Berbeda dengan Bima. Hari ini Ara tampak bersemangat untuk bekerja. Baginya ini adalah awal yang baru dan berharap akan lebih baik dari sebelumnya.
Mulai sekarang Ara tidak perlu lagi berada di toilet kantor dalam durasi waktu yang lama hanya demi menumpahkan segala rasa sakit melalui air mata ketika sedang bekerja.
“Sekarang nggak akan ada lagi air mata, semuanya pasti akan baik-baik saja karena ini yang dia inginkan.”
Bagi perempuan bersurai panjang itu kemarin adalah akhir dari segalanya. Untuk apa dia terus bertahan jika tidak bahagia, menurutnya. Meskipun dia harus membayar hutang budi orang tua angkatnya, tapi dia juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Apalagi jika mengingat kedua orang tua kandungnya sudah meninggal, membuat perempuan itu semakin mengasihani dirinya sendiri.
“Semua akan baik-baik aja!”
Ara pun menekan handel pintu apartemen. Kemudian perempuan itu pun mengayunkan kakinya ke arah pintu lift untuk turun menuju lobi. Blazer warna burgundy yang dipadukan dengan celana bahan warna krem tua sangat kontras dengan kulitnya yang seputih gading.
Perempuan cantik dan cerdas dengan penampilan nyaris sempurna itu sangat bertolak belakang dengan nasibnya. Kisah cinta yang sangat memilukan baginya.
“Pagi ini matahari terlihat sangat cerah,” gumam Ara sambil melihat sekilas ke arah langit yang terlihat berwarna biru cerah.
Mobil yang dikendarai wanita itu kini telah melaju membelah jalanan ibu kota yang terlihat mulai padat. Melewati gedung-gedung yang menjulang tinggi di kedua sisi jalan. Sementara pepohonan tampak semakin tersisihkan seolah tak memiliki peran penting bagi lingkungan.
Padahal tumbuhan-tumbuhan itulah yang memiliki peran penting bagi kehidupan yang sehat. Pada dasarnya manusia memang memiliki rasa yang tak pernah puas. Menebang pohon untuk digantikan bangunan-bangunan megah demi mendapatkan sebuah pengakuan dan materi.
Apa yang bisa Ara lakukan? Nasib rumah tangganya saja jauh lebih mengerikan ketimbang pohon-pohon yang mulai tersisihkan itu. Dia juga disisihkan oleh suaminya sendiri. Pria yang tidak pernah mengharapkan kehadirannya. Jangankan mengharapkan kehadirannya, melihatnya saja sepertinya pria itu tidak sudi.
Setelah hampir tiga puluh menit Ara berkendara. Mobil berjenis SUV miliknya pun mulai memasuki area kantor. Dia pun mulai mengurangi kecepatannya dan menuju area parkir yang telah disediakan.
Setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna, Ara pun bergegas keluar setelah mematikan mesin mobil terlebih dahulu.
“Aku pasti bisa menghadapinya. Aku pasti bisa!”
Setelah memberikan semangat untuk dirinya sendiri, perempuan berparas cantik itu pun berjalan untuk menuju ruangannya. Surai panjangnya yang sengaja dikuncir sesekali tampak ikut bergerak saat dia berjalan dengan langkah elegan bersamaan dengan ketukan high heels yang begitu kentara.
“Selamat pagi, Bu Ara!”
Para karyawan yang berpapasan dengannya pun menyapa sambil menundukkan kepalanya dengan hormat dan dibalas dengan senyum ramah oleh perempuan bermanik mata indah tersebut. Ara tak pernah haus akan rasa hormat ataupun sanjungan.
Namun, semua karyawan tahu jika perempuan itu adalah istri sah CEO mereka. Jadi bagi mereka semua sangatlah wajar jika menghormatinya, meskipun suaminya sendiri tidak pernah menghormati keberadaan perempuan itu.
“Huft … sepertinya hari ini aku akan sangat sibuk sekali,” ucap Ara pada dirinya sendiri sambil mendaratkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.
Setelah meletakkan tasnya di lemari yang ada di meja kerjanya, kemudian perempuan itu pun menghembuskan napas panjangnya.
“Baiklah. Mari bekerja, Ara. Semangat!”
Akhir bulan memang sangat melelahkan bagi semua manajer yang bekerja di perusahaan itu. Mereka harus memeriksa laporan dengan teliti sebelum menyerahkan ke CEO mereka.
Semuanya harus dapat mempertanggungjawabkan setiap laporan yang dia sajikan dengan benar. Oleh karena itu, kenapa membuat laporan tidak boleh dengan asal-asalan karena harus sesuai dasar yang melandasinya.
***
Waktu pun berlalu begitu cepat. Jam menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Namun, mata Bima masih sibuk memandang ruangan yang terletak tepat di depan ruangannya. Wajahnya tampak tidak seperti biasanya. Ya … wajah tampan itu terlihat lebih kusut dari sebelumnya.
Sang raja tampak beberapa kali menghembuskan napas panjangnya seperti ada sebuah beban yang sedang menghimpitnya. Karena rasa penasaran yang sudah tidak bisa ditahan lagi, membuat dia segera meraih telepon yang ada di sisi kirinya.
“Ke mana manajer bagian design? Kenapa ruangannya kosong?” tanya Bima tanpa basa basi pada seseorang di seberang telepon.
Detik kemudian ia pun tampak mengerutkan dahinya ketika mendengar jawaban dari manajer HRD. Ya … pria itu memang sengaja menghubungi kepala bagian personalia untuk mencari tahu.
“Apa? Dipindahkan? Ke lantai berapa? Siapa yang berani melakukannya tanpa perintah dariku?” tanya Bima bertubi-tubi.
Bahkan, nada suara pria itu terdengar lebih tinggi dari sebelumnya. Emosinya langsung terpancing karena ada yang berani memindahkan ruangan Ara tanpa perintah darinya.
Kemudian pria itu pun meletakkan gagang telepon dengan kasar. Saat ini dia benar-benar marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Hampir saja alat komunikasi itu mendarat di lantai akibat hantaman yang begitu keras. Seiring dengan itu, tangan Bima merasakan perih, juga … hatinya.
“Mama? Ini gila. Kenapa Mama melakukan semua ini? Bukankah Mama sendiri yang menempatkan Ara di ruangan itu?” gumam laki-laki itu tidak percaya.
Sejak semalam banyak pertanyaan yang membebani pikirannya. Bukan hanya permintaan cerai Ara, tapi persetujuan dari sang mama. Padahal dulu mama dan papanya yang memaksanya untuk menikahi perempuan itu.
“Dasar wanita miskin selalu saja menyebalkan!”
Hati kecilnya merasa ada yang hilang, tapi Bima buru-buru menepisnya. Baginya wanita miskin itu adalah benalu yang mengambil posisinya sebagai anak tunggal di dalam keluarga Pangestu.
Laki-laki berbola mata layaknya elang itu sangat membenci Ara semenjak pertama kali gadis itu menginjakkan kaki di rumah megahnya. Kebencian yang kian hari kian bertambah, membuat Bima merencanakan sesuatu untuk membalas wanita itu.
Bima dengan segala pesonanya, mampu membuat siapa pun bertekuk lutut. Bahkan, mereka akan suka rela melemparkan tubuh moleknya. Tak terkecuali Tara Lalitha Perkasa. Meskipun Ara tidak bertidak murahan seperti wanita-wanita di luaran sana, tapi hatinya telah terpenjara oleh perhatian dan cinta palsu dari suaminya sendiri.
Ara, gadis polos, tapi cerdas. Namun, terlalu lugu untuk menilai sandiwara yang Bima perankan dengan sangat sempurna. Rasa sakit yang sudah mulai terbiasa di setiap hembusan napasnya, demi sebuah keajaiban yang menjadi permohonan di kala malam. Ditemani air mata dan juga jeritan pilu kala wanita cantik dengan segala kelembutannya itu tak mampu lagi menahan kesakitannya.
Lama sekali dia bertahan. Berjalan di atas duri-duri tajam dengan kaki telanjang. Kemarin dadanya sudah terlalu sesak. Muatan untuk luka sudah melebihi batasannya, meskipun hati kecilnya selalu berbisik, bahwa Tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuannya.
Ara hanyalah manusia biasa. Ada kalanya rasa lelah menghasutnya untuk menyerah saja. Kesabaran perempuan itu sudah sampai pada titik puncak dan tak perlu lagi bertahan jika tidak bahagia.
Ya … Bima kini telah terbebas dari wanita benalu yang menurutnya sudah menghancurkan hidupnya. Seharusnya dia senang karena semuanya berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Namun, nyatanya tidak demikian.
“Lancang sekali wanita itu pergi tanpa seizinku!” geram sang CEO.
Suasana hatinya tiba-tiba saja memburuk dan dia sudah tidak bersemangat lagi untuk bekerja. Pria berbadan tegap itu malah termangu sambil menatap cincin yang baru saja diambil dari saku celananya. Ya … saat ini yang ada di dalam pikirannya hanya Ara seorang.
“Ck … aku membencinya! Tapi kenapa perasaanku harus kacau karenanya? Aarrgg …!”
Entah apa yang merasuki pria itu, sampai-sampai dia membawa cincin pernikahan milik Ara ke mana-mana. Padahal dulu untuk memasangkan ke jemari lentik itu pun dia merasa enggan. Tangan perempuan itu seperti sangat menjijikkan untuk disentuh olehnya.
“Aku benci! Aku benci dia! Dasar wanita pembawa sial, enyahlah dari pikiranku!” desis Bima sambil menyugar rambutnya dengan frustasi.
Apakah secepat ini hukum alam beraksi?
Dia masih belum selesai membalas perbuatan Ara, tapi kenapa perempuan itu sudah ingin pergi darinya? Bima pun kembali meraih gagang telepon sambil matanya menatap nyalang ke arah ruangan yang berada di seberang sana.
“Suruh manajer design ke ruanganku sekarang!”