Muhammad ali syarief
Hari ini adalah hari kedua aku dan prilly mengikuti foto shoot. Entah kenapa, jantungku selalu berdetak tak karuan jika sudah melihat wajahnya.
Aku berusaha menyembunyikannya, aku juga suka jika melihat raut wajahnya berubah jika sudah kugoda.
Kadang aku juga berfikir kenapa aku jadi lelaki penggoda seperti ini. Perlahan aku mulai tahu perilakunya. Kebiasaan dia dan juga sikap aslinya.
"Maaf pak ali,, sepertinya akhir-akhir ini anda terlihat berbeda sekali.
Aku terkejut dengan pertanyaan rosa. Kapan datangnya tahu-tahu sudah ada dibelakangku.
"Aneh bagaimana maksud kamu rosa,??
"Kenapa pak ali mau terjun langsung untuk foto shoot ini. Bukankah kita bisa mencarikan lelaki lain.
"Jangan... eehm maksud saya tidak usah. Aku hanya ingin mencoba saja bagaimana menjadi model di perusahaanku sendiri". Jawabku meyakinkan.
Aku hanya tak mau, jika ada lelaki lain yang dipasangkan dengan prilly.
"Ekhemm....
Aku menoleh kebelakang. Betapa cantiknya wanita ini. Subhanallah, aku yakin pilihanku kali ini tak akan salah.
"Bagus, cantik sekali bajunya kamu pakai.
"Maaf ali, aku seorang model tentu saja cocok jika diberi pakaian apapun. Jawabnya sedikit sombong.
"Tapi aku lebih suka jika lebih cocok berhijab, dibandingkan dengan pakaian minim rok pendek dan blouse yang menerawang.
Dia terdiam mendengarkan jawabanku. Dia memandangiku lekat-lekat.
"Silahkan pak fotonya sudah bisa dimulai.
Pandanganku terputus kala rosa memanggilku. Aku dan prilly pun diarahkan untuk gayanya, memang aku bukan seorang model tapi untuk sekedar foto buat majalah saja tak masalah.
Karena kita bukan muhrim dan gambarnya pun untuk majalah muslimah. Aku beradegan tak saling sentuh. Hanya foto bersama dan yaaa sedikit romantis untuk versiku. Dia terlihat canggung, tapi karena profesional dia pun menuruti saja.
"Sepertinya kamu berbakat soal foto ?? Mantan model ?. tanyanya padaku saat kami masih berdua.
"Menjadi model bukanlah jalanku. Hanya tau saja. jawabku singkat.
"Iyaa,, seorang model bukanlah jalan yang baik. Jawabnya sedikit menunduk.
Aku merasa ada sesuatu yang salah dengan ucapanku.
"Ooh bukan begitu,, aku seorang lelaki yang bergelut di dunia fashion. Tapi untuk berfoto dengan non muhrim aku tak pernah terbiasa". Jawabku dengan hati-hati. Aku takut dia akan tersinggung.
"Tidak pernah berfoto dengan non muhrim tapi berpacaran. Jawabnya acuh.
"Hahahha... aku tak pernah berpacaran. Mungkin jika kamu mau aku akan mencoba. Dan bisa ku pastikan akan segera ku nikahi". Jawabku mantap.
Dia menoleh tajam kearahku. Sepertinya ucapanku membuat dia gelagapan. Dia menjadi salah tingkah.
"Lalu kamu fikir menikah itu hanya dari ucapan.
"Lalu kamu mau aku ngapain,,???
Kutantang dia, kita lihat dia akan menjawab apa. Lucu sekali melihat wajahnya yang berubah seketika.
"Ahh... sebaiknya kita bersiap. Sepertinya akan dimulai.
Dia mengalihkan pembicaraan.
"I see... anggap saja ini awal dari pernikahan kita. Tak perlu pre wedding kalo begini.
"Astagfirullah.. sepertinya anda telah meminum obat PD terlalu banyak.
Dia berlalu meninggalkan ku yang terkekeh mendengar jawabannya. Aku semakin suka padanya.
Setelah selesai melakukan sesi foto shoot, kita pun berkumpul untuk melihat hasilnya. Ya untuk pemula sepertinya aku sangat ahli. Banyak sekali yang memujiku, tapi aku tak mau jika harus berfoto dengan wanita lain selain prilly.
"Baiklah,, terima kasih prilly dan ayla. Senang bisa bekerja sama dengan kalian. Nanti akan saya kabari kapan terbitnya. Dan semoga kita bisa bekerja sama lagi.
"Ooh tentu saja pak ali. Kami juga sangat senang bisa bekerja sama dengan anda. Selain tampan anda juga sangat baik hati. Iya kan prilly..
Ayla menyenggol lengan prilly hingga membuatnya terkejut.
"Hah.. iya. Baik hati. Terima kasih ali. Aku harus pamit pulang dulu.
"Ooh iya silahkan. Jawabku dengan senyum terbaikku tentunya.
Dia pun berlalu dengan ayla dibelakangnya.
Aku pun segera berpamitan dengan rosa sekretaris ku.Ingin ku segera pulang ke rumah. Rasanya badanku sangat pegal sekali.
Ku lajukan mobilku dengan kecepatan sedang.
Sepertinya dirumahku sedang ada tamu. Tapi siapa yang bertamu sore-sore begini.
Ku tutup pintu mobilku dan aku pun melangkah setelah bunyi bip terdengar dari mobilku. Sepertinya hari ini aku sedang tak ada janji dengan siapapun. Apakah mama yang sedang ada tamu.
"Assalamuallaikum....
Ku langkahkan kakiku kedalam. Aku mendengar ada suara lelaki. Mama kenapa bisa ada tamu lelaki diajak kedalam rumah. Aku tak bisa melihat siapa orang ini, tapi syukurlah tamunya adalah suami istri sepertinya.
"Mama... ali pulang. Ucapku kepada mama dan mencium tangannya seraya mendunduk.
"Ali,, ini pak hendrawan dan istrinya. Ayo salami dulu nak.
Waahh ada apa ini kenapa pak hendrawan datang kemari.
"Ternyata tampan juga anak kamu mira,, aku tak pernah melihatnya. Terakhir saat dia akan berangkat kuliah di ausi. Ucap istri dari pak hendrawan yang kutahu bernama tante sofie.
"Iya lah,, anak siapa tidak tampan. Tapi tampan-tampan begini dia masih saja jomblo.
"Mama... kusenggol lengannya. Mama ku ini kelewat jujur.
Mereka malah tertawa, memang apanya yang lucu.
"Lalu apa alasan lelaki tampan seperti kamu tidak mempunyai pasangan ?? Kali ini pak hendrawan yang bertanya.
"Ali hanya ingin satu untuk selamanya. Jadi ali tidak mau membuang waktu hanya untuk berpacaran. Jawabku mantap. Kulihat semuanya terdiam.
"Jawaban yang sangat bagus. Tidak salah memang jika kamu menjadi idola dari tante sofie.
Aku mengangkat alisku. Idola maksutnya apa. Aku hanya bertemu dengan pak hendrawan saat di masjid. Dan dengan tante sofie saat ada arisan bersama mama saja.
"Mangkannya papa. Mama itu sangat kagum dengan dia. Anak kamu memang lelaki yang baik mira.
"Tentu saja. Ini semua juga didikan dari suami.
Aku mulai tak mengerti arah pembicaraan mereka. Tapi aku masih menghargai walaupun aku sudah sangat capek.
Aku memilih berbicara dengan pak hendrawan. Kita bertukar fikiran tentang dunia bisnis dan politik. Aku sungguh sangat kagum dengannya, beliau memang pejabat daerah yang sangat baik. Tak salah memang jika beliau banyak sekali yang mengidolakan.
Aku juga menjelaskan baksos dua hari yang lalu. Secara aku adalah ketua panitianya. Rencanya beliau akan mengadakan lagi, dan beliau juga yang akan turun langsung diacara tersebut.
Aku tak terkejut, karena aku juga sudah beberapa kali bertemu dengan beliau saat acara di masjid. Dan satu hal yang aku tahu ternyata papa dan pak hendrawan adalah sahabat sejak kecil. Dulu sebenarnya ini belum menjadi perumahan yang elite seperti sekarang.
Mereka ternyata tinggal dikampung belakang. Hingga besar dan menjadi sukses mereka tetap tak ingin jauh dari asal tempat tinggal mereka. Sungguh persahabatan yang baik. Tapi papaku harus pergi dulu menghadap sang pencipta.
Aku jadi teringat, pantas saja saat papa meninggal. Beliau langsung yang mengurusi segala keperluannya. Saat itu aku masih SMA kelas 3, jadi aku tak terlalu paham. Yang aku tahu hanya membantu pekerjaan papa dan sekolah.
"Kalo begitu, kita pamit dulu. Terima kasih untuk jamuannya. Ucap pak hendrawan. Aku dan mama pun mengangguk.
"Mira aku pamit dulu ya, kasihan princessku nanti sendirian. Sepertinya dia sudah pulang. Mama dan tante sofie berpelukan seperti teletubies yang hendak berpisah.
Aku mengangguk dan tersenyum kala mobil mereka keluar dari halaman rumahku. Tapi aku baru tersadar, jika pak hendrawan adalah orang tua prilly. Berarti yang tadi kesini adalah orang tua prilly.
Masha allah, kenapa aku tak kefikiran untuk bertanya soal prilly.
Ali apa yang sedang ada dalam fikiranmu. Huh kenapa aku jadi lupa begini.
Tapi yasudahlah, setidaknya awal yang baik untuk bersilaturahmi dengan keluarganya.
"Ali ayo masuk !! kenapa jadi senyum-senyum sendiri didepan pintu. Teriak mama yang kulihat sudah ada didalam.
Aku pun mengikutinya, tampaknya mama akan bisa membantuku. Sebaiknya aku mandi dulu dan berganti pakaian. Jika tidak akan terlambat untuk sholat berjamaah di masjid.
Bertanya kepada mama nanti saja setelah semuanya lebih baik.
?????????