Mobil yang dikendarai Ara baru saja memasuki halaman rumah yang luas. Perempuan itu pun turun dari mobil dan berjalan dengan langkah gontai menuju pintu utama. Tanpa dia sadari jika di dalam rumah itu sudah ada mama mertua sekaligus mama angkat yang sedang datang berkunjung.
“Sayang, kamu kenapa?” pekik Indira dengan raut wajah terlihat khawatir kala mendapati menantu kesayangannya tidak baik-baik saja.
Penampilan Ara tanpa sedikit berantakan dengan wajah sembab yang dipenuhi oleh air mata. Bukan hanya Indira saja, tapi semua orang yang melihat keadaan perempuan itu pasti bisa langsung menyimpulkan jika telah terjadi sesuatu terhadapnya.
“Ma, maaf! Aku merasa sudah nggak sanggup lagi menjadi istri Mas Bima, hiks …hiks,” tutur Ara di sela-sela isakannya.
Indira pun langsung memeluk menantunya dengan erat. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu tahu jika saat ini pasti akan tiba. Selama ini dia hanya diam sambil mengamati semua perlakuan Bima pada Ara.
Ara pun menumpahkan segala lara dan air mata. Sosok mama yang sangat menyayanginya layaknya ibu sendiri telah dia dapatkan semenjak dia bertemu dengan perempuan itu.
“Dengar, Sayang! Kalau kamu sudah nggak sanggup lagi, lepaskanlah! Kamu terlalu berharga untuk menangisi laki-laki keras kepala seperti itu,” tutur Indira sambil mengusap pelan punggung menantunya yang tengah terguncang.
Perempuan paruh baya itu tidak akan memaksa lagi agar putri angkatnya tetap menjadi menantunya. Dia tidak ingin melihat Ara semakin terluka akibat ulah putra kandungnya sendiri. Meskipun Ara bukan lagi menantunya, tapi perempuan cantik itu masih tetap menjadi putrinya.
“Apa Mama nggak akan marah sama Ara?” tanya wanita itu dengan ragu setelah melepaskan pelukannya terlebih dahulu dengan perlahan.
“Nggak, Sayang. Apa pun yang terjadi Mama akan tetap menyayangi dan mendukungmu. Sekarang lepaskan cincin itu dan kamu bukan lagi menantu Mama tapi putri Mama selamanya,” ujar Indira dengan mata-mata berkaca-kaca sambil tersenyum hangat.
Sebagai sesama perempuan tentu saja Indira bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Ara. Terpaksa harus bertahan di sisi pria yang tidak menginginkannya tentunya sangat menyakitkan.
Perempuan itu juga tahu kelakuan Bima ketika sedang di kantor. Bagaimana dia sering kedapatan bermesraan di dalam ruangannya tentu saja membuatnya sangat geram. Dia tidak diam. Sebagai seorang ibu, dia sudah pernah memberikan nasihat kepada Bima. Namun, putranya seperti mengabaikannya.
“Terima kasih, Ma. Ara sangat menyayangi Mama,” ucap Ara sambil tersenyum.
“Kemasi barang-barangmu dan tinggal-lah di apartemen kita! Mama janji akan sering-sering mengunjungimu. Biarkan Bima menyesal karena telah menyakitimu selama ini. Sudah cukup kamu mengeluarkan air mata untuk laki-laki seperti itu,” ujar Indira mencoba menghibur Ara.
Dia memang sengaja meminta Ara untuk menempati apartemen miliknya karena tidak ingin putrinya tinggal bersama dengan Bima lagi, sedangkan untuk tinggal bersama di kediamannya tentu saja itu tidak mungkin karena ada suaminya yang pastinya akan membuat pria paruh baya itu murka.
Bukan berarti dia akan menyembunyikan hal penting ini dari suaminya. Namun, dia harus memberi tahu dulu dengan perlahan karena tidak ingin suaminya kaget dan nantinya malah kenapa-kenapa. Jantung suaminya sudah bermasalah semenjak beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya dua tahun semenjak dia membawa Ara pulang. Tentu saja penyakitnya tidak diketahui oleh anak-anaknya. Hanya dia yang selalu menemani Dewa pergi kontrol ke dokter.
“Ke depannya berjanjilah untuk selalu tersenyum dan tetap bekerja seperti biasa. Cukup bersikap padanya layaknya atasan kerja, bukan sebagai suami. Mulai sekarang kamu putri Mama dan tentu saja Mama akan sedih kalau melihatmu terluka. Lupakan Bima!” sambung Indira.
Meskipun Bima putra kandungnya, tapi Indira tidak memihaknya. Jika putranya bersalah maka dia akan mengatakan salah bukan malah membelanya dengan membabi buta.
Sekali lagi Ara menjatuhkan diri di dalam pelukan mama mertuanya. Wanita paruh baya itu memiliki hati bak malaikat dan tentunya itu sangat berbeda dengan anaknya yang seperti seorang iblis.
Selama ini hanya kebaikan papa dan mama mertuanya-lah yang membuat Ara bertahan dalam pernikahan toxic ini. Kebahagian semu saja tidak dia dapatkan di dalam rumah tangganya, padahal dulu pernah Bima janjikan di depan penghulu.
Setelah puas menangis di dalam dekapan sang ibu, Ara pun melepaskan cincin pernikahannya. Untuk sesaat dia melihat benda kecil yang selama menyandang status istri sah Bima melingkar di jari manisnya. Cincin berlian yang berkilau indah itu pun dia serahkan kepada Indira.
Kemudian Ara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang selama ini dia tempati sendirian. Dia harus segera membereskan barang-barang miliknya yang kira-kira penting untuk dia bawa.
“Kamu sungguh bodoh, Bima. Perempuan sebaik dan secantik Ara malah kamu sakiti,” batin Indira sambil menatap sendu ke arah punggung putri angkatnya yang semakin menjauh.
Padahal di luar sana banyak pria yang mendambakan perempuan cantik itu. Tidak sedikit Indira menerima ajakan perjodohan dari teman-teman sosialitanya. Mereka sangat menyukai sikap Ara yang sopan dan selalu bisa membawa diri. Namun, Indira tidak berani menerima karena dia dan suaminya telah memiliki rencana menjodohkan Bima dengan Ara.
Namun, nyatanya perjodohan yang mereka lakukan pun gagal. Indira tidak berani memaksa agar Ara bertahan di dalam pernikahan karena dia sendiri tahu bagaimana sikap Bima kepada perempuan itu.
Ara pun mengemas semua barang yang akan dia bawa ke dalam sebuah koper dan sebuah travel bag. Untuk membawa dua koper tentu sangatlah tidak mungkin karena barangnya tidak sebanyak itu. Travel bag-nya pun berukuran kecil hanya dia pakai untuk membawa perlengkapan pribadinya saja.
Apakah mama mertuanya juga tahu jika selama ini dia tidur di kamar yang terpisah dengan Bima? Ara sudah tidak peduli lagi karena memang seperti itulah kenyataannya. Dia tidak akan berbohong hanya untuk melindungi Bima karena kini semuanya telah berakhir.
Setelah ini dia dan Bima akan kembali seperti dulu, seperti dua orang yang tidak akan pernah bertegur sapa. Bukannya Ara tidak mau menyapa, tapi lebih tepatnya perempuan itu tidak berani untuk mengajak pria dingin itu berbicara terlebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Ara pun tampak berjalan menuruni tangga sambil membawa koper yang terlihat berat. Dengan sigap pelayan pun langsung membantunya untuk membawakan koper dan travel bag-nya dan meletakkannya di sisi tangga.
“Ma … Ara pamit dulu, ya. Jaga kesehatan ya, Ma,” pamit Ara setelah berada di dekat mama mertuanya.
“Kamu jangan sampai telat makan dan jangan bersedih nanti asam lambung kamu naik,” tutur Indira mengingatkan.
Sebagai seorang ibu, tentu saja dia tidak ingin putrinya kenapa-kenapa. Andai Bima bisa menerima pernikahan ini pasti dia akan bahagia. Namun, ternyata rencana yang sudah dia susun bersama dengan sang suami tidak berjalan dengan lancar.
Setelah berpamitan, Ara pun bergegas pergi meninggalkan rumah megah itu dengan hati yang terasa campur aduk. Sambil mengemudi dia pun berpikir. Saat ini dia tidak bisa merasakan apakah dia senang karena telah berpisah dengan suaminya dengan lancar. Tentunya dukungan dari mama mertuanya sangat dia butuhkan.
Awalnya dia bingung dan takut bagaimana mengatakannya kepada wanita paruh baya yang sangat menyayanginya itu. Namun, ternyata mamanya malah mendukungnya. Saat ini dia merasa ada sesuatu yang mengganjal karena telah membuat sedih perempuan sebaik Indira.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Malam hari Bima sudah tiba di rumah. Indira pun bergegas keluar setelah mendengar deru mesin mobil milik putranya. Perempuan itu menatap ke arah sang putra dengan tatapan dingin dan wajah tanpa ekspresi. Perempuan itu memang sengaja menunggu sang putra pulang dan akan membicarakan masalah perceraian yang diinginkan oleh Ara.
“Ma …,” sapa Bima dengan ramah pada perempuan yang telah melahirkannya.
Entah kenapa hanya pada Ara-lah Bima menunjukkan sisi iblisnya yang begitu kejam. Entah apa alasan pria itu hingga begitu membenci Ara, hanya dialah yang mengetahuinya.
Yang jelas sebelum mereka menikah, hubungan keduanya tampak baik-baik saja, menurut orang-orang, bahkan bisa dikatakan mesra. Kata mereka Ara sangat beruntung dicintai oleh Bima begitu pun sebaliknya. Nyatanya semua itu hanya sandiwara yang Bima dan Ara persembahkan untuk semua orang.
“Duduklah! Ada yang ingin Mama bicarakan,” ketus Indira.
Bima pun langsung mendekati sofa dan mendudukkan dirinya. Di dalam hati pria itu pun sedang bertanya-tanya dengan perihal apa yang akan dibicarakan oleh sang mama.
“Ada apa lagi ini, Tuhan?”