arah jam di tangannya.
“Kalau begitu, aku pamit dulu ya karena aku ingin berangkat ke kantor,” pamit Raka.
Baskara hanya membalas dengan anggukan kepala lalu pandangan matanya beralih kembali ke arah kursi roda yang sedang didudukinya. Pria itu merasa takjub dengan benda yang dapat meringankan dirinya saat berpergian ke setiap sudut rumahnya.
“Maaf Tuan Baskara tapi apakah Tuan mau saya panaskan lagi makanannya karena Tuan harus segera minum obat.”
Dengan keberanian penuh Arini berusaha mengingatkan Basakara untuk segera menyantap makanannya mengingat sekarang sudah hampir mendekati jam makan siang.
“Aku sudah tidak mood untuk makan jadi bawa saja makanan itu ke dapur,” balas Baskara.
“Tapi Tuan harus minum obat agar....”
“Kenapa kamu ini bawel sekali sih? Lagi pula obat itu tidak bisa menyembuhkanku sekali cacat akan tetap cacat!” sergah Baskara.
Arini mungkin bisa saja membiarkan pria itu tidak sarapan dan tidak meminum obatnya tapi ia tidak ingin mengingkari janjinya kepada pak Adi yang memintanya untuk memastikan Baskara terus meminum obat tersebut.
“Tuan Baskara, bagaimana kalau setelah sarapan dan minum obat nanti saya traktir es krim?”
Arini sengaja membujuk pria itu dengan hal yang biasa dilakukannya kepada Astara kalau putranya tidak ingin makan atau pun tidak ingin minum obat.