Aisyah prillyana safitri
Aku mendengar adzan shubuh saat tubuhku menggeliat karena kedinginan. Aku tahu saatnya sholat shubuh telah dilaksanakan. Aku bersyukur setidaknya allah selalu memberikanku jalan ketika hatiku sudah mulai tersesat.
Istimewa bukan, jika kita bangun saat mendengar suara adzan. Dan aku pun tahu, pasti masih banyak juga yang mata dan telinganya seakan tertutup untuk sekedar mendengar suara adzan. Nauzdubillah semoga aku dijauhkan dari sifat seperti itu.
Segera kuberjalan menuju kamar mandi, kubersihkan diriku dan bergegas untuk wudhu. Hari ini aku akan ke masjid karena jadwal untuk pengajian hari minggu. Rasanya aku ingin menghabis kan waktu minggu dengan mengaji.
Setelah berganti pakaian dan mengenakan mukenah favorite ku, aku pun berjalan menuju masjid dibelakang kampung. Jaraknya tak jauh hanya 200 meter dari rumahku. Kupercepat langkahku saat aku merasa ada yang mengikutiku. Hatiku benar-benar berdebar. Mungkinkah pagi begini ada hantu. Astagfirullohaladzim, kenapa aku jadi berfikiran buruk seperti ini.
"Allahu akbar, allahu akbar...!!!
Hah suara iqomah sudah kudengar. Aku bergegas menuju masjid. Kalo tidak aku pasti akan tertinggal shalat.
Lucu sekali jika shalat dua rakaat aku malah tertinggal. Tapi tunggu, siapa dia. Siapa yang berjalan cepat kearah seberangku. Sepertinya dia dari belakangku, jangan-jangan dia yang ada dibelakangku tadi. Dasar cowo tengil, dia pasti sengaja mengerjaiku.
"Assalamuallaikum warohmatulloh.. assalamuallaikum warohmatulloh
Aku bersholawat ketika sholat telah usai. Sambil mengikuti imam untuk ikut membaca surat al ikhlas dan membaca doa-doa setelah sholat. Mataku memicing kedepan melihat lelaki yang membuat ku selalu beristighfar. Lelaki yang selalu membuat jantungku berdetak cepat.
Jangan tanya kenapa aku bisa melihatnya, karena saat sholat shubuh jarak antara lelaki dan perempuan hanya dipisahkan dengan kain yang terbentang ditengah2. Itupun tak penuh hanya setengah saja, jadi aku masih bisa melihat beberapa orang yang mengikuti sholat jamaah disini.
Hanya segelintir orang saja yang mau berjamaah, selebihnya aku tak tahu. Mama dan papa ku lebih memilih berada di masjid rumah. Walaupun kadang jika weekend mereka pun mengikuti ku berjamaah dimasjid kampung.
Dan kini tiba saatnya pengajian dimulai. Kain yang sengaja dipasang tadi kini tengah dilepas oleh udin. Remaja masjid disini. Dia tersenyum kearahku, aku pun membalas senyumannya. Tapi saat aku melihat wajah udin berubah kikuk setelah berbalik aku pun mengikuti arah pandangnya. Aku melihat ali sedang menatapnya sebal, kenapa dia.
Aku sedikit tersenyum kala udin mengangkat tangan kanannya membentuk huruf v kepada ali.
Aku terkejut saat mata hitam lekatnya melihatku. Sedikit ku geser dudukku agar tak kelihatan salah tingkah. Aku pun memalingkan wajahku menghadap kyai annas yang tengah berbicara. Hah gegara ali aku jadi tak tahu topik apa yang akan dibahas hari ini.
Aku mendengarkan dengan serius saat kyai annas berbicara tentang pekerjaan yang halal yang diperbolehkan oleh islam.
Sepertinya aku tak suka dengan topik ini. Ada sedikit kekecewaan yang aku rasakan, pekerjaan ku memang mewah bila dilihat dari uang. Tapi tentu menakutkan jika dilihat dari pandangan islam. Tapi syukurlah kini aku sudah membuat pekerjaanku menjadi lebih baik lagi.
Pertama, dengan aku menggunakan hijab. Aku pasti lebih bisa memilih peran apa saja yang bisa aku terima. dan kedua aku bisa menjadi motivasi bagi fans ku untuk tetap menjadi wanita yang baik.
Jika aku menjadi model pun hanya model majalah saja yang aku ambil, karena yang aku tahu pantang bagi kaum wanita untuk lenggak lenggok mempertontonkan tubuhnya dihadapan orang lain. Sekalipun memakai baju yang sopan. Dan benar dugaanku kyai annas pun berkata demikian.
Aku semakin menunduk kala kyai berucap jika kamu memilih pekerjaan hanya karena penghasilannya sebaiknya lupakanlah jika itu barokah. Pekerjaan yang barokah adalah pekerjaan yang kita jalani dengan ikhlas hati yang tulus dan usaha yang maksimal. Untuk penghasilan besar itu hanya bonus dari allah.
Alhamdulillah aku bersyukur aku masih bisa berubah, saat aku sudah menyerah dengan keadaan. Allah menolongku dan membawaku ke tanah suci, dimana semua orang akan mendapat balasan jika menginjak kan kaki disana.
Saat aku mulai jenuh dengan pekerjaanku, dan aku mulai bosan dengan kekasihku yang selalu protekftif padaku. Menyuruhku menjadi orang lain. Saat itu juga aku merasa putus asa dan jenuh.
Tapi semua itu seakan menguap saat aku diajak kak bella untuk mengikuti ibadah umroh ditanah suci. Disana aku tahu arti berhijab arti menutup aurat dan arti dari kehidupan yang tak akak kekal disini.
Aku mengangkat tangan kananku saat kyai membuka pertanyaan bagi jamaah. Hatiku bergetar, semua orang menatapku. Aku tak tahu tatapan apa yang mereka berikan. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Baik, mba prilly silahkan. Apakah ada yang ingin anda tanyakan.
Aku mengangguk ragu, kulihat ali memandangku dengan tatapan tajamnya. Kutelan salivahku pelan.
"Apakah bekerja sebagai seorang artis adalah dosa besar kyai. Tanyaku yang membuat semua menatapku tajam seakan ingin mengulitiku.
"Yang bisa menyebut dosa dan pahala hanyalah malaikat yang mencatat semua amal perbuatan kita. Kita tidak bisa memilih kita menjadi apa dan hidup bagaimana. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah menjalankan dengan sebaik-baiknya sesuai perintah dan larangan dari Allah SWT. Jawab kyai annas tegas padaku.
Aku mengehela nafas sejenak. Semoga amal dan ibadahku bisa diterima. Walaaupun aku bukanlah manusia yang sempurna.
Akhirnya pengajian hari ini pun diakhiri. Setelah berdoa aku segera melipat alat sholatku. Saat aku berdiri aku merasa ada yang memegang pundakku. Kubalikkan badanku kebelakang.
"Bisa gak sih kamu gak nyentuh aku sesuka hati kamu. Sentakku kepada lelaki yang seenaknya memegang pundakku.
Dia tersenyum sangat manis, dia terlihat salah tingkah. Ya allah rapikanlah hatiku ini.
"Kenapa kamu bertanya seakan-akan kamu berdosa jika bekerja sebagai artis. Tanyanya padaku. Aku meangangkat alisku, sepertinya kadar keponya sangat akut.
"Kenapa jadi kamu yang memikirkan pertanyaanku. Kulihat dia salah tingkah, dia hanya menyunggingkan senyum dan menggaruk tengkuknya.
"Aku hanya ingin tahu. Bukankah pekerjaan apapun halal asalkan kita gak melanggar perintah yang ada. Jadi kenapa kamu merasa seakan kamu malu menjadi seorang artis.
Nih orang lupa apa hilang ingatan. Dia sendiri yang berucap jika aku adalah wanita sok baik.
"Bukankah kamu sendiri yang dulu menghinaku. Kamu bilang aku wanita sok suci dan sok baik. Kenapa sekarang kamu yang merasa tak terima jika aku berucap seperti itu.
Dia tergagap, hanya mata hitamnya yang menatapku intens.
"Astagfirullohaladzim. Bisa zina mata aku jadinya.
"Jika kamu menjadi istriku kelak, aku pastikan kamu tak akan bekerja diluar. Apalagi pekerjaan yang membuatmu tak nyaman.
Aku menatapnya tajam. Kenapa dia sering berbicara pernikahan.
"Siapa juga yang akan menjadi istrimu. Kamu terlalu pede ali.
"Kita lihat saja nanti.. jawabnya lalu melenggang pergi.
Ingin sekali kuraup mukanya. Dia berbicara seenaknya sendiri. Hah apa dia salah meminum obat atau apa sih.
Ku langkahkan kakiku keluar masjid. Aku terkejut melihat dia sedang memegang tubuh seorang wanita yang hampir terjatuh. Kenapa dadaku rasanya sesak sekali. Aku rasa, aku tak memiliki penyakit asma.
Wanita itu memandang ali dengan intens. Ada rasa tak terima saat dia memberikan senyumannya pada wanita didepannya.
Siapa wanita itu, kenapa dia seolah-olah ingin mendekati ali. Ya allah, kenapa aku jadi memikirkan ali. Aku tak berhak ikut campur karena aku bukan siapa-siapa. Ali melihat aku yang sedang memperhatikannya. Dia melepaskan genggaman tangannya dari wanita itu. Ada rasa kecewa pada raut wajah wanita itu saat ali melepaskannya.
Aku tak mau berlama-lama disini. Aku berjalan mendahului mereka. Entah mengapa aku hanya ingin cepat sampai dirumah. Baru saja dia bilang menikahiku tetapi nyatanya dia malah berdua dengan wanita lain.
Hah!! astagfirullah haladzim. Kenapa aku jadi seperti ini. Kuelus dadaku pelan. Ya allah maafkanlah aku, aku tak bermaksud seperti ini.
"Tenang saja dia adalah temanku. Aku terkejut ali sudah ada dibelakangku. Jaraknya tak jauh denganku hingga aku mendengar ucapannya.
"Memangnya kenapa jika dia temanmu. Apa ada hubungannya denganku. Jawabku ketus.
"Kamu cemburu prilly. Jadi sebelum kamu salah paham,aku jelaskan lebih dahulu. Jawabnya enteng.
Aku cemburu, masak iya aku cemburu. Dia terlalu pede rupanya.
Aku terkekeh mendengar pernyataanya. "Memangnya punya hak apa aku cemburu sama kamu.
"Karena kamu calon istrinya...!!!
Deg...
Suara seseorang yang sangat aku kenal. Calon istri, siapa calon istrinya. Tubuhku menegang seketika....
?????????