Menyambung Hidup

1060 Kata
"Sekarang Astara masuk ke dalam ya, nanti kalau tidak ada halangan Mama akan datang lagi untuk menjemput kamu," kata Arini seraya mengusap puncak kepala putranya. Sebelum menghadiri panggilan wawancara kerja, ia menyempatkan diri untuk mengantar Astara pergi ke Tk Lestari, di mana putra menimba ilmu sambil bermain. "Iya Ma, kalau begitu Astara masuk ke dalam dulu ya," pamit Astara sambil meraih tangan sang mama lalu menciumnya. "Semangat belajar, Sayang," kata Arini menyemangati putranya yang sudah melangkahkan kakinya sambil tersenyum serta telapak tangannya yang dikepal dan diayunkan ke udara. Astara yang masih mendengar suara Arini langsung berbalik dan melakukan hal yang sama. "Semangat juga, Mama." Arini menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan juga melambaikan tangannya. Setelah itu Astara masuk ke dalam kelasnya dibantu guru piket yang sedang berjaga. Ketika Arini hendak memesan ojek online, ponselnya berdering dari nomor yang tidak dikenalnya tapi juga terasa familiar baginya. "Halo selamat pagi Ibu Arini, saya Dita yang semalam mengirimkan undangan interview kepada Ibu Arini," sapa Dita. "Oh ya Ibu Dita, ada apa ya? Apakah jadwal wawancaranya diundur atau….." "Bu–bukan, Bu. Hanya saja saya ingin menginformasikan kalau lokasi interview berubah yang tadinya di perusahaan Erlangga Group kini dialihkan ke kediaman Bapak Adi, apakah Ibu Arini keberatan?" "Apa dialih? Tapi kenapa harus di rumah keluarga Erlangga?" "Kalau Ibu tidak keberatan Bapak Adi akan mengirimkan orang untuk menjemput Ibu di lokasi saat ini," lanjut Dita. "Maaf tapi kenapa harus di kediaman Pak Adi ya, Bu Dita?" Tentu Arini khawatir jika karena secara tiba-tiba lokasi wawancaranya menjadi di kediaman keluarga Erlangga karena posisi yang diambilnya saat ini untuk bekerja di kantor. Wanita itu hanya berusaha untuk bersikap waspada mengingat di jaman sekarang banyak sekali orang jahat yang memanfaatkan kondisi dan kesulitan orang lain. Ia sendiri sepenuhnya belum percaya dengan panggilan wawancara tersebut sebelum melihat sendiri jadi wajar bukan jika Arini bersikap waspada. "Soal itu karena saat ini Pak Adi sudah menyerahkan beberapa pekerjaan kepada putra keduanya dan interview kerja hari ini beliau memutuskan untuk langsung turun tangan tapi jika Ibu Arini keberatan…." "Saya sama sekali tidak keberatan dan setelah ini saya akan langsung mengirimkan lokasi saya kepada, Ibu," potong Arini cepat tanpa lagi berpikir panjang. Entah kenapa setelah mendengar penjelasan Dita barusan Arini tidak ingin membuang kesempatan yang sudah ada di depan matanya. "Baiklah terima kasih Ibu Arini, kami akan menunggu kedatangan anda hari ini di kediaman Pak Adi sampai juga." Setelah panggilan telepon itu pun berakhir dengan cepat Arini langsung mengirimkan lokasinya saat ini. Wanita itu berharap kalau keputusannya untuk mengikuti wawancara ini adalah keputusan yang tepat serta dirinya bisa diterima bekerja nanti. "Semoga saja kali ini adalah keputusan yang tepat untuk aku datang ke tempat itu dan semua aku lakukan demi Astara dan juga Ibu." Sekitar lima belas menit kemudian Arini dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil mewah yang bersiap mengantarnya ke kediaman keluarga Erlangga. "Selamat pagi Ibu Arini, saya Gama yang ditugaskan untuk menjemput Ibu Arini. Silakan masuk, Bu." Arini tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sang supir. "Ini beneran kan aku mau wawancara kerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan dan bukan sebagai– ah mikir apa sih, aku?" *** "Saya sudah membaca Cv yang kamu kirimkan tapi saya minta maaf karena sebenarnya posisi yang kamu inginkan sudah penuh dan saya ingin menawarkan pekerjaan lain yang gajinya dua kali lipat dari posisi sebelumnya," jelas Adi. "Maaf posisi apa itu, Pak?" Arini cukup terkejut karena posisi yang diinginkan sudah penuh tapi dia juga tidak ingat kapan dirinya mengetahui informasi tentang lowongan pekerjaan tersebut. "Sebagai pembantu sekaligus perawat untuk anak tertua saya, jika kamu mau menerima pekerjaan ini saya bisa membayar uang muka di awal," jelas Adi lagi yang berharap wanita yang ada di hadapannya mau menerima tawaran pekerjaan darinya. Sudah sejak lama Adi mencari perawat yang pas untuk merawat putra sulungnya tapi beberapa di antara mereka tidak ada yang bertahan lama hingga ia pun merasa hampir putus asa. Arini terlihat sedang mempertimbangkan tawaran dari Adi barusan. Tentu ia tidak keberatan jika harus bekerja menjadi pembantu sekaligus perawat tapi yang ia pikirkan adalah bukankah pekerjaan itu memerlukan dirinya untuk selalu standby kurang lebih selama 24 jam. Arini hanya mengkhawatirkan Astara yang masih memerlukan perhatian penuh dari dirinya. Sungguh saat ini Arini merasa sedang berada di sebuah persimpangan yang sangat sulit. "Maaf Pak, jika memang saya menerima pekerjaan ini apakah saya boleh melakukannya setengah hari? Seperti masuk kerja dari jam sembilan pagi lalu pulang di jam lima sore?" "Saya rasa tidak masalah tapi jika beberapa kali saya membutuhkan kamu untuk tinggal di sini dalam keadaan darurat, apakah bisa?" "Mungkin sesekali tidak masalah lagi pula aku butuh pekerjaan ini untuk menyambung hidup." "Kalau hanya sesekali tidak apa-apa Pak, saya mau menerima tawaran pekerjaan ini." "Baiklah tapi sebelum kamu benar-benar menyetujui serta kita melanjutkan ke langkah selanjutnya, saya ingin kamu bertemu dengan putra saya sebentar." Adi menoleh ke arah sang sekretaris yang bernama Dita yang memang sedari tadi berdiri di sebelah sofa. "Dita, tolong bawa Baskara ke sini." "Baik, Pak." Setelah melihat sendiri sikap Baskara yang terkesan pemarah serta tidak bersemangat dalam menjalani hidupnya, sejenak Arini memahami apa yang dirasakan oleh pria yang duduk di kursi roda itu. "Jadi, Bagaimana Arini? Apakah kamu bersedia untuk menerima pekerjaan ini?" "Saya bersedia menerima pekerjaan ini, Pak," jawab Arini tanpa ragu. "Benarkah?" Arini menganggukkan kepalanya. "Dita segera siapkan kontrak kerja untuknya, jangan lupa berikan seragam serta list tugas yang akan mulai dikerjakan besok," kata Adi yang terlihat antusias. Sambil tersenyum Dita berjalan mendekat ke arah Arini lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi kontrak perjanjian kerja. Arini membaca lembar demi lembar sebelum akhirnya menandatangani kontrak itu. ** * "Astara, mulai besok enggak apa-apa ya kalau nenek yang jemput kamu pulang sekolah soalnya Mama besok sudah mulai bekerja," ucap Arini kepada putranya dengan sangat berhati-hati. Arini hanya takut jika putranya menolak apa yang disampaikannya. Sebelumnya Arini juga sudah bicara dengan Laras perihal pekerjaannya dan beliau tidak keberatan jika harus menjemput cucunya pulang dari sekolah. Malah Laras menawarkan diri untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah selama Arini bekerja. Bagaimana pun Laras ingin membantu meringankan pekerjaan menantunya yang dengan senang hati sudah menampungnya setelah putranya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Walau begitu Arini tetap saja tidak ingin merepotkan ibu mertuanya. Sebisa mungkin walau nanti jika dirinya sudah bekerja ia akan tetap mengerjakan pekerjaan rumah. Bagaimana pun Arini sudah berjanji kepada mendiang suaminya agar selalu membahagiakan Astara dan juga ibu mertuanya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN