Pertemuan Awal

1232 Kata
Pria bertubuh kurus tinggi itu berdiri di depan sebuah pintu kaca. Tangannya sedari tadi sibuk memutar-mutar kunci membuka pintu tersebut. Sepertinya harus diperbaiki secepatnya, pikirnya. Hampir setengah jam, akhirnya ia berhasil membuka pintu gerai itu. Tadinya ia ingin kembali tidur karena rasa kantuknya, tapi diurungkan niatnya. Lalu ia mengambil peralatan di gudang dan memperbaiki pintu tersebut. Rencananya Dirga hari ini akan mengunjungi gerai provider untuk memperbaiki kartu ponselnya yang rusak. Sebenarnya ia paling malas mengurusi persoalan kecil seperti ini. Namun kalau tidak diperbaiki, aktifitasnya akan terganggu karena semua nomer penting ada di dalam kartu tersebut. “Mas, saya tinggal bentar ke gerai provider nggih,” pamit Dirga. “Oh nggih, Mas,” ujar seorang barberman. Pria itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Ini adalah pengalaman perdananya harus berurusan dengan provider seluler. Sebenarnya kalau bukan karena ulah Vanessa, ia tidak perlu menyita waktunya mengurusi hal seperti ini. Setelah memarkirkan sepeda motornya, Dirga menaiki anak tangga yang menghubungkannya dengan ruangan customer service. Seorang security membukakan pintu untuknya. “Semangat pagi, silahkan Mas,” tutur petugas keamanan kantor tersebut, menyambutnya ramah. Dirga menuju mesin antrian. Pria itu mengernyit bingung, memilih tombol yang mana satu harus ditekannya. Security sangat paham customer yang belum pernah berkunjung ke kantor ini. “Bisa saya bantu, Mas. Mau ke customer service atau kasir?” tawarnya. “Saya mau ke customer service, Pak.” Lalu security tersebut menekan tombol berwarna biru, kemudian keluarlah selembar nomer antrian. Dirga dipersilahkan duduk untuk menunggu. Seperti biasanya, Fairuz dan Machmud mengisi untuk posisi customer service. Mereka tak pernah pindah ke bagian kasir karena menurut leader mereka, kedua karyawan tersebut selalu berhasil dalam mengambil hati customer. Kinerja mereka sangat baik dalam menanggapi komplain dari para pengguna jasa provider itu. Sementara Machmud masih menghandle pelanggan, Fairuz menekan nomer antrian dari sistem. “Nomer antrian ... Dua belas, menuju loket customer service, satu.” Dirga menuju loket sesuai dengan nomer antrian yang dipanggil. Saat ia menunggu, manik matanya menangkap dua petugas customer service yang pernah ia temui saat berkunjung ke gerai barbershop milik sepupunya itu. Saat pria itu sedang berjalan, dari kejauhan Fairuz terkesiap melihat siapa pelanggan yang akan ia handle sebentar lagi. Manik matanya sempat membulat sempurna, kemudian ia memperbaiki mimik wajahnya agar terlihat baik-baik saja. “Semangat pagi, Pak. Selamat datang di xxx Center. Silahkan duduk, Pak,” sapa Fairuz dengan senyuman khasnya. Kemudian ia duduk kembali setelah Dirga bersandar di kursi berwarna biru itu. “Mbak, kartu saya patah. Bisa diganti dengan kartu yang baru nggak, ya?” tanya Driga. Memberikan patahan kartu kepada Fairuz. “Baik, bisa disebutkan nomernya, Pak?” “Mbak, saya kelihatan tua banget ya dipanggil Bapak?” timpal pria itu jujur. Fairuz mengulum senyum geli. Dia ingin melepaskan tawanya, tapi ditahannya. Sementara Machmud menunduk menahan tawanya juga. “Maaf Mas, bisa disebutkan nomernya?” tanyanya kembali. Sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan bahasa jargonnya kalau menghadapi customer seperti ini. “0819700***.” Fairuz mencocokan dengan kode nomer yang tertera di belakang kartu patah tersebut pada sistem. “Saya boleh lihat kartu identitasnya, Mas?” Dirga mengeluarkan kartu identitas dari dalam dompetnya. Kemudian memberikannya kepada Fairuz. Wanita ayu tersebut mengernyit, nama yang tertera di sistem tidak sesuai dengan nama si pemiliknya. “Maaf Mas, saya boleh minta minimal 5 nomer ponsel yang dihubungi dari nomer ini selama sebulan terakhir untuk menguatkan data Masnya?” pintanya halus. Dia memberikan selembar kertas dan pena kepada Dirga. “Oh iya mbak, itu pasti asal-asalan, kan datanya?” aku pria bertubuh kurus tinggi itu. Diikuti anggukan dan senyum simpul dari Fairuz. Setelah melihat beberapa pesan dan beberapa panggilan keluar dari ponselnya, Dirga menuliskan satu persatu nomer yang diminta. Fairuz membuka data untuk mencocokannya, sesekali ia mencuri pandang kepada Dirga. “Ini Mbak nomernya, semoga benar ya,” harapnya. Menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisnya tadi. Dengan teliti Fairuz mencocokkan nomer-nomer yang ditulis oleh Dirga ke dalam sistem. Hingga pada nomer yang terakhir ia begitu terkesiap membacanya. Pria itu dapat membaca kecurigaan terbit di wajah wanita anggun itu. “Oh ya mbak, nomer yang terakhir itu, nomer baru. Mungkin datanya belum ada, karena waktu itu saya baru coba panggilan keluar,” jelasnya. Fairuz manggut-manggut sangat mengerti, karena nomer itu adalah nomer miliknya tentu saja ia sangat mengenalnya. Agar kecurigaannya tidak berkepanjangan, dia langsung memproses pergantian kartu tersebut. “Baik Mas, ini datanya sudah sesuai ya. Dibantu mengisi dulu ya Mas untuk perlengkapan datanya di sini,” titah Fairuz. Menyerahkan selembar formulir pergantian kartu customer. “Ini ya, Mbak.” Dirga menyerahkan kembali kertas tersebut. “Mas Dirga, ini kartunya sudah aktif. Bisa dicoba sekarang ke dalam ponselnya. Datanya sudah saya bantu sesuai namanya Mas Dirga ya, jadi kalau ada keluhan bisa mudah diproses,” ungkapnya. “Makasih banyak ya, Mbak,” ucapnya tulus. Lalu meninggalkan ruangan itu. Fairuz merapikan kembali meja kerjanya. Sejak tadi Machmud tidak tahan ingin segera mengusilinya. Kebetulan sekali belum ada antrian jadi mereka bisa bercanda sejenak. “Fa’i, ente ada-ada aja. Orang masih muda dipanggil bapak,” cibirnya. Pria keturunan Arab itu tertawa renyah. “Formalitas cuy, ente berisik aja,” protesnya. Fairuz mengerucutkan bibirnya mengejek rekan kerjanya yang selalu meledeknya. *** Pagi ini langit begitu indah dengan kecerahannya. Mengundang hati kecil seorang wanita hamil yang baru saja meninggalkan bilik peraduanya untuk menghirup udara segar. Dia mendekati seorang pria yang sedang merapikan taman di depan rumahnya. “Pa, ajak aku keluar. Bosen di rumah Pa,” rengeknya. “Arep ndi, Ness (Mau kemana, Ness)?” tanyanya. Waluyo meneruskan memapras tanaman yang sudah tumbuh tidak beraturan itu. “Manut, Pa. Sik penting aku metu seko omah (Terserah, Pa. Yang penting aku keluar dari rumah,” pinta Vanessa. Dia sudah tak perduli lagi gunjingan tetangga tentang dirinya. Waluyo menghela nafasnya kasar, dia menggeleng-gelengkan kepalanya heran menanggapi keinginan putrinya yang nyeleneh pagi ini. “Kamu izin dulu sama suamimu, baru kita berangkat.” “Dirga nggak bisa dihubungi, kartu ponselnya rusak semalem. Aku siap-siap ya, Pa.” Belum mendengar sahutan ayahnya, Vanessa langsung meninggalkan pria paruh baya itu yang masih setengah mengerjakan tugasnya pagi ini. Akhirnya baru setengah tanaman itu terpapras rapi. Selebihnya masih dibiarkan asal oleh Waluyo. Dia akan menuruti keinginan putrinya itu. Memang hari ini, pria paruh baya itu akan menghadiri pertemuan dengan komunitas pecinta seni di daerah Wonosari. “Pokoknya kamu manut aja ya, Papa ngajak kamu ke acaranya Papa,” tegasnya. Vanessa mengangguk pasrah, kemudian mereka pergi ke acara tersebut. Terlihat sebuah gedung pertemuan telah dipadati oleh para seniman yang berkumpul dalam acara pagelaran seni lukisan. Vanessa merotasikan bola matanya malas ketika langkah pertamanya menginjak halaman seluas 50 meter itu. Tapi dia tidak bisa menghindar untuk menolak ajakan ayahnya. Pameran lukisan itu banyak dihadiri oleh seniman ternama di kota Jogja dan sekitarnya. Satu persatu lukisan yang berjejer rapi terpajang di dinding itu diamatinya. Sama sekali wanita itu tidak mengerti makna dari objek lukisan yang berisi coretan warna gradasi tersebut. “Suka sama lukisan juga, Mbak?” tanya seorang pria yang sedang berdiri di belakangnya. Sontak membuat Vanessa terkesiap. “Hmm ... Saya cuma nemenin papa saya aja, Mas,” sahutnya seraya tersenyum kikuk. “Yuuk saya temenin sekalian saya bantu jelasin arti dari lukisan-lukisan yang ada di sini!” ajaknya. Pria itu mempersilahkan Vanessa melihat lukisan yang ada di tempat lainnya. Sementara ada sepasang mata sedang mengamati kebersamaan mereka berdua. Pria itu memotret mereka dari kejauhan, kemudian ia mengirim foto tersebut ke seseorang. Dia tersenyum puas dan kembali meneruskan acaranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN