bc

Jembatan Kasih

book_age18+
278
IKUTI
1K
BACA
second chance
badboy
sporty
drama
sweet
brilliant
biker
city
widow/widower
athlete
like
intro-logo
Uraian

Terjebak dalam hubungan yang terlarang membuat status Dirga menjadi seorang duda dengan latar belakang kehidupannya yang kelam. Setelah kepergian ayahnya untuk selamanya, Dirga mengubah hidupnya menjadi pria yang berkarismatik.

Perjuangan cintanya untuk memiliki wanita impiannya dari seorang bernama Fairuz membuatnya harus bersaing ketat dengan seorang pengusaha muda, Wendy, sekaligus teman satu team dalam pesepeda downhill.

Belum lagi ditambah campur tangan mantan isterinya, Vanessa yang berusaha merebutnya kembali dengan memanfaatkan anak yang terlahir dari hubungan terlarang mereka sebelumnya.

Mampukah Dirga mewujudkan hidup bahagia bersama wanita pujaan hatinya?

Happy Reading

chap-preview
Pratinjau gratis
Cobaan Bertubi-Tubi
Semilir angin berhembus lembut di waktu dini hari. Terlihat jalanan selebar 6 meter di sudut kota Jogja itu lengah dari kendaraan. Hanya terdengar suara seorang penjaja nasi goreng yang sedang meracik masakannya. Di sana terlihat juga seorang pembeli menunggu di atas kursi plastik berwarna merah. Di sepanjang jalan kampung bule itu juga terlihat beberapa wisatawan berjalan mengunjungi kafe yang terlihat begitu ramai pengunjung berkebangsaan asing. Mereka menikmati malam indah di kota yang penuh ketentraman ini. Tak jauh dari tempat itu, tinggallah seorang pria bersama kedua orang tuanya. Dia terlahir dari sebuah keluarga sederhana. Membayangkan sebuah keluarga yang hidup tanpa sebuah permasalahan adalah dambaan setiap manusia, tapi tidak dengan seorang pria bernama Dirga. Pengaruh buruk pergaulan yang ia jalani dalam kesehariannya membuat ia terjerumus menjadi pribadi yang sangat labil. Di usianya yang belum genap 20 tahun, Dirga telah memiliki catatan kriminal yang telah di lakukannya. Dari kejauhan tampak sebuah mobil sedan berlampu sirene biru melintas di depan gerobak dan berhenti di sebuah rumah sederhana berwarna cream yang tak jauh dari si penjual nasi goreng itu mangkal. Terlihat dua orang pria berbaju dinas turun dari kendaraan tersebut. Tok.. Tok.. Tok.. “Kulonuwun (permisi),” ucap mereka. Tok.. Tok.. Tok.. Tak lama kemudian, seorang wanita berumur sekitar 45 tahun membuka pintu rumah itu. Raut wajahnya yang kantuk, sontak membuat kedua netranya membeliak seketika melihat kedatangan kedua petugas keamanan tersebut. “Selamat malam Bu, maaf kami dari kepolisian ingin menanyakan, apakah benar ini rumah orang tua dari saudara Dirgantara Nugroho?” tanya salah satu dari mereka. “Njih Pak, saya ibunya. Kenapa dengan Dirga njih, Pak?” Jantung Sri berdetak hebat mendengar nama anaknya disebut oleh petugas kepolisian tersebut. Kenapa putranya itu selalu membuat perkara akhir-akhir ini. “Nanti kami jelaskan di kantor njih, Bu. Monggo ikut kami sekarang,” titah petugas kepolisian. Tanpa membuang waktu lama, Sri bergegas berangkat bersama kedua anggota kepolisian itu. Dia hanya pergi seorang diri tanpa ditemani siapapun karena sang suami sedang bekerja shift malam. Sepanjang jalan perasaannya berkecamuk mengingat perangai putranya yang membuatnya selalu mengelus d**a. Duh Gusti, ulah apa lagi yang dilakukan oleh Dirga, batinnya. Melihat dua petugas berseragam ini saja membuat jantungnya tak sanggup untuk berdetak stabil. Belum lagi mengetahui kejadian sebenarnya tentang kasus yang dialami putranya saat ini. Akhirnya, mobil mereka berhenti di sebuah klinik. Sri turun dengan langkah lunglai, ia tak sanggup melihat kenyataan yang akan dihadapinya sebentar lagi. Kedua pria itu menuju sebuah ruangan rawat darurat diikuti oleh wanita paruh baya tersebut. “Monggo Bu, Dirga ada di dalam.” Salah seorang polisi mempersilahkannya masuk. Sri mengangguk dan segera menemui putranya itu. “Ya Allah, Le. Ngopo kowe? (Ya Allah, nak. Kenapa kamu?),” tanyanya khawatir. “Jadi begini Bu, putra Ibu tadi terlibat perkelahian antar genk. Tangannya terkena senjata tajam. Untung saja cepat ditangani,” ungkap Bripka Sunaryo petugas kepolisian tersebut. Sri manggut-manggut mengerti. Dia melihat pergelangan tangan Dirga yang berbalut perban. Wanita paruh baya itu hanya bisa pasrah. Untuk tindakan kelanjutan setelah kasus ini, ia hanya menyerahkan kepada pihak yang berwajib. Belum genap sebulan putranya itu dikeluarkan dari sekolah karena melakukan perlawanan terhadap guru kelasnya, kini ia dihadapkan oleh masalah yang baru. Dia merasa sedih mengingat suaminya bekerja banting tulang menghidupi keluarganya, tapi putranya selalu membuat masalah. Sri hanya bisa menahan rasa malu berhadapan dengan lingkungan di sekitarnya. Hanya kepasrahannya kepada Tuhan yang membuatnya kuat menghadapi segala cobaan hidupnya. 3 tahun kemudian.. Semenjak Dirga dikeluarkan dari sekolah, hidupnya semakin tidak menentu. Tidak pernah sedikitpun niatnya untuk merubah sikapnya dan selalu membuat kedua orang tuanya tak mampu menghela nafas lega. Setiap malam ia pulang mabuk-mabukkan, kegiatannya sehari-hari selalu membuat ibunya meneteskan air matanya. Drrrrtt.. Drrtt.. Ponsel bernada midi itu bergetar hebat di atas meja jati kuno. Dirga melihat nama seorang wanita yang sangat dikenalinya tertera di layar benda pipih tersebut. Lalu ia mengangkat panggilannya. “Hallo.” “----------------------------” “Ok, aku kesana.” Dirga beranjak dari kursi jati tua itu, mengambil jacket dan helmnya. Kemudian pria itu pergi ke suatu tempat yang telah dititahkan. Pastinya ia akan menemui seorang wanita yang meneleponnya tadi. Sampai akhirnya pria itu berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari Alun-Alun Utara Kota Jogja. Dirga melihat Vanessa sedang duduk sendirian menunggu kehadirannya 20 menit yang lalu. “Gimana?” tanya Dirga lugas. Menarik sebuah kursi, lalu duduk. “Aku hamil anakmu sudah 6 bulan,” timpal Vanessa pasti. Dirga sontak terbatuk saat mengebulkan asap rokoknya. Dia hampir saja tidak mempercayai ucapan wanita yang baru sekali ditidurinya itu. “Kamu yakin itu anakku?” tanyanya to the point. Sorot matanya yang tajam seakan mengintimidasi wanita tersebut. “Apa maksudmu? Aku nggak pernah tidur dengan pria lain,” sahutnya jelas. Vannesa kecewa Dirga menanyakan status anak yang dikandungnya itu. Memang sebelumnya ia bukan wanita yang masih suci saat melakukan itu bersamanya. Mungkin wajar saja kalau pria itu meragukan pernyataanya. “Ok, aku tanggung jawab. Tapi kamu harus tahu statusku. Aku ini belum punya pekerjaan.” Wanita itu mengangguk pasrah. Dia tidak punya pilihan lainnya lagi. Sementara ia harus mengurung niatnya untuk meneruskan kuliahnya saat ini. Teringat akan pendaftaraan kuliah saat itu, Vannessa diantar oleh ibunya ke salah satu perguruan tinggi negeri di kota Jogja. Saat dalam perjalanan menuju kampusnya, ibunya melihat perubahan pada bentuk tubuh putrinya. Setelahnya, terungkaplah sebuah fakta baru tentang kehamilan di luar nikah dari wanita tersebut. Orang tua mana yang tak kecewa mendengar kebenaran berita yang mecoreng nama baik keluarganya. Ibunya adalah seorang pejabat di salah satu bank ternama di kota budaya itu. Kini ia hanya bisa pasrah dengan aib yang diembannya. Dirga pulang ke rumah tampak seperti biasanya. Terlihat tak banyak bicara karena ia memang sosok pria yang dingin. Kedua orang tuanya sudah memahami karakter dari putra semata wayangnya itu. Dia menutup pintu rumahnya agar suara kendaraan yang berlalu lalang di depan rumahnya sedikit meredam. Lalu ia menemui kedua orang tuanya untuk membahas maksud dari pertanggung jawabannya. “Buk, Pak ... Aku wis kebacut salah. Aku jaluk ngapuro, saiki aku kudu tanggung jawab. (Aku sudah terlanjur salah. Aku minta maaf, sekarang aku harus tanggung jawab),” ucap Dirga datar. “Tanggung jawab opo, Le? (Tanggung jawab apa, nak)?” tanya Sri lemah. Dia sudah pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa. Begitupun juga dengan Supardi suaminya. “Aku arep rabi, ono dana piro? Wis sak anane (Aku mau nikah, ada dana berapa? Sudah seadanya),” sahutnya. Sri terduduk lemas seraya memegang dadanya. Sebulir air mata jatuh di pelupuk matanya yang sudah berkeriput di makan usia. Kenapa cobaan dalam hidupnya selalu datang bertubi-tubi. Bagaimana ia akan menghadapi gunjingan dari tetangga kanan kirinya. Apalagi adik iparnya yang selalu iri akan kehidupan rumah tangganya. Dia tidak boleh tersaingi oleh Sri. Sebisa mungkin ia mencari celah untuk menjatuhkannya. Berbeda dengan kakak iparnya yang selalu membantunya karena mereka tahu wanita paruh baya itu sudah sebatang kara dan masa tuanya bergantung kepada suami dan anak semata wayangnya. Berbeda dengan Vanessa, hidupnya serba tercukupi. Walaupun ia bukan dari keluarga kaya raya, namun segala keinginannya selalu terpenuhi. Hal ini yang membuatnya selalu melakukan segala sesuatu sesuka hatinya, tanpa mau diatur oleh kedua orang tuanya. Vanessa memiliki wajah yang terbilang cantik, ia juga memiliki tubuh yang indah bak gitar Spanyol. Dia juga mampu membuat pria yang dekat dengannya berhasyat menyentuhnya. Kehidupan free s*x pun sudah menjadi makanannya. Sampai akhirnya ia terjebak dalam kehamilannya sendiri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook