Awal
“Jasmine sudahkah selesai dengan tugasmu?"
Jasmine menoleh ke arah sumber suara sambil tersenyum, “Sedikit lagi, apa kamu sudah lelah?" ucapnya sambil kembali membereskan bekas obat-obatan di mejanya.
Wanita bernama Risa itu menggeleng, “Tidak aku hanya takut kamu akan di marahi lagi jika pulang terlambat," lirihnya sembari tersenyum kecut.
Jasmine paham apa yang di maksud oleh Risa, siapa lagi kalau bukan ibu tirinya yang selalu menunggunya pulang hanya untuk mengambil uang hasil jualannya hari ini.
Jasmine saat ini sedang koas di salah satu rumah sakit terbesar juga terbaik di ibu kota, bukan tanpa alasan dia bisa masuk kesana. hal itu terjadi karena jasmine memiliki nilai akademik yang baik, bahkan dia bisa mendapatkan beasiswa kedokteran.
Tapi bukan hanya itu saja, Jasmine harus berjualan di rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, yang sebagian besar adalah tuntutan dari ibu tiri.
“Sisa berapa?"
Jasmine melirik ke arah keranjang kue dan juga nasi goreng yang dia bawa, masih tersisa 10 bungkus disana itu artinya dia harus menjajakan dagangannya itu hingga habis barulah dia pulang.
“Emm Jasmine, ini ada sedikit uang tapi ini tidak bisa membeli semua daganganmu," lirih Risa sembari menyodorkan uang 100 ribu yang ada di sakunya.
Jasmine menatap uang itu dengan penuh haru, dia benar-benar membutuhkan uang itu tapi sebagai teman jasmine tentu tahu bagaimana keadaan Risa yang hidup bersama neneknya itu.
Jasmine menggeleng, sambil mendorong sedikit uang itu, “Jangan Risa, aku bisa berkeliling di sekitar rumah untuk menjual ini, jangan khawatir doakan saja semoga aku beruntung di malam ini."
Risa menarik nafas panjang, keras kepala siapa lagi kalau bukan jasmine orangnya tapi untuk memâksa pun Risa tidak punya kuasa.
“Emm bagaimana dengan bagas?" tanya Risa hati-hati takut membuat jasmine tersinggung.
Jasmine tersenyum kecut sambit terus membersihkan peralatan medisnya, “Masih seperti kemarin, tidak ada kabar," jawabnya dengan lesu.
Risa benar-benar kesal memikirkan nasib percintaan jasmine, sudah berulang kali Risa katakan jika bagas tidak mencintainya, dia hanya memanfaatkan jasmine saja.
“Jasmine, apa kamu serius ingin menikah dengannya?"
Jasmine mengangguk, apa lagi yang mereka tunggu 7 tahun bukan waktu sebentar dalam menjalin hubungan suka dan duka, tangis dan tawa sudah mereka rasakan dan lihatlah mereka bertahan sampai sejauh ini.
“Aku hanya mengingatkan padamu jasmine, aku tidak ingin kamu kecewa nantinya meskipun kalian hanya menikah secara siri saja," ujar Risa memberikan pengertian.
“Aku paham," tutur jasmine sambil melepaskan jasnya, “Ayo kita pulang, nenek akan mencarimu jika terlambat, ayo."
Jasmine dan Risa melangkah keluar menuju ke arah pintu gerbang keluar menuju jalan raya, mereka akan berpisah disana menuju rumah masing-masing.
Setelah kepergian Risa kini tinggallah Jasmine yang meratap sedih melihat dagangannya yang belum laku, “Apa aku pulang saja? tubuhku rasanya lelah sekali," lirihnya.
Jasmine berjalan gontai, menapaki jalan yang sepi dengan genangan air hujan, udara begitu sejuk terasa menusuk tulang. Di momen seperti ini orang-orang akan lebih senang berdiam diri di rrumah, engan selimut hangatnya sambil memesan makanan favoritnya.
“Huh sepertinya akan sulit jika aku terus memaksa berjualan sekarang," Gumam jasmine sembari melirk kesana dan kemari.
Drt drt drt
Nada handphone layar sentuh jadul milik jasmine bergetar, suaranya juga tidak santai padahal nada handphone sudah di pasang sekecil mungkin. Jika ada yang melihat keadaan handphone jasmine mereka pasti akan terkejut, karena handphone tersebut keluaran pertama.
“Maaf sayang, mas tidak ada kabar selama beberapa hari ini karena sedang memikirkan sesuatu."
Melihat pesan itu dengan cepat jasmine menjatuhkan keranjang dagangannya dan membalas pesan itu, “Tidak masalah mas, apa ada masalah?"
“Ya sayang, ini soal pernikahan kita."
Mendapatkan balasan seperti itu mendadak jantung jasmine berdebar tak karuan, kabar apa yang hendak di sampaikan bagas hingga membuatnya risau seperti ini?
“Ada apa dengan pernikahan kita?"
“Besok saja, datanglah ke rumah biar ibu saja yang bicara."
Jasmine tidak lagi membalas pesan itu, dia berfikir mungkin saja besok orang tua bagas akan menanyakan perihal permintaan jasmine, ah sosweet sekali padahal dia sudah mengatakan pada bagas tidak perlu mewah, asalkan tidak merendahkannya sebagai wanita. lagipula untuk acara pestanya masih lama menunggu kelulusan jasmine.
Karena ingin menyampaikan kabar baik itu pada sang ayah juga ibunya, jasmine berniat ingin pulang saja, lagipula besok jasmine libur jadi dia bisa beristirahat cukup lama besok.
Di sepanjang jalan pulang jasmine terus tersenyum, terbayang olehnya bagaimana nanti membina rumah tangga dengan bagas, laki-laki yang sudah dia temani hingga memiliki toko kelontong yang cukup ramai.
“Ah sepertinya besok aku mengajak Risa, agar dia tahu kalau mas bagas benar-benar serius denganku."
Saat hampir tiba di rumah, tanpa sengaja jasmine bertemu dengan beberapa orang pengemis yang duduk di pelantaran toko sambil memeluk lututnya karena kedinginan, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak.
Disini jiwa kemanusiaan jasmine hadir, jasmine membagikan semua dagangannya pada anak-anak itu, dengan riang bahagia mereka mengambil nasi dan juga mie goreng dalam bungkusan itu.
“Terimakasih kak, semoga mudah rezeki dan sehat selalu."
“Iya kak, semoga sehat selalu, kakak ini mirip sekali dengan om tampan."
Kening jasmine mengernyit, om tampan? siapa itu pikirnya.
Tidak mau ambil pusing jasmine hanya tersenyum sambil mengelus pucuk kepala anak-anak itu, “Yasudah kakak pulang dulu ya, selamat makan setelah ini kalian harus segera tidur."
Anak-anak itu mengangguk semangat, mereka langsung melahap habis nasi dan juga mie itu tanpa sisa. melihat hal itu jasmine tersenyum senang, di dalam hatinya yang terdalam dia ingin sekali terus berbagi dengan anak-anak itu meskipun dalam keadaan yang sulit.
Setelah selesai dengan urusan anak-anak jasmine kembali melangkah pulang, hanya membutuhkan waktu lima menit jasmine sudah tiba di depan rumah yang cukup lengang di hiasi oleh taman, dan juga kolam ikan.
Ceklek
”Mana uang setoran?"
Baru saja pintu terbuka ibu tiri jasmine sudah menyambutnya dengan pertanyaan sehari-hari, sembari membersihkan kuku mahalnya.
Jasmine segera merogoh sakunya dan mengeluarkan lembaran uang yang dia dapatkan dari hasil dagangannya.
Ibu tiri jasmine yang bernama Asma itu menerima uang itu dengan kasar, dan mulai menghitungnya.
“Loh kenapa cuma segini? sisanya kemana?"
Asma bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah keranjang dagangan jasmine, “Kemana uangnya jasmine, semua dagangannya habis kamu pasti pake uangnya kan?" teriak asma.