Selama hidup bersama, keduanya tidur di kamar yang terpisah. Bima melarang semua penghuni rumah untuk membuka mulutnya mengenai apa yang terjadi. Bahkan, ia juga mengancam akan memberikan hukuman berat bagi siapa saja yang berani melanggar perintahnya.
“Mas Bima makan dulu, ya,” pinta Ara kepada suaminya.
Meskipun dengan hati yang pedih, Ara masih tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Wanita itu selalu menyiapkan sarapan dan makan malam untuk suaminya, meskipun tidak ada satu pun yang akan disentuh oleh Bima.
“Ck …!”
Bima hanya membalas ucapan istrinya dengan decakan saja. Jika boleh jujur, dia lebih memilih keduanya hidup seperti orang asing saja meskipun di bawah atap yang sama.
Pria itu tetap saja bersikap dingin pada Ara. Bahkan, setiap ucapan Bima yang pedas selalu membuat hati Ara seperti ada yang mengiris-irisnya. Namun, ia tetap menahannya karena tidak ingin membuat mertuanya kecewa.
***
Semakin lama sikap Bima semakin kelewatan. Bahkan, pria itu sudah tidak pernah menganggap keberadaan Ara, istri yang dia nikahi tanpa cinta. Semua karena keinginan kedua orang tuanya saja dan dia tidak bisa menolaknya karena ancaman yang dilakukan oleh papanya.
Sepasang netra milik wanita berparas cantik itu mulai berkabut ketika menyaksikan apa yang terjadi di dalam ruangan CEO yang hanya berdinding kaca transparan, sama seperti miliknya.
“Kamu benar-benar sudah kelewatan, Mas!” batin Ara sambil menatap nanar.
Ruang kerja mereka saling berhadapan yang hanya dipisahkan oleh koridor. Oleh karena itu pemilik ruangan itu bisa saling mengetahui apa yang terjadi di dalam ruang kerja satu sama lain. Padahal ada tirai yang bisa menutupinya, tapi sepertinya CEO itu lupa atau dia memang sengaja.
Memang tidak ada yang aneh, tapi di dalam sana tampak seorang wanita muda yang sedang menyuapi CEO yang sekaligus juga suaminya. Pria tampan itu tampak sangat menikmati semua perlakuan dari si wanita. Sesekali mereka tampak terlihat mesra seperti layaknya sepasang kekasih di saat semuanya sedang fokus bekerja.
Padahal belum waktunya makan siang, tapi siapa yang berani menegur sang CEO yang tengah dimabuk asmara di dalam sana. Namun, sepertinya kedua anak manusia itu seperti tidak menghiraukannya.
Cukup lama perempuan cantik berambut panjang itu menetalisir degup jantungnya yang tidak baik-baik saja. Bahkan, denyutan itu terasa hingga menusuk ke hatinya.
Sedih? Tentu.
Kecewa? Pasti.
Marah? Apalagi.
Jika ribuan karyawan di perusahaan ini tidak punya hak dan alasan untuk memberikan peringatan pada atasan mereka, maka wanita pemilik nama lengkap Tara Lalita Prakasa itu berhak atas semuanya.
“Aku harus segera menghentikan kegilaan mereka sebelum menjadi gunjingan para karyawan,” gumam Ara.
Ya … perempuan yang berstatus sebagai manager tim design itu punya hak sepenuhnya. Di samping itu dia juga memiliki alasan yang kuat karena laki-laki yang tengah disuapi oleh perempuan lain itu adalah suaminya. Laki-laki yang telah mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu untuk menjadi imam, kekasih, serta teman hidup yang akan mendampingi dalam setiap keadaan.
Ara pun bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan dengan elegan menuju ke ruangan yang berada tepat di depan ruangannya. Di mana sebuah ruangan yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, kecuali atas perintah dari pemiliknya.
“Kamu pasti bisa, Ara!” lirihnya untuk menguatkan dirinya sendiri.
Rasa gentar yang tiba-tiba menyerangnya terpaksa dia abaikan. Tangan putihnya juga terlihat sedikit gemetar ketika hendak menekan gagang pintu. Tepat di atas pintu terdapat tulisan ‘CEO Bimasena Cakara Pangestu’ yang dapat dilihat oleh siapa pun.
“Aku pasti bisa. Aku akan baik-baik aja!” lirihnya kembali.
Ceklek …!
Pintu pun dia buka dengan perlahan dan pemandangan yang menyesakkan dadaa terpampang dengan sangat jelas di depan matanya.
“Permisi. Maaf mengganggu waktunya. Tapi, saya hanya ingin memberi saran, sebaiknya tutup dulu tirainya sebelum melakukan hal-hal yang bisa memberi contoh tidak baik pada karyawan lain karena itu sangat melanggar etos kerja, meskipun yang melakukannya seorang CEO sekalipun,” tutur Ara menjelaskan dengan panjang lebar sambil menarik tirai untuk melindungi privasi sepasang kekasih tersebut.
Seketika telinga Bima pun terasa panas mendengar kalimat demi kalimat yang baru saja terlontar dengan lancar dari bibir istrinya. Meskipun terdengar lembut, tapi di telinga Bima terdengar sangat menusuk hingga ke jantung.
Wajah pria itu juga langsung merah padam, sedangkan perempuan yang tengah duduk di atas pangkuan Bima mendelikkan matanya dengan tajam ke arah Ara. Padahal semua karyawan juga tahu status Ara di dalam keluarga Pangestu.
“Kau …,” tunjuk wanita itu menahan geram.
Sebelum perempuan itu melayangkan protesnya lebih lanjut, Ara sudah melangkah keluar dari sana dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Jika tadi sebelum menegur suaminya sempat ada rasa takut yang meyelimutinya. Namun, setelah semuanya selesai hatinya pun merasa lega.
Ara melakukan itu karena harus menjaga nama baik kedua mertuanya dan terlebih lagi menjaga nama baiknya sendiri. Jika Bima bukan berstatus sebagai suami sahnya mana mungkin dia mau peduli.
Tidak ada emosi dan kesedihan yang perempuan itu tunjukan seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin dia sudah lelah dengan kondisi rumah tangganya yang tidak ada kemajuan. Lebih baik dia mengikuti arus saja karena tidak mungkin dia akan merubah sikap Bima untuk menerimanya sebagai istri. Biarlah pria itu tetap membencinya karena dia sudah tidak peduli lagi.
“Aku nggak akan menangis lagi untukmu, Mas!” tekadnya dalam hati.
Jika sebelum-sebelumnya Ara akan menghampiri sepasang kekasih itu dengan wajah yang basah oleh air mata. Namun, tidak untuk kali ini. Entah karena tidak ada lagi air mata yang dia punya atau karena sudah sadar jika laki-laki di dalam sana tidak pantas untuk dia tangisi.
Ara benar-benar sempurna dan karena hal itu pula yang membuat Bima mulai bingung dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa istrinya tidak terlihat sakit seperti biasanya? Kenapa perempuan yang terlihat sempurna itu tidak menangis lagi? Kenapa sikapnya kali ini seperti tidak berpengaruh terhadap istrinya?
Ternyata selama ini pria itu memang sengaja tidak menutup tirai karena ingin Ara melihat apa yang dia lakukan. Dia memang sengaja ingin mempertontonkan kemesraannya dengan sang kekasih yang diketahui bernama Dita Brata, salah satu karyawan magang di perusahaannya.
“Pergilah! Aku ingin sendiri,” ujar Bima sambil memberikan isyarat agar Dita turun dari pangkuannya.
“Tapi, Sayang …,”
Ucapan perempuan itu pun seketika terpotong setelah Bima mengibaskan tangannya sebagai tanda menyuruhnya untuk segera keluar dari ruangannya. Setelah melihat ekspresi Ara yang tidak terpengaruh lagi dengan sikapnya membuat suasana hati Bima pun memburuk. Tiba-tiba ia ingin menyendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
Di ruangan yang berbeda, Ara sudah tidak bisa fokus untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Lantas ia pun meraih tasnya dan berniat untuk pulang. Hari ini sama buruknya dengan hari-hari sebelum-sebelumnya. Bagi wanita cantik itu semanjak menyandang istri Bima, hidupnya semakin menyedihkan.
Dendam yang tak beralasan sudah Bima lampiaskan kepada Ara setiap detiknya. Bahkan, keadaan rumah tangganya yang mengenaskan sudah menjadi rahasia umum di rumah besar pemberian papa mertuanya. Namun, di antara para pekerja yang ada di rumah besar itu tidak ada yang berani mengadukan sikap Bima kepada Dewa ataupun Indira karena takut.
Menuju ke parkiran, pemilik tubuh semampai itu masih berjalan dengan anggun dan elegan. Tak lupa senyum terbaik masih menghiasi bibir ranumnya membalas sapaan karyawan yang sedang menyapanya.
“Selamat siang, Bu Ara,” sapa salah satu karyawan perempuan yang sedang berpapasan dengannya.
“Siang …!” balas Ara sambil tersenyum ramah.
Hingga tiba di area parkir, perempuan itu masih tampak baik-baik saja. Namun, begitu masuk ke dalam mobil keadaan pun berubah. Di dalam mobil mewah yang menjadi pelindungnya dari tatapan orang-orang, ia pun menumpahkan air matanya kembali.
“Aku lelah! Sungguh, aku benar-benar lelah menjadi istrinya. Hiks … hiks!”
Ara menangis sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. Tepatnya entah sejak kapan dan kenapa dia merasakan itu. Namun, itu selalu terjadi ketika mendapati suaminya tengah menyakitinya dengan sengaja.