Malam sudah jauh lewat ketika mobil Greyson memasuki gerbang mansion. Udara dingin menusuk, dan hanya lampu-lampu taman yang menyala remang, menambah kesan sunyi rumah besar itu. Greyson tidak masuk ke kamarnya, tidak juga ke ruang kontrol lagi. Langkah kakinya langsung mengarah ke sayap timur. Ke kamar di mana Ruby berada. Koridor itu selalu sunyi. Pelan, Greyson memutar kenop pintu besi yang sudah dimodifikasi agar tampak seperti pintu kamar biasa—padahal sistem pengamannya jauh lebih kuat dari sekadar kamar. Pintu terbuka. Ruangan itu terang, bersih, luas. Bukan sel penjara. Bahkan tempat tidur besar dengan sprei putih bersih tidak mencerminkan kata “tawanan”. Tetapi kesunyian di dalamnya mematikan, menyakitkan—dan itu justru membuat Ruby tampak jauh lebih rapuh. Ruby duduk di ten

