Tekanan Batin

1251 Kata
Drrrrtt.. Drrrrtt.. Dirga mengangkat ponselnya yang tiba-tiba bergetar kencang. Senyum bahagia terbit di wajahnya saat ini. “Ndi, Nes (Dimana, Nes)?” “--------------------------------” “Wis tak enteni ning titik nol, kidule batik parang (Udah ku tunggu di titik nol, selatannya batik parang).” Pria itu menutup benda pipih tersebut, lalu menyimpannya di saku jacket hitam miliknya. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, sembari mengebulkan asap rokoknya. Pria bertubuh kurus tinggi itu sepertinya akan meninggalkan tempat ini beberapa saat lagi. “Oh ya, mbak. Kenalin saya Dirga,” tuturnya. Mengulurkan tangannya. Wanita itu menjabat tangannya. “Saya Alecya.” Dia sengaja mengenalkannya dengan nama depannya kepada orang yang menemuinya di luar jam kantor. Agar ia dapat membedakan seseorang yang mengenalinya. “Mbaknya pasti bukan asli Jogja, kan?” tebak Dirga pasti. Fairuz hanya mengangguk kikuk. Lidahnya terasa kelu, tak seperti biasanya dia begitu ramah dalam menghadapi costumernya. Mungkin aura Dirga yang dingin membuatnya menjadi membeku. “Wei, Ga. Tak goleki kowe neng omah, ra ono. Jebule minggat neng kene (Aku cari di rumah, nggak ada. Ternyata minggat di sini),” cibir seorang pria yang baru datang. “Kenalin, Mbak. Ini Yohanes, temen seperjuanganku,” ujar Dirga. Mereka saling berjabat tangan. “Hati-hati, mbak. Dirga ini diem-diem menghanyutkan,” celetuknya. Kemudian mereka terkekeh geli bersama. “Kami tinggal dulu ya, Mbak. Inget ya Mbak, yang tadi pesenku,” pamitnya. Fairuz mengernyit bingung. Kemudian ia mangut-mangut mengerti demi menghargai pesan moral yang disampaikan Dirga di awal perkenalan mereka tadi. “Ciiieee.. Yang mau jadi bapak, sekarang makin bijaksana aja,” cibir Yohanes. Dirga merespon dengan menoyor kepala sahabatnya itu. Mereka berdua berlalu meninggalkan Fairuz sendirian. Setelah acara lamaran tadi, Dirga langsung meninggalkan rumah Vanessa tanpa pamit. Sikapnya yang cuek dan tak mau tahu soal urusan pernikahannya. Lebih baik ia menghindar, apalagi setelah tahu karakter calon ibu mertuanya. Rencananya pernikahan mereka akan berlangsung dua minggu lagi. Terkesan mendadak, karena usia kandungannya yang hampir menginjak 7 bulan. Tidak ada kata pesta, acara ini cuma dihadiri oleh kedua keluarga inti dan beberapa para saksi. Vanessa bukannya tipe wanita yang menjadi idamannya. Terlepas dari sifatnya yang posesif, wanita itu juga seperti piala bergilir. Dirga hanya bisa menyesali perbuatannya yang tak bisa ditolerir lagi. Sementara ini, dia hanya bisa mengandalkan ijazah sekolah menengah pertamanya untuk mencari pekerjaan. Banyak sarjana yang menganggur, apalagi dia hanya memiliki nilai akademik di bawah standar bekerja. Untung saja ada saudaranya yang mau menerimanya menjadi seorang office boy di kantornya. Mungkin bagi Hartini, ibu dari Vanessa, pekerjaan Dirga tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kehidupan anaknya. Setelah menikah nanti, mereka akan tinggal di rumah Hartini agar ia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak dan cucunya kelak. Saat ini Dirga akan menuruti semua keinginan calon mertuanya yang ambisius itu. Mungkin setelahnya, ia akan membawa Vanessa dan anaknya kembali ke rumahnya. Bukankah pada hakikatnya seorang isteri harus mengikuti kemanapun suaminya pergi? Suka duka akan diarungi bersama tanpa campur tangan orang tua. Apalagi melihat Vanessa yang masih labil dalam mengurus anak, tentunya keluarganya akan menjadi dewi fortuna untuk mengatasi masalahnya. Walaupun sebenarnya hal ini tidak mendidiknya untuk menjadi seorang ibu yang baik. Keesokan paginya.. Kantong sampah berwarna hitam itu telah terisi penuh oleh rambut. Dirga mengikatnya setelah ia membersihkan ruangan dan mengumpulkan limbah tersebut. Ini adalah hari kesepuluh dia bekerja sebagai office boy di sebuah barbershop milik kakak sepupunya. Selain sebagai office boy, pria itu juga merangkap sebagai kasir. Memang dengan sengaja mas Panca, kakak sepupunya itu mendidiknya dari nol. Dia ingin agar Dirga mampu menjadi pria yang lebih bertanggung jawab. Tidak semua saudara bisa menerimanya dengan baik, orang tuanya juga sangat berterima kasih sekali atas kebaikan mas Panca kepadanya. “Tumben Mas, isuk-isuk wis tekan (tumben mas, pagi-pagi udah nyampe)?” tanya Dirga. Menyapa seorang barberman yang baru datang. “Nggih Mas, aku dijalukin tulung long shift dino iki (Iya mas, aku dimintain tolong masuk seharian hari ini),” sahutnya. Dirga manggut-manggut mengerti. Sedikit banyaknya dia mempelajari karakter seseorang di tempat kerjanya saat ini. Tidak semua karyawan bisa loyalitas terhadap pekerjaan apabila dalam sebuah manajemen tidak mampu memprioritaskan hak mereka. Apalagi dalam mengatur sumber daya manusia, mereka adalah pondasi utama dalam suatu usaha yang bergerak di bidang jasa. Walaupun dengan tipekal yang dingin dan acuh terhadap lingkungan sekitar, Dirga mampu bersosialisasi dengan baik dengan lingkungan pekerjaannya. Karyawan di sana sangat antusias dengan cara berpikirnya yang berwawasan luas. Padahal ia sama sekali tidak memiliki nilai akademik yang baik. Mungkin karena Dirga selalu bertemu dengan banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda, dia mampu mengatasi sebuah masalah sumber daya manusia dengan caranya sendiri. Mas Panca juga sudah mengetahui perubahan atas dirinya dari beberapa barberman yang rolling di kantor itu. “Piye Ga, wis siap rabi (Gimana Ga, udah siap menikah)?” tanya Mas Panca. “Siap ra siap, mas. Kudu siap (Siap nggak siap, mas. Harus siap),” timpalnya getir. Dia menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal. Mas Panca tersenyum hangat seraya menepuk-nepuk pelan bahu adik sepupunya itu. Dia yakin bahwa Dirga adalah tipekal pria yang bisa bertanggung jawab untuk keluarganya kelak. Walaupun sebagian keluarganya memandangnya rendah, namun mas Panca melihatnya dari sudut yang berbeda. Sementara itu di rumah keluarga Dirga, kedua orang tuanya hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa atas nasib anaknya ke depan. Adik ipar Sri sepertinya merasa puas mendengar berita yang menjadi bahan gunjingan tetangga tentang keluarga mereka. Berbeda dengan kakak iparnya yang masih menghargainya dan selalu membesarkan hati wanita paruh baya itu. “Piye acarane mengko, Sri (Gimana acaranya nanti, Sri)?” tanya Istuti, kakak iparnya. Dia selalu merasa iba dengan iparnya tersebut. “Ra ngundang wong akeh, Mbah. Wis diatur karo pihak rono (Nggak ngundang orang banyak, Mbah. Udah diatur sama pihak sana), lirihnya. Panggilam “Mbah” mengartikan bahwa Istuti telah memiliki cucu. Istuti mengangguk mengerti. “Sik sabar yo, urip iki akeh cobaane (Yang sabar ya, hidup ini banyak cobaannya).” “Njih, Mbah. Kulo mpun parsah kalian Gusti Allah (Iya Mbah, saya sudah pasrah sama Allah SWT), tuturnya. Tak sadar sebulir cairan bening menetes di pipinya. Kedua wanita paruh baya itu saling berpelukan menumpahkan rasa kesedihan yang dialami oleh Sri. Alunan suara azan magrib mendayu-dayu mengetuk jiwa anak manusia untuk kembali menghadap kepadaNya. Langit senja berwarna jingga itu menyinari sudut kota Jogja nan tentram. Tapi tak setentram hati Sri yang dibuat oleh putra semata wayangnya itu. Di setiap doanya, ia selalu menyematkan nama sang anak agar terketuk pintu hatinya untuk selalu mengingat Sang Khaliq dan kedua orang tuanya. Dengan kekuatan doa seorang ibu, Sri yakin mampu membuka pintu rahmad dari Yang Maha Kuasa untuk anak-anak mereka. “Assalamualaikum.” “Waalaikum salam.” Sri menyalami Supardi yang baru saja pulang bekerja. Dia membuatkan teh hangat untuknya. “Uhuk.. uhuk.. uhuk....” Terdengar suara batuk yang tak seperti biasanya. Memang akhir-akhir ini Supardi sering terbatuk-batuk dan merasakan sakit di dadanya yang luar biasa. “Piye, Pak? Periksoke ning dhokter (Gimana, Pak? Diperiksakan ke dokter)?” ajak Sri khawatir. Supardi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau. Dia hanya ingin beristirahat di rumah saja, mungkin karena ia kelelahan dan tekanan batin yang dideritanya akhir-akhir ini membuat kondisi tubuhnya semakin melemah. Terkadang seorang ayah dalam diamnya ia menyimpan rasa kegundahannya yang tak mau ditunjukkan kepada siapapun. Dia terlihat tenang tanpa air mata, tapi dalam hatinya ia sangat rapuh. Begitu juga dalam pikirannya yang berkecamuk, segala macam masalah sebisa mungkin dipendamnya. Supardi adalah salah satu tipekal pria yang memiliki kepribadian yang tertutup. Keluarganya juga mengetahui bahwa ia tidak pernah mengutarakan permasalahannya kepada kakak maupun adiknya. Mungkin baginya permasalahan hidupnya cukup dia saja yang mengetahui segalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN