Ibarat sebuah pepatah mengatakan “Nasi Telah Menjadi Bubur”. Tentunya kedua orang tua Vanessa sangat shock mendengar pernyataannya. Apalagi calon suaminya berstatus pria yang belum jelas masa depannya dan masih dalam proses pencarian jati diri.
Mereka tidak menyangka bahwa putri yang mereka gadang-gadangkan karena kecantikan dan kepintarannya itu tidak mampu menjaga mahkota satu-satunya pemberian dari Tuhan.
“Ayo Ness, ojo suwi-suwi mlakune (Ayo Ness, jangan lama-lama jalannya), tegur Hartini. Menunggu sang anak menyusulnya di tangga atas. Sedangkan Vanessa masih terengah-engah mengatur nafasnya yang menderu naik turun itu.
“Sik ma, aku ra iso mlaku cepet-cepet jee (Sebentar Ma, aku nggak bisa jalan cepat-cepat), protesnya.
Hartini melihat jam di pergelangan tangan kanannya yang terus berputar. Dia harus segera kembali ke kantor setelah mendaftarkan putrinya kuliah di kampus kuning ini. Waktu baginya adalah sebuah pedang, ia akan tertebas apabila lengah sedikit saja. Itulah prinsip Hartini dalam hidupnya.
“Nessaa, ih gemes aku. Cah jaman saiki koq do lelet kabeh (Anak jaman sekarang koq pada lambat semua),” gerutunya. Kemudian ia menuruni anak tangga menemui putrinya yang sedang kelelahan itu.
Tak sengaja Hartini menyentuh perut Vanessa saat menarik tangan anaknya itu. Langkahnya terhenti, kedua bola matanya membeliak dan ia terkesiap menyadari sesuatu yang menonjol dari bagian perut putrinya tersebut.
“Ma ... Ma,” sapa seorang pria paruh baya. Menepuk-nepuk pundak Hartini pelan. Wanita paruh baya itu terhentak dalam lamunannya.
“Nggih Pa, ojo ngaget-ngageti (Ya Pa, jangan ngaget-ngagetin), sahutnya datar. Semenjak ia mengetahui kehamilan Vanessa, Hartini sering terlihat melamun.
“Yang sudah berlalu jangan disesalkan Ma. Kamu harus kembali seperti yang dulu. Kalau kamu larut seperti ini terus, masalah ini tidak akan terselesaikan sampai kapanpun,” tegur Waluyo suami Hartini.
Hartini mengangguk pasrah, memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Walaupun Waluyo hanya mengandalkan isterinya dan menggantungkan hidupnya kepada Hartini sebagai tulung punggung keluarga, ia masih menghargai suaminya itu sebagai teman hidup yang setia. Waluyo juga tidak tahu harus berbuat apa lagi karena semua peraturan di rumahnya dikuasai oleh sang isteri.
“Pa, piye carane Vanessa iso dhuwe bojo sik luwih apik (Pa, gimana caranya Vanessa bisa punya suami yang lebih baik)?” tanya Hartini serius.
Sepertinya ia belum bisa menerima kenyataan bahwa calon menantunya nanti adalah seseorang yang tidak memilik apa-apa yang patut dibanggakan di matanya. Waluyo paham sekali karakter isterinya yang sangat ambisius itu.
“Mama tenang aja, pokokmen kabeh wis tak atur (pokoknya semua sudah saya atur),” jawabnya enteng. Melemparkan senyum smrik penuh teka teki kepada Hartini.
“Apa perlu Bernard bantu, Pa?” tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.
Dia adalah putra sulung dari Waluyo dan Hartini. Sedari tadi ia menguping di balik pintu ruang tamu. Menyelidiki gelagat kedua orang tuanya yang sedang berbincang serius. Bernard sebenarnya tidak ingin mengurusi kehidupan adiknya, tapi sepertinya kali ini ia harus ikut andil dalam rencana yang terselubung itu.
“Kowe ra sah melu-melu, Le (Kamu nggak usah ikut-ikutan, nak),” tolak Hartini mentah-mentah. Dia sangat hafal karakter anak sulungnya yang masih labil itu. Semua masalahnya selalu diselesaikan dengan kekuatan otot. Bukan hal itu yang diinginkan oleh wanita paruh baya tersebut.
Merasa kehadirannya tidak dibutuhkan kali ini, Bernard memilih meninggalkan kedua orang tuanya di teras minimalis bernuansa hijau itu. Dia sangat penasaran dengan calon adik iparnya yang telah berani membuat aib di keluarganya.
Dalam pandangannya, Hartini telah membayangkan calon suami Vanessa setelah ia tamat kuliah nanti adalah seorang usahawan muda. Anaknya layak mendapat pilihan suami yang terbaik karena ia cantik dan pintar. Namun, kini semua harapannya telah pupus.
Semenjak kejadian itu, Vanessa lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Dia mengurung diri, karena perutnya semakin terlihat jelas di usia kandungannya yang sekarang ini. Terkadang pergerakan janinnya membuat ia merasa terusik.
Wanita itu belum siap menjadi seorang ibu di usianya yang belum genap ke 19 tahun. Namun ia tetap mempertahankan janin itu. Masa mudanya seharusnya ia nikmati bersama teman-temannya di kampus, tapi malah takdir berkata lain.
***
Semakin malam suasana di kota gudeg ini semakin terlihat hidup. Musisi jalanan memainkan alat musik angklung dengan alunan lagu Jawa modern yang dikemas apik. Membuat para wisatawan terkesima menyaksikannya.
Begitu juga dengan perasaan seorang wanita yang sedang duduk sendirian di tengah keramaian itu. Entah mengapa malam ini ia ingin sekali menikmati kesendiriannya di titik nol kilometer. Wajahnya yang setengah terbungkus oleh masker berwarna putih, membuat orang-orang sulit mengenalinya. Dia merasa malu seandainya malam ini ada salah satu customernya yang kedapatan melihatnya seperti seseorang yang kesepian dan rapuh.
Alecya Fairuz Kurniana, seorang wanita mandiri yang hidup merantau di kota Jogjakarta. Dia bekerja sebagai customer service di salah satu perusahaan provider ternama di kota budaya ini. Sengaja ia meninggalkan kampung halamannya yang jauh karena ingin mewujudkan impiannya.
Setiap hari ia berangkat bekerja dan pulangnya ia melanjutkan kuliahnya. Hingga gelar sarjana telah diraihnya, Fairuz masih bertahan di kota Jogja dan enggan kembali ke kampungnya. Walaupun terkadang titik jenuh sudah di ubun-ubun kepalanya, semua perlahan sirna. Suasana di tanah Keraton ini membuatnya sangat nyaman dan tentram.
Sudah 3 tahun ini, wanita itu menikmati kesendiriannya tanpa seorang pria yang bernaung di hatinya. Baginya mencintai diri sendiri lebih berarti dibandingkan mencintai seorang pria yang hanya memandang kecantikan dan status sosial di atas segalanya. Padahal di dunia ini baginya tak ada yang abadi, semua akan kembali kepada Sang Pencipta.
Mencintai seorang pria selama 5 tahun lamanya dan ternyata dia bukanlah kategori pilihan pria berimage tinggi tersebut. Padahal dari awal, pria yang dulu dicintainya itu tidak pernah mempermasalahkan status pekerjaannya sebagai karyawan. Status sosial sedang naik daun menjadi tolak ukur pria untuk menunjang aspek kehidupan mereka kelak setelah menikah, alias pria yang tidak mau diajak susah.
Ternyata bukan wanita saja yang matrealistis dalam urusan mencari pasangan yang serasi dibawa saat acara kondangan, bathinnya. Dia mengibaratkannya seperti itu, karena nantinya pasangan mereka akan menjadi pembanding yang layak dengan pasangan lainnya.
“Saya numpang duduk ya, mbak,” sapa seorang pria yang tiba-tiba membuyarkan pandangannya.
“Monggo, mas,” sahutnya seraya mengangguk.
Pria itu sepertinya bernasib sama dengannya. Hampa di antara keramaian. Fairuz tidak memperdulikan kehadiran pria itu di sampingnya, netranya masih menikmati alunan musik jalanan tersebut.
“Sendirian aja, mbak?” tanyanya. Pria itu menyebulkan asap rokoknya asal. Untung saja wanita itu menggunakan masker, sehingga ia terlindungi dari bau yang sangat memuakkan itu.
“Iya, mas,” jawabnya singkat. Kemudian ia melihat pementasan musisi itu kembali.
“Mbak, pernah nggak melakukan kesalahan fatal selama hidup,” tanya pria itu kembali.
Fairuz sedikit terperanjat oleh pertanyaan yang diutarakan oleh pria misterius yang tak dikenalinya itu. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap kedua netra pria tersebut. Ini adalah salah satu caranya membaca karakter yang ia gandrungi dalam kesehariannya menghadapi customer.
Ada juga beberapa customer yang mau berbagi kisah kepadanya. Fairuz bukanlah wanita yang cantik, tapi ia berparas anggun, cerdas, dan menarik. Karena tipekal customer service yang diandalkan yaitu kecerdasannya dalam menghandle customer dari berbagai watak yang berbeda setiap harinya. Mereka berada di garda terdepan dalam menghadapi berbagai komplain terhadap provider.
“Belum, mas. Ya, mudah-mudahan jangan nyampe melakukan hal yang fatal,” timpalnya. Sebenarnya ia ingin sekali mengulik pertanyaan itu, tapi bukan ranahnya saat ini.
“Ya, baguslah, mbak. Kalo bisa jangan. Apalagi cewek ya, harus lebih menjaga martabatnya,” tambahnya. Pria itu berbicara sangat lugas sekali.
Fairuz mengangguk setuju. Sebenarnya dia sedang menghadapi seseorang yang secara tidak langsung mencurahkan isi hatinya kepadanya malam ini. Pria asing ini sepertinya sedang dirudung masalah, bathinnya.