Setelah kejadian tadi Arini membawa Baskara untuk masuk ke dalam kamarnya karena pria itu terlihat begitu syok dengan ucapan mama tirinya. “Keterlaluan! Kenapa wanita itu tidak bisa menjaga perkataannya di depan putranya? Minimal kunci mulutnya dan bicara saja berdua dengan suaminya.” Saat itu Arini benar-benar merasa gemas dengan apa yang dikatakan oleh Widya karena perkataan itu terdengar begitu menyakitkan baginya. Sebagai seorang ibu, Arini sebisa mungkin tidak akan menyakiti hati anaknya seperti yang dilakukan wanita paruh baya itu. “Tu— tuan.” “Pergilah Arini, aku ingin istirahat.” Hati Baskara terasa sangat hancur karena ia harus mendengar hal yang menyakitkan dari mulut mama tirinya. Padahal sejak awal bukan hal itu yang ingin ia dengar. “Tapi, Tuan....” “Bukankah aku sudah

