Aisyah prillyana safitri
Pagi ini ali akan menjemputku, aku sedang menunggunya di ruang tamu. Karena ali tak mau kuajak sarapan jadi tadi aku sarapan duluan. Semoga tak ada pemberitaan yang aneh karena aku dijemput oleh ali seorang pemilik perusahaan cloting baju.
Pertama aku tak yakin jika seorang seperti ali, lelaki tampan nan bergaya sok cool memiliki perusahaan dibidang seperti ini. Walaupun dia tidak merancang sendiri bajunya tetapi dia tetap memberikan kontribusi yang besar soal baju yang akan dijualnya. Dan yang dia pilih adalah baju muslim, semua nya bermodel muslim dari lelaki yang memakai gamis baju koko dan celana pun dia buat yang sesuai standart kiblat fashion kita yaitu islam. Mangkannya aku tak heran jika banyak artis lelaki yang fashionnya muslim membeli di butik-butik yang ali buka.
Aku juga tak tahu seberapa besar perusahaannya dan seberapa kaya orang ini. Tapi sifat dan kebribadiannya yang sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang bergelimang harta tak menunjukkan itu. Dia sangat baik bahkan aku belum banyak mengetahui seluruhnya. Itulah yang akhirnya membuatku memutuskan untuk menerimanya.
Saat aku tahu dia menghitbahku, aku sangat terkejut. Awalnya aku ragu karena aku sadar siapa aku saat ini. Perubahanku yang baru sebulan membuatku ragu, bilang saja aku minder memang benar. Walaupun aku seorang artis tapi hatiku adalah manusia biasa. Dia begitu berbeda, seandainya dia tahu masa lalu aku yang dulu seorang artis tak berhijab dan pergaulanku sangatlah jauh dari ajaran agamaku.
Sejak saat itu dia menghilang dariku seminggu, aku tak berjumpa dengannya bahkan di masjid pun aku tak melihatnya. Aku berfikir jika dia hanya mempermainkanku saja. Mungkin lebih tepatnya kasihan padaku, mangkannya di menghindar dariku. Tapi saat aku bertemu dengannya saat meeting aku menjadi tahu alasannya. Dia berfikir jika aku menolaknya. Mana mungkin aku menolak imam yang sangat sempurna untukku.
Aku pun tak berharap terlalu banyak kepadaku, terlebih tatapan tajam para wanita yang sangat menyukainya. Seperti rossa sekretarisnya, dia terlihat begitu menyukai ali. Hah prilly sepertinya kamu harus menebalkan telinga dan hatimu.
Tin..tin...tin.
"Assalamuallaikum.. sudah siap kah nona..??
Astagfirulloh,, ya allah rapikanlah hatiku. Kenapa gak bisa diam sih jantungku.
"Kenapa malah ngelus d**a. Di salamin juga. Ucapnya kesal saat aku tak menjawab salamnya.
"Iya waallaikumsallam. Aku hanya kaget mas.
"Sepertinya aku membuatmu terkejut. Yasudah mari kita berangkat. Tapi om hendrawan..
"Ahh.. papa sama mama udah berangkat. Hari ini ada kunjungan di pasar tradisional. Jadi pagi-pagi sudah berangkat.
Jawabku yang melihat dia celingak celinguk mencari orang tuaku.
"Oke.. ayo kita berangkat. Pasti akan macet.
Dia mempersilahkan aku masuk setelah membukakan pintu mobilnya. So sweet sekali bukan, yaa this is ali calon suamiku.
"Eehh mau apa,,?? Tanyaku saat dia mendekat kearahku.
"Hahah tenanglah aku hanya ingin memasangkan salbet mu.
Dia terkekeh geli melihatku.
Mataku mengikuti arah tangannya, dia memasangkan salbelt padaku.
"Memangnya aku anak kecil, aku bisa memasangnya sendiri. Dengusku sebal. Aku hanya tak ingin dia mendengar detak jantungku.
"Aku tahu, tapi itulah yang biasa aku lakukan pada mama.
"Dan pada wanita-wanita yang lain. Potongku cepat.
"Bukankah aku pernah bilang jika aku tak pernah semobil dengan wanita bukan muhrimku.
Deg..
Ya allah,, hatiku semakin diremas mendengar jawabannya. Seperti inikah calon suamiku. Sungguh aku tak menyesal telah memilihnya. Dia begitu baik dan sangat sopan. Dan bagaimana bisa aku tak jatuh cinta padanya.
"Kok malah diam,,??? Terpesona heh. Godanya yang membuat pipiku merah.
"May be...!!!
"Hahaha yes i know it.
Menyebalkan kenapa juga dia mengetahuinya.
"Kamu ahli juga dalam berbahasa arab,,?? Tanyaku agar kita tak canggung dalam mobil.
"Bukan ahli, aku hanya bisa saja. Ilmu yang aku pelajari saat mengaji. Kenapa,,???
"Aah, tidak. Aku ingin belajar lebih dalam. Boleh ikut mengaji atau mungkin aku...
"Aku yang akan mengajarimu semuanya. Apa yang kamu ingin pelajari tanyakan saja padaku. Insya allah aku akan membantumu.
"Sungguh mas ali,,?? Alhamdulillah.
Syukurlah akhirnya aku bisa mempelajari lebih dalam lagi soal agama.
"HAH... saat kamu memanggil mas ali rasanya berbeda sekali. Aku adalah calon suamimu tentunya kewajibanku mengajarimu.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Semoga ini adalah jawaban dari usahaku selama ini ya allah. Engkau mendengarnya dan mengabulkannyam bukan hanya soal hidayah tetapi jodoh. Sepertinya paket yang sangat lengkap.
"Yuk turun...
Aahh aku sampai tidak menyadari jika kita sudah sampai. Kenapa rasanya semua mata memandangku saat ali membukakan pintu mobilnya untukku.
"Assalamuallaikum pak ali. Selamat pagi. Sapa security pada ali. Waah pada sapaan pun mereka juga pakai islami. Apakah ini semua ali yang menyuruhnya.
"Waallaikumsallam. Selamat pagi juga pak.
"Mas, apakah kamu juga yang menyuruh mereka menyapa dengan salam. Tanyaku ingin tahu.
"Iya,, aku yang menyuruh dan mengajari mereka. Karena salam itu sangat penting.
Lihatlah semua mata memandang kearahku dan ali. Sepertinya mereka sedikit terkejut melihat aku datang bersama dengan bos tampan mereka. Banyak tatapan tak suka dari para karyawan wanitanya. Memangnya seburuk itukah aku.
Dug..
"Aww...
Sepertinya aku menabrak sesuatu.
"Kenapa kamu malah melamun.
Aku menatap kedepan, ternyata punggung ali yang aku tabrak.
"Tak apa, aku hanya sedikit risih dengan tatapan para karyawan kamu mas ali. Sepertinya.,
"Mereka hanya tak pernah melihat aku datang dengan seorang wanita selain mamaku. Dan sekarang mereka melihatnya. Sudahlah jangan terlalu difikirkan.
"Assalamuallaikum. Selamat pagi pak ali.
Aku dan ali menoleh kesamping Melihat siapa yang menyapanya. Ternyata rossa, sekretaris ali. Lihat saja dia juga sepertinya tak suka denganku. Menyapa ali dengan senyuman tapi denganku seperti dipaksakan. Astagfirulloh kenapa aku jadi berfikiran buruk terhadap orang lain.
"Kenapa prilly.. ??
"Aahh tidak ada apa-apa mas. Uhmm., pak ali maksut saya.
Jawabku gelagapan. Aku tak mau dikira lancang karena telah memanggilnya dengan mas.
"Panggilah sesukamu. Kenapa jadi salah tingkah begitu.
Aku hanya tersenyum membalas ucapannya. Mana mungkin bisa aku panggil begitu. Aku datang berdua saja sudah banyak yang tak terima.
"Baiklah pak ali, saya duluan karena saya mau make up terlebih dahulu. Pamitku padanya.
"Permisi rossa. Saya duluan ya..!! Dia hanya membalas dengan senyuman kecil.
Sabar prilly, tebalkan hatimu. Lebih baik cepat selesaikan pekerjaanmu lalu pergi dari sini. Bukankah hari ini tak ada jadwal lain.
Aku memilih ruangan khusus untuk make up, karena aku tak mau ada orang yang melihat ku tak pakai jilbab. Penata make up ku juga wanita, jadi aku bisa tenang. Diluar juga aku meminta jangan asal masuk ruangan. Dan mereka semua pun mengerti dengan permintaanku.
"Sepertinya anda semakin dekat dengan pak ali.
Dari suaranya dan dari balik,kaca didepanku. Aku bisa melihat siapa yang tengah berbicara padaku. Senyum sinisnya bisa kulihat.
"Ahh, itu karena rumah kita dekat dan hari ini ayla sedang sakit. Jadi aku datang dengan pak ali.
"Tetapi pak ali tidak pernah datang bahkan semobil dengan wanita. Kamu membuatnya melanggar komitmennya sendiri.
"Astagfirulloh. Aku sama sekali tak bermaksut seperti itu. Jawabku masih tenang. Aku tak mau terpancing emosi dengan dia. Bagaimanapun disini banyak orang lain.
"Aku harap juga begitu. Semoga kamu bukanlah perusak. Karena artis yang gampang berubah wujud seperti kamu, tak pantas untuk mengharapkan seorang pangeran.
Aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya, tapi dari nada bicaranya dia sangat tidak suka denganku. Kenapa, apakah seburuk itu aku.
Blam..!!!
"Astagfirullohaladzim. Aku berjengkit kaget saat dia keluar dengan menutup pintu ruangan dengan keras.
"Yang sabar ya mba prilly. Orang itu memang seperti itu. Maklum selama ini pak ali memang tidak pernah ikut untuk foto acara seperti ini. Dan sekarang beliau sendiri yang turun tangan. Bahkan hari ini beliau juga datang dengan seorang wanita.
Aku terhenyak mendengar ucapan dari mbak rara penata make up disini. Betulkah seperti itu.
" memangnya selama ini pak ali tidak pernah seperti ini. Tanyaku penasaran.
"Betul mba.. beliau paling hanya memantau dan memutuskan. Tidak pernah ikut langsung. Karena baginya hal seperti ini bukan dunianya.
"Pak ali adalah lelaki yang sangat agamis. Semua harus sesuai syariat dari agama. Dari segi karyawan dan semua peraturan pun dia buat se islami mungkin.
Timpali meisya asisten penata bajuku.
"Begitu ya.. jadi benar jika dia juga tak pernah berpacaran.
Hahahah mereka semua tertawa mendengar pernyataanku. Memangnya apa yang lucu.
Setelah selesai make up, kini dilanjutkan sesi pemotretan.
Foto pertama kita berdua, aku dan ali. Kita terlihat seperti suami istri.
Foto kedua dengan isabella, anak berusia 5 tahun. Kita seperti keluarga yang harmonis. Walaupun aku sendiri belum menikah. Isabella pun sangat senang saat berfoto bersama denganku dan ali.
Setelah kurasa selesai, aku pun melihat ingin memastikan bahwa hasilnya tak terlalu buruk. Aku pun melihat hasil pemotretan saat aku foto sendiri.

Bajunya sangat bagus, rancangan yang indah. Aku sangat suka dengan rancangan ini. Bajunya pun tak kalah kemarin saat pemotretan pertama. Aku juga telah melihatnya di edisi majalah minggu lalu.

Dan inilah aku di edisi pertama. Kudengar banyak sekali yang suka. Terlebih melihat pasanganku juga.
"Cantik ya...!!! This maliki..
"Aah...
Aku menoleh kesamping sudah ada ali disampingku. Dia tersenyum menggodaku.
"Mas apaan sih.. yang cantik juga bajunya. Lihat saja semuanya indah.. jawabku malu-malu.
"Iya tentu saja...
"Iishh tangannya.., dengusku sebal saat dia mengelus pucuk kepalaku yang ditutupi oleh hijabku.
"Maaf.. yuk pulang udah selesai kan.
"Uhmm.. gak perlu mas. Aku bisa pulang sendiri. Kamu bisa meneruskan pekerjaan kamu. Elaku padanya. Aku tak mau semakin banyak yang memandang tak suka padaku.
"Kenapa,,??? Sepertinya dia tahu yang ku maksutkan. Dia melihat kesekeliling ruangan banyak sekali tatapan aneh dari para karyawannya.
"You know what i mean..?? Tanyaku lagi. Dia pun menganggukan kepala.
"Baiklah, kamu tunggu di mobil. Aku akan mengantarkan mu pulang. Karena kamu berangkat denganku pulang pun denganku juga.
Sepertinya ucapannya tak bisa di bantahkan. Aku harus mau menurutinya. Bagaimanapun aku juga harus cepat pulang.
Aku pun mengangguk mengerti. Kulangkahkan kaki ku pergi ke arah lobi kantor. Tak perduli dengan tatapan aneh para karyawannya. Sebaiknya mereka ini perlu di rukiyah biar tahu mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Penampilan sudah baik tetapi hati masih saja sakit.
?????????
Next.....,
Jangan lupa vote......