Jasmine berjalan tidak tentu arah, dia kehilangan semangat terakhirnya. otaknya mulai memikirkan apakah dirinya lebih baik mengakhiri saja kehidupan sengsaranya itu.
Rintikan hujan mulai membasahi bumi, ikut menangis melihat anak manusia yang hidupnya begitu sepi dan mengalami banyak masalah.
Baju yang basah tidak membuat jasmine berhenti untuk sekedar berteduh agar tubuhnya tidak sakit esok hari, justru kini Jasmine berdiri di samping jembatan sambil menatap air yang tampak deras di bawah sana.
“Apa bunda akan bahagia jika aku menyusulnya?"
Jasmine mulai menaiki pembatas jembatan itu, keputusannya sudah bulat, lebih baik dia akhiri saja penderitaannya daripada harus melihat bagas menikah dengan wanita pilihan ibunya.
Jasmine berdiri sambil menutup kedua matanya, dia merasakan semilir angin juga hujan yang terus menerpa tubuhnya.
Jasmine mulai mencondongkan tubuhnya ke depan, sambil mengucapkan permintaan maaf pada ayahnya “Ayah Jasmine pamit, maafkan Jasmineaku mencintaimu ayah."
Brak!
Jasmine meraba tubuhnya, dia berfikir apakah dirinya sudah mati sekarang? tapi kenapa tidak ada sedikitpun rasa sakit yang dia rasakan? apakah Tuhan sengaja mengambil nyawanya lebih dulu sebelum raganya hancur di bawah sana?
“Bangun!"
Mata jasmine langsung terbuka setelah mendengar suara berat itu dari sampingnya.
“Astaga," Jasmine segera bangkit dari posisinya yang terbaring di atas tubuh seorang pria berpakaian hitam.
Pria itu ikut bangkit, dengan mata tajamnya ia menatap jasmine dengan marah, “Apa kau sedang mencoba bunuh diri?" tekannya dengan nada serius.
Jasmine meremas kedua sisi bajunya sambil menunduk, takut menjawab pertanyaan pria itu.
“Apa kau bisu?"
Jasmine menggeleng, “Maaf tuan, saya permisi," Jasmine langsung berjalan cepat meninggalkan pria itu yang menatapnya tajam, entah apa yang pria itu pikirkan tapi setelah kepergian Jasmine dia langsung pergi dari sana.
Jasmine sama sekali tidak berniat untuk pulang ke rumahnya, justru kini dia duduk di pelataran toko sambil merenungi nasibnya.
kejadian tadi sama sekali tidak membuatnya jera, Jasmine masih belum menyurutkan niatnya untuk menghilangkan nyawanya. dan hal yang sedang dia pikirkan adalah meminum racun.
“Sepertinya aku lebih baik meminum racun, aku lelah hidup di dunia ini aku ingin kedamaian aku ingin bertemu bunda. aku yakin Tuhan akan mengerti bagaimana kesulitanku saat ini, aku yakin dia tidak akan menghukumku atas apa yang telah aku lakukan nanti."
Jasmine merebahkan tubuhnya dengan pakaian basahnya itu di atas lantai, dia tidak lagi merasakan dingin tubuhnya sudah terlalu lelah untuk merasakan semua hal itu.
Hujan mulai mereda, langitpun kini tampak mulai terang dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Jasmine terbangun dari tidurnya dengan mata yang tampak sembab, di telusurinya jalanan yang sepi itu dengan wajah yang muram.
“Bahkan rasanya aku ingin Tuhan membangunkanku saat di dalam kubur saja."
Jasmine bangkit dari duduknya, sambil berusaha memeluk tubuhnya yang gemetar karena kedinginan. Tujuan jasmine kali ini adalah rumah sakit, dia berfikir sebaiknya dia kesana dan segera mengeksekusi rencananya tadi.
“Wahh cantik darimana?"
Kendala tidak terduga hadir menghadang Jasmine, tiga orang laki-laki bertato lengkap dengan anting dan juga baju compang-campingnya menyapa Jasmine dengan senyum menyeringai.
Jasmine berusaha mengabaikan pria itu dan berusaha mempercepat langkahnya, namun ketiga pria itu dengan sigap langsung menarik Jasmine.
“Hey jangan sombong begitu, kami tahu kamu İni wanita seperti apa. “sudah ya ayok ikut abang."
“Lepaskan saya," berontak Jasmine berusaha melepaskan tarikan pria itu.
Ketiga pria itu tertawa geli melihat Jasmine yang kalah tenaga dengan mereka, “Hahaha sudahlah cantik, kita senang-senang ya malam ini ayo," pria itu langsung merangkul tubuh Jasmine sedangkan dua orang lainnya memegang tangan Jasmine dengan kuat.
“Jangan teriak atau kamu berakhir disini," ancam pria itu.
“Bunuh saja, saya tidak perduli saya mohon lepaskan saya lepas, tolong -tolong!" teriak Jasmine.
Ketiga pria itu hendak membawa Jasmine ke sebuah rumah kosong yang berada di pemukiman penduduk, dengan niat melecehkan Jasmine malam itu.
“Tolong saya mohon lepaskan saja saya, tolongggg!"
Jasmine terus berusaha melepaskan diri dari ketiga pria itu, tubuhnya terus berontak hingga membuat ketiga pria itu murka terhadapnya.
Plak!
Pria bertubuh paling besar dan gempal itu langsung menampar Jasmine hingga membuat Jasmine lemas seketika, wajahnya sudah membiru dan juga bibirnya kembali mengeluarkan darah segar.
“Sudah gendong saja dia, jangan sampai ada orang yang melihat kita bisa jual wanita ini pada nyonya besar, kita akan kaya!" ujar pria itu sambil tersenyum senang.
Kedua pria lainnya langsung menggendong Jasmine, agar segera tiba di tempat yang mereka tuju. Namun belum sempat mereka beranjak dari tempat itu seseorang tiba-tiba datang menghadang mereka.
“Lepaskan wanita itu atau isi pistol ini akan menembus otak kalian."
Pria itu mengacungkan senjata api tepat mengarah pada dua pria yang sedang menggendong Jasmine.
“Kau ingin mengancam kami?" ujar pria bertubuh gempal itu, “Kalau berani coba serang aku tanpa pelurumu itu," tantangnya.
Tanpa menjawab pria bertubuh tinggi tegap itu langsung berlari dan menendang perut gempal pria itu, hingga dia terjatuh tersungkur di atas tanah.
Melihat temannya bernasib seperti itu dua pria lainnya segera melepaskan Jasmine dan balik menyerang pria itu.
Dengan cepat perkelahian pun tidak terelakkan, 3 lawan 1 bukanlah perkara yang mudah. namun pria itu bisa melumpuhkan ketiga lawannya itu.
“Sekarang kalian pergi dari sini, atau aku akan benar-benar membuat kalian berpindah alam," Ujarnya sambil mengacungkan pistol ke tiga pria itu.
Ketiga pria itu langsung pergi meninggalkan tempat itu dan meningggalkan Jasmine bersama pria itu.
Pria itu menyimpan pistolnya dan mendekat ke arah Jasmine, dia mengecek bagaimana keadaan Jasmine yang tidak bergerak itu.
“Huh dia masih hidup, tapi aku tidak mungkin membawanya ke rumah sakit. pasti orang-orang akan menyangka dan menuduhku melakukan kejahatan."
Pria itu segera mengangkat tubuh Jasmine itu, dan membawanya ke dalam mobil tujuannya adalah apartemen tempat pria itu tinggal, karena hanya itulah solusi satu-satunya.
Apartemen pria itu tidaklah jauh dari tempat mereka saat itu, hanya membutuhkan waktu 15 menit mereka sudah tiba di sana.
pria itu kembali menggendong tubuh Jasmine, beruntung tidak ada siapapun disana, jika tidak itu akan membuatnya dalam masalah. Lagipula siapa yang akan berjaga di tengah malam seperti ini.
Pria itu membawa Jasmine ke kamarnya, dan merebahkan tubuh Jasmine di atas sofa. pria itu tampak bingung, sambil menatap tubuh Jasmine yang basah kuyup dan wajahnya yang kotor karena terkena pasir di jalan.