Sebuah Cincin

1282 Kata
“Mama mau bicara apa? Kalau soal Ara, aku nggak ada waktu,” pungkas Bima hendak beranjak dari duduknya. Baru dua langkah dia mengayunkan kakinya, tiba-tiba sudah terhenti oleh ucapan mamanya kembali. Mau tidak mau ia pun berbalik untuk menghadap ke arah perempuan paruh baya itu lagi. “Bukan tentang Ara, karena mulai sekarang Mama nggak akan lagi menyita waktumu untuk membahasnya,” ucap Indira bernada tegas. Bima pun tampak mengerutkan dahinya. Pria itu tidak mengerti dengan maksud ucapan sang mama. Kemudian ia pun kembali mendudukkan dirinya di sofa yang dia duduki sebelumnya. “Ini ambil-lah! Ara menitipkannya ke Mama. Mulai sekarang kamu bebas membawa wanita jalangg itu ke rumah ini, bahkan ke kamarmu kalau perlu. Karena Ara sudah pergi, maka dia nggak akan mengganggu hidupmu lagi. Putriku juga berhak untuk bahagia,” tutur Indira sambil meletakkan sebuah cincin di atas meja tepat di hadapan Bima. Bima pun tampak tertegun karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Cincin yang sangat familiar baginya kini sudah terlepas dari jemari pemilikya. “Maksud … Mama, apa?” tanya Bima dengan suara yang terdengar pelan, bahkan sangat pelan hingga nyaris tak terdengar. “Nggak ada maksud apa-apa. Ara hanya sudah sangat lelah, dan Mama mengizinkannya mencari kebahagiaan di luar sana,” ucap Indira memberi tahu. Bima semakin tercengang dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh mamanya. Dia tidak pernah menduga Ara akan menyerah secepat ini. Seharusnya dengan kepergian perempuan itu membuatnya bahagia. Namun, kenapa dia tidak merasakan itu? “Air matanya juga telah habis karena sudah dikeluarkan dengan sia-sia selama ini untuk laki-laki yang nggak pantas mendapatkannya. Jadi jangan pernah ganggu dia lagi!” lanjut Indira masih dengan suara yang terdengar tegas di telinga Bima. Setelah mengatakan itu, Indira pun segera beranjak meninggalkan Bima yang masih tertegun di tempat duduknya. Tugasnya telah selesai untuk menyampaikan pesan Ara. Oleh karena itu, sekarang dia akan menyerahkannya kepada Bima. Putranya akan bertindak bagaimana, dia sudah tidak mau peduli lagi. Yang terpenting menurutnya selama Bima tidak mengganggu Ara lagi dia sudah senang. Namun, jika pria itu masih mengganggu perempuan itu, maka dia akan turun tangan karena dia harus bisa melindungi putrinya itu. Di dunia ini Ara hanya memiliki dirinya dan Dewa sebagai orang tua angkatnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya mereka berdua melindungi perempuan itu semampunya. Bima mengambil cincin berlian yang berkilau indah itu dengan ragu. Tiba-tiba saja dia teringat dengan kejadian tadi saat masih di kantor. Bahkan, banyak kejadian lainnya yang terlintas di dalam ingatannya ketika dia menyakiti Ara. “Aku istrimu, kenapa kau lebih memilih dengan perempuan itu?” tanya Ara pada suatu hari karena mendapati suaminya sedang bersama dengan wanita lain. Istri mana yang bisa diam saja ketika melihat suaminya sedang bersama dengan wanita lain. Bukan hanya itu saja, bahkan tangan perempuan itu tampak sedang mengamit lengan Bima seolah-olah dialah yang menjadi istri sahnya. “Apa salahku? Katakanlah! Biar aku meminta maaf dan memperbaikinya. Jangan menyiksaku dengan cara seperti ini. Aku sakit saat melihatmu secara terang-terangan mengakui wanita lain sebagai kekasihmu,” tutur Ara di lain waktu. Ingatan demi ingatan datang silih berganti bagaikan sebuah tayangan proyektor slide demi slide. Semua tampak terpampang jelas menunjukkan setiap perlakuan kejam Bima pada perempuan yang berstatus sebagai istri sahnya. “Kamu ingin makan apa? Biar aku siapkan,” ujar Ara ketika melihat Bima yang baru saja datang. Seperti sebelum-sebelumnya, pria itu akan tetap pergi bekerja meskipun tanggal merah. Entah apakah memang dia sesibuk itu atau hanya karena ingin menghindari Ara saja. “Kenapa kamu berubah? Meskipun begitu aku akan tetap mencintai kamu,” bisik Ara suatu hari ketika Bima sedang pura-pura tidur di sofa depan televisi. Hati Bima sempat berdesir ketika mendengar pengakuan wanita itu. Namun, pria itu segera menepisnya karena menurutnya perempuan itu tidak layak untuk dia cintai. Dia harus tetap memupuk dendamnya pada perempuan yang berstatus sebagai istri sahnya. “Ban mobilku kempes, bolehkah aku menumpang mobilmu?” tanya Ara pada suatu sore. Ketika hendak pulang, perempuan itu malah mendapati ban mobilnya kempes. Karena sudah menjelang petang, ia pun memutuskan untuk ikut pulang bersama mobil suaminya. Namun, kenyataan yang dia dapatkan malah membuat hatinya bagaikan tersayat-sayat. “Maaf ya, tapi kami akan makan malam romantis tanpa diganggu oleh siapa pun. Jadi silahkan pulang pakai taksi aja,” ujar seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Pada saat itu Ara sedang berdiri berhadapan dengan suaminya dan dari arah belakangnya tiba-tiba saja terdengar suara perempuan. Dia pun langsung menoleh ke asal suara dan mendapati Dita sedang tersenyum mengejek yang ditujukan padanya. Bima hanya diam saja dan kemudian sepasang kekasih itu pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Ara sendirian di parkiran. Akhirnya mau tidak mau ia pun pulang dengan menggunakan taksi. “Mas sedang sibuk, ya? Mau aku temani?” tanya Ara pada suatu malam di ruang kerja pribadi Bima di rumah. “Enyahlah dari hadapanku, Benalu!” desis Bima menukik tajam. Setiap makian, hinaan, dan bentakan Bima untuk Ara kini muncul satu per satu dalam kepala pria itu. Sekarang dia sudah terbebas dari benalu yang selama ini selalu membuatnya muak. Kini wanita miskin itu sudah pergi dari hidupnya dan dia merasakan sebuah kebebasan yang telah lama dia nantikan. Perempuan yang menurutnya sudah bertahun-tahun menjadi benalu di dalam keluarganya kini telah pergi. Wanita pembawa sial, tidak tahu malu, dan hanya bisa merepotkan. Benar-benar sebuah beban, menurutnya. Namun, kenapa tiba-tiba saja Bima merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Mengapa kepergian perempuan yang paling dia benci mendadak menjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Kenapa malam ini semuanya tiba-tiba saja berubah? Alih-alih bahagia, laki-laki itu malah tidak merasa puas sama sekali. Ke mana perginya keinginan yang menggebu-nggebu dulu? Di mana ketika dia menginginkan Ara menyerah duluan agar dia tidak disalahkan oleh kedua orang tuanya. “Aarrgg … sialaann!” Dengan cincin di dalam genggaman tangan, Bima melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga untuk menuju kamarnya. Tiba-tiba saja pikirannya mendadak buntu. Dia tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Padahal bukankah ini yang dia inginkan? Sesampainya di kamar, ia pun langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Matanya tampak menatap cincin berlian di tangannya. Kepalanya terasa penuh dengan ingatan-ingatan masa lalu. Di dalam ingatan pria itu tidak ada satu pun yang bersikap baik pada Ara. Awal kedatangan perempuan itu hubungan keduanya tampak biasa-biasa saja hingga pada suatu saat dia merasa jika kedua orang tuanya lebih perhatian kepada perempuan yang sering dia panggil ‘Benalu’ itu. Tak lama kemudian ia pun meletakkan cincin itu di atas nakas dan beranjak dari ranjang untuk menuju ke kamar mandi. Dia harus segera membersihkan diri agar merasa lebih segar. Pria itu berharap otaknya bisa dia buat untuk berpikir dengan jernih setelah dia mandi. “Kenapa kamu menyerah secepat ini?” tanyanya pada diri sendiri di bawah guyuran air shower. Pria itu tampak sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tidak menghiraukan adanya pesan masuk dari perempuan yang menjadi kekasihnya. Seharusnya dia senang dengan kepergian Ara karena bisa lebih leluasa dan bahkan bisa menikahi Dita, kekasihnya. Tak sampai tiga puluh menit Bima pun sudah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi. Setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, pria itu kembali merebahkan diri di atas ranjang. Tak lupa cincin pernikahan milik Ara dia pandangi kembali. Ingin mengakhiri ikatan suci ini tapi hati kecilnya melarang. Ingin berhenti menyakiti tapi hatinya juga telah dibutakan oleh dendam. Setitik penyesalan yang menghinggapi hatinya nyatanya tak mampu untuk melenyapkan rasa bencinya pada perempuan yang bernama Tara Lalitha Prakasa. “Heh … mari kita lihat berapa hari kamu akan bertahan di luar sana karena aku yakin kau nggak akan bisa hidup selain di bawah ketiak mamaku. Dasar Benalu menyusahkan!” monolog Bima yang kemudian mencengkeram erat cincin itu. Bima sangat membenci Ara. Ya … laki-laki itu sangat mencintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN